Harga sebuah kebohongan

1011 Words
Adam masih berdiri diam di lorong rumah sakit yang dingin itu. Lampu-lampu putih memantulkan bayangan panjang di lantai mengilap, membuat suasana terasa semakin menekan. Di hadapannya, Linzy berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, kedua tangannya saling menggenggam erat seolah mencoba menopang kegelisahan yang mulai menggerogoti hatinya. Tatapan Adam tajam, menusuk tanpa ampun. “Sekarang,” ucap Adam akhirnya, suaranya rendah namun penuh tekanan, “bisakah kau ceritakan kronologinya?” Linzy menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Ia menghindari tatapan Adam dan menundukkan kepalanya, seolah lantai rumah sakit lebih menarik untuk dipandang daripada mata pria di depannya. Ia tahu, cepat atau lambat momen ini akan tiba. Sejak detik Vivian terjatuh dan darah segar mengalir dari kepalanya, Linzy sudah sadar bahwa ia tidak akan bisa lari dari kenyataan dan fakta bahwa dialah yang mendorong Vivian hingga jatuh. “Aku…” suara Linzy bergetar, ia menarik napas dalam-dalam. “Aku sebenarnya tidak ingin menceritakan ini.” “Linzy,” potong Adam tegas, “Vivian hampir kehilangan nyawanya. Aku tidak punya kesabaran untuk kebohonganmu lagi, tolong ceritakan semua dengan jujur agar aku juga dapat melindungimu nantinya saat Vivian siuman.” Ucapan itu menghantam Linzy tepat di d**a. Ia menggigit bibirnya, lalu mengangguk pelan. “Tadi,” Linzy mulai bercerita, “aku tak sengaja bertemu Vivian di teras gedung hotel. Dia memanggilku lebih dulu dan bertanya keberadaanmu.” Adam tetap diam, hanya mengangguk kecil sebagai tanda agar Linzy melanjutkan. “Aku menjawab sejujurnya, kalau kau dan Justin sedang keluar. Lalu…” Linzy berhenti sejenak, jemarinya semakin mencengkeram. “Saat itu Vivian melihat kartu debit yang kau berikan padaku.” Adam memejamkan mata sesaat. “Wajah Vivian langsung berubah,” lanjut Linzy cepat, seolah takut kehilangan keberanian. “Dia terlihat sangat marah. Tanpa banyak bicara, dia langsung merampas kartu debit itu dari tanganku.” Adam menghembuskan napas panjang, rahangnya mengeras. “Aku keberatan,” lanjut Linzy, suaranya mulai meninggi. “Itu kartu yang kau berikan padaku. Aku merasa itu hakku. Jadi aku merampas kembali kartu itu dari tangannya.” “Dan?” tanya Adam dingin. “Entah bagaimana,” Linzy melanjutkan dengan suara bergetar, “terjadi sedikit tarik-menarik antara aku dan Vivian. Aku sudah kesal, emosiku memuncak… lalu tanpa sengaja aku mendorong Vivian.” Linzy terisak, air mata kembali mengalir. “Posisi Vivian saat itu berada di tepian teras,” ucapnya pelan, hampir berbisik. “Karena doronganku, dia kehilangan keseimbangan… dan terjatuh.” Kata-kata terakhir itu meluncur berat, seolah Linzy sendiri tidak sanggup mengakuinya. Adam menutup matanya, mengusap wajahnya dengan satu tangan. Napasnya terdengar berat. Ada amarah yang mendidih di dadanya, namun ia menahannya dengan susah payah. “Kenapa,” ucap Adam akhirnya, suaranya dingin dan penuh kekecewaan, “Kenapa kau tidak membiarkan saja Vivian mengambil kartu debit itu?” Linzy mengangkat wajahnya, menatap Adam dengan mata merah dan penuh pembelaan. “Jika aku menyerahkan kartu debit itu pada Vivian, lalu bagaimana aku akan bertahan hidup nantinya?” Adam menatapnya tajam. “Kau tahu sendiri,” lanjut Linzy dengan nada keras, “selama ini kehidupanku bergantung pada kartu debit itu. Aku tidak punya penghasilan tetap, Adam. Semua kebutuhanku semuanya dari kartu itu.” “Aku bisa memberikanmu kartu debit yang lain,” sahut Adam cepat, suaranya lebih terkendali namun tetap tegas. Linzy mendengus kecil. “Yeah, mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi.” Nada acuh tak acuh Linzy membuat Adam semakin kesal. “Berikan padaku kartu debit itu,” pinta Adam sambil mengulurkan tangannya. Linzy terdiam. Wajahnya langsung berubah. Tatapannya berpindah dari tangan Adam ke wajahnya, lalu kembali lagi ke tangan itu. Selama ini, kartu debit itu adalah sumber hidupnya. Dari kartu itulah ia bisa mengenakan pakaian bermerek, tinggal di hotel mewah, dan menjalani hidup tanpa memikirkan biaya. “Tapi…” Linzy ragu, suaranya nyaris tak terdengar. “Linzy,” panggil Adam dengan nada memperingatkan, tangannya tetap terulur. “Aku akan memberikanmu kartu debit lain. Kartuku sendiri.” Janji itu membuat Linzy terdiam lebih lama. Matanya bergerak cepat, otaknya bekerja keras menimbang untung rugi. Akhirnya, dengan berat hati, Linzy merogoh saku celananya dan mengeluarkan kartu debit berwarna hitam itu. Tangannya bergetar saat menyerahkannya pada Adam. Adam langsung menggenggam kartu itu erat, seolah memastikan benda kecil itu tidak akan jatuh lagi ke tangan yang salah. “Saat Vivian siuman,” ucap Adam serius, “aku akan mengembalikan kartu debit ini padanya. Dan kau harus meminta maaf.” Linzy mendongak tajam. “Minta maaf?” “Katakan pada Vivian,” lanjut Adam tanpa ragu, “kalau kau mengambil kartu debit ini tanpa sepengetahuanku.” Wajah Linzy langsung berubah. Alisnya mengernyit dalam. “Apa maksudmu dengan aku mengambil kartu debit itu tanpa sepengetahuanmu, Adam?” tanyanya dengan nada tidak terima. “Jelas-jelas kau yang memberikannya secara suka rela padaku.” Adam mendekat satu langkah, sorot matanya berubah dingin dan mengintimidasi. “Iya, aku tahu,” ucap Adam, suaranya rendah namun mengandung ancaman. “Aku memang memberikannya padamu. Tapi jika kau mengatakan hal itu pada Vivian, dia akan mencurigai hubungan kita.” Linzy terdiam. “Apa kau ingin Vivian membatalkan pertunangannya denganku?” lanjut Adam, nadanya meninggi sedikit. “Jika itu terjadi, keluarga Vivian pasti akan menarik seluruh dana yang mereka tanamkan di perusahaanku. Dan jika itu terjadi, perusahaanku akan bangkrut.” Adam menatap Linzy lurus-lurus. “Apa kau mau seperti itu?” Linzy membeku. Dalam kepalanya, berbagai kemungkinan berputar cepat. Jika perusahaan Adam bangkrut, maka semua fasilitas, uang, dan kemewahan yang selama ini ia nikmati akan lenyap. Ia akan kembali menjadi Linzy yang tidak punya apa-apa. “Tidak,” batin Linzy panik. “Jika perusahaan Adam bangkrut, aku juga akan hancur.” Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap Adam dengan mata penuh perhitungan. Perlahan, ia menganggukkan kepalanya. “Baiklah,” ucap Linzy akhirnya, suaranya pelan namun pasrah. “Aku akan mengatakan seperti yang kau pinta nanti.” Adam menghela napas lega. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya. “Bagus,” ucap Adam singkat. Di balik pintu ruangan rawat, Vivian masih terbaring tak berdaya, tidak menyadari bahwa di luar sana, sebuah kebohongan sedang disusun rapi, kebohongan yang kelak akan menjadi luka baru ketika kebenaran akhirnya terungkap. Bersambung!..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD