Justin yang sejak tadi duduk di tepian tempat tidur Vivian tersentak bangun begitu samar-samar mendengar suara gesekan pintu ruangan. Refleks, ia segera berdiri dan melangkah cepat menuju sofa yang berada tidak jauh dari tempat tidur, lalu menjatuhkan dirinya di sana seolah sejak awal memang duduk di posisi itu. Wajahnya kembali datar, sorot matanya dingin, menyembunyikan kekacauan perasaan yang sejak tadi bergejolak dalam dadanya.
Benar saja.
Beberapa detik kemudian, pintu ruangan terbuka perlahan. Sosok Adam muncul sambil membawa teko air penuh di tangannya, diikuti Linzy yang berjalan beberapa langkah di belakangnya. Langkah Linzy terlihat ragu, wajahnya pucat, dan matanya masih menyimpan jejak ketakutan serta rasa bersalah.
“Belum ada kemajuan dari Vivian?” tanya Adam sembari melangkah masuk, suaranya dibuat setenang mungkin.
Justin melirik sekilas ke arah tempat tidur tempat Vivian terbaring tak sadarkan diri, lalu kembali menatap lurus ke depan. “Entahlah,” jawabnya singkat, dingin, dan bohong. “Aku tidak memperhatikannya.”
Adam tidak menanggapi ucapan Justin. Ia meletakkan teko air di atas meja kecil, lalu melangkah mendekati tempat tidur Vivian. Tatapannya tertuju pada wajah pucat gadis itu. Perban putih yang melilit kepalanya terlihat kontras dengan kulitnya yang kini tampak jauh lebih rapuh dari biasanya.
Adam terdiam beberapa saat.
“Keadaannya masih sama,” gumam Adam lirih, entah ditujukan pada dirinya sendiri atau pada orang lain. Setelah itu, ia berbalik dan berjalan menuju sofa, duduk tepat di samping Justin.
Suasana ruangan mendadak hening. Hanya suara alat monitor medis yang berbunyi pelan menjadi latar dari ketegangan yang tak terucap.
Justin menatap Linzy yang duduk di sofa tunggal di hadapannya. Gadis itu tidak berani mengangkat kepala. Tangannya saling meremas di atas pangkuan, tubuhnya kaku. Lalu pandangan Justin beralih ke Adam di sampingnya, pria yang selama ini ia sebut sahabat, namun kini terasa asing.
“Kalian berdua sungguh luar biasa,” ucap Justin tiba-tiba, memecah keheningan.
Adam dan Linzy sontak menoleh bersamaan ke arah Justin.
“Apa maksudmu?” tanya Adam, alisnya mengernyit.
“Kalian pikir aku bodoh,” lanjut Justin dengan suara datar namun tajam, “sampai tidak sadar akan hubungan kalian yang sebenarnya.”
Linzy langsung menunduk. Wajahnya memerah, rasa malu dan ketakutan bercampur menjadi satu. Adam pun terdiam, rahangnya mengeras.
“Sejak kapan kau tahu?” tanya Adam akhirnya.
“Dari dulu,” jawab Justin tanpa ragu. “Sejak pertama kali kau mengenalkan Linzy sebagai sepupumu.”
Adam menghembuskan napas berat. “Kalau begitu kenapa kau tidak pernah memberitahu Vivian?”
Justin tersenyum kecil, senyum yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun. “Karena aku tidak dekat dengan Vivian,” jawabnya santai. “Aku berteman denganmu, bukan dengan Vivian. Lagipula, itu bukan urusanku.” Ucap Justin santai. Namun di dalam hatinya, Justin berbohong. Ia tidak membongkar hubungan itu bukan karena tidak peduli melainkan karena ia menunggu. Menunggu waktu yang tepat. Menunggu saat Vivian cukup kuat untuk mengetahui kebenaran tanpa hancur sepenuhnya.
Adam menatap Justin cukup lama, seolah menimbang sesuatu.
“Bisa kita bicara sebentar di luar?” ajak Adam akhirnya.
Justin mengangguk singkat.
Adam berdiri lebih dulu, lalu menoleh ke arah Linzy. “Kau diam di sini. Pantau keadaan Vivian.”
Linzy mengangguk cepat. Adam pun melangkah keluar ruangan, diikuti Justin dari belakang.
Koridor rumah sakit terasa sunyi. Lampu putih memanjang di langit-langit membuat suasana terasa dingin dan menekan. Mereka berhenti tak jauh dari ruang rawat Vivian.
Adam menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Justin.
“Terima kasih, Justin,” ucap Adam tiba-tiba.
Justin mengangkat alisnya, jelas tidak mengerti.
“Sejujurnya,” lanjut Adam, suaranya menurun, “aku tidak mencintai Vivian.”
Kalimat itu membuat Justin mengepalkan tangannya menahan luapan emosi.
“Aku membutuhkannya,” lanjut Adam tanpa ragu, “karena perusahaanku bertahan dari dana keluarga Vivian.”
Dada Justin terasa sesak. Amarah mendidih, menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Tangannya bergetar, keinginan untuk menghajar Adam muncul begitu kuat. Namun ia menahannya, memaksa dirinya tetap berdiri tegak.
“Aku memang memanfaatkan Vivian,” Adam mengakui, seolah itu hal sepele. “Tapi sekarang aku sadar tindakanku salah.”
Justin mendengus pelan, menahan tawa pahit.
“Aku mengajak Linzy ikut liburan ini karena aku ingin mengakhiri hubunganku dengannya,” lanjut Adam. “Aku ingin semuanya selesai di sini.”
Justin menatap Adam tajam.
“Kau tahu sendiri,” lanjut Adam, “sepulang dari liburan ini aku akan menikahi Vivian. Aku ingin menutup semua masa laluku sebelum pernikahan itu.”
Adam menepuk d**a sendiri. “Aku berjanji, setelah menikah aku tidak akan mengkhianati Vivian lagi.”
Ucapan itu membuat Justin tersenyum sinis.
"Berjanji setelah menghancurkan segalanya. Berjanji setelah memanfaatkan cinta seseorang. Berjanji setelah darah mengalir dari kepala gadis yang kini terbaring tak berdaya." Pikir Justin.
“Kau pikir semuanya akan selesai hanya dengan janji?” tanya Justin akhirnya, suaranya rendah namun penuh ancaman.
Adam menatapnya bingung.
Justin melangkah satu langkah mendekat. “Kau terlalu meremehkan cinta, Adam.”
Adam terdiam.
Di dalam hati Justin, tekadnya menguat. Ia menoleh sekilas ke arah pintu ruang rawat tempat Vivian berada.
"Teruslah bermimpi untuk menikahi Vivian, Adam. Aku tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi." Ucap Justin dalam hati. Karena bagi Justin, Vivian bukan sekadar gadis yang dimanfaatkan. Ia adalah seseorang yang pantas mendapatkan kebenaran dan cinta yang utuh, bukan kebohongan yang dibungkus janji palsu.
Sementara itu dalam ruangan, Linzy duduk kaku di sofa tunggal di dalam ruang rawat VVIP. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas paha, sementara pandangannya sesekali melirik ke arah pintu ruangan. Sejak Adam dan Justin keluar, rasa penasaran terus menggerogoti pikirannya. Setiap detik terasa lebih lama, seolah waktu sengaja diperlambat hanya untuk menyiksanya.
Ia ingin sekali tahu apa yang sedang dibicarakan dua pria itu.
Tentang apa mereka berdebat?
Tentang siapa mereka saling berhadapan?
Nama Vivian terus terngiang di kepala Linzy. Ia merasa pembicaraan itu pasti menyangkut dirinya atau lebih tepatnya, rahasia yang selama ini ia dan Adam sembunyikan rapat-rapat.
Perlahan, Linzy berdiri dari duduknya. Langkahnya maju satu langkah, lalu terhenti. Ia menatap pintu ruangan dengan mata penuh keraguan. Jika ia sedikit saja membuka pintu, mungkin ia bisa mendengar potongan percakapan mereka.
Namun bayangan wajah Adam yang marah dan dingin kembali muncul di benaknya.
"Jika sampai ketahuan menguping…" Linzy menggigit bibirnya. Ia tahu, kesalahan yang ia lakukan sudah terlalu besar. Jika kali ini ia melangkah lebih jauh, mungkin Adam benar-benar akan berpaling darinya.
Dengan berat hati, Linzy mengurungkan niatnya. Ia kembali duduk, menepuk dadanya pelan seolah menenangkan diri sendiri.
“Tenang, Linzy… tenang,” gumamnya lirih.
Namun rasa penasaran itu belum sepenuhnya reda.
Di saat itulah, sesuatu menarik perhatiannya.
Linzy tersentak.
Matanya membelalak saat melihat jari-jemari Vivian bergerak pelan. Sangat kecil, hampir tak terlihat, tapi cukup untuk membuat jantung Linzy berdetak lebih kencang.
“Vi… Vivian?” bisiknya ragu.
Linzy bangkit berdiri dengan cepat. Pandangannya tak lepas dari wajah Vivian. Kelopak mata gadis itu bergetar pelan. Napasnya yang sebelumnya teratur kini sedikit berubah.
“Tidak mungkin…” gumam Linzy panik.
Namun detik berikutnya, mata Vivian perlahan terbuka.
Linzy menutup mulutnya refleks, menahan teriakan yang hampir keluar. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia merasa suaranya bisa terdengar ke seluruh ruangan.
Vivian sudah siuman.
Tanpa berpikir panjang, Linzy berlari ke arah pintu dan membukanya lebar-lebar. Ia berdiri di ambang pintu dan mendapati Adam dan Justin masih berada di koridor, berhadapan dengan ekspresi tegang.
“Vivian sudah siuman!” teriak Linzy tanpa sadar, suaranya terdengar nyaring di lorong rumah sakit yang sunyi.
Reaksi Justin nyaris instan. Tanpa berkata apa pun, ia langsung berlari masuk ke dalam ruangan, langkahnya cepat dan penuh kepanikan yang tak ia sembunyikan. Bahkan Linzy sampai terkejut melihat betapa cepatnya Justin bergerak.
Adam terdiam sesaat. Ia menatap punggung Justin yang sudah menghilang di balik pintu dengan alis berkerut.
"Kenapa reaksinya seperti itu?" pikir Adam heran "Bukannya reaksi itu sangat berlebihan bagi orang yang katanya tidak perduli pada vivian." Namun ia segera mengenyahkan pikiran itu. Sekarang yang terpenting adalah kondisi Vivian.
Adam pun ikut bergegas masuk ke dalam ruangan.
Bersambung!...