Beberapa menit di perjalanan yang terasa seperti seabad Justin akhirnya tiba di St. Luke’s International Hospital. Ia menghentikan motor dengan kasar, bahkan nyaris menjatuhkannya. Helm dilempar sembarang ke atas jok sebelum Justin berlari masuk ke dalam rumah sakit.
“Vivian Leona Martin!” serunya pada petugas resepsionis dengan suara bergetar. “Di mana dia?!”
Petugas itu terkejut namun tetap berusaha tenang. “Apakah Anda keluarga pasien?”
“Aku—” Justin terdiam sepersekian detik. “Aku orang terdekatnya.”
Petugas itu memeriksa data dengan cepat.
“Pasien ada di ruang IGD, lantai satu.”
Tanpa menunggu lebih lanjut, Justin berlari menuju arah yang ditunjuk.
Di depan ruang IGD, Linzy duduk di kursi tunggu dengan wajah pucat. Matanya sembab, tangannya gemetar, dan pakaiannya masih ternodai bercak darah.
Justin berhenti mendadak begitu melihatnya.
“Di mana Vivian?” tanya Justin tajam, suaranya rendah namun penuh tekanan.
Linzy mendongak. Begitu melihat Justin, air mata yang sempat berhenti kembali mengalir. "Dia… dia di dalam…” jawabnya terbata.
Justin menoleh ke pintu IGD yang tertutup rapat. Lampu merah di atas pintu menyala, seolah menandai jarak antara hidup dan ketidakpastian.
“Apa yang terjadi?” tanya Justin lagi, kali ini lebih pelan namun mengandung amarah yang ditahan.
Linzy terisak dalam diam otaknya berpikir dengan cepat, Justin pasti akan menghajarnya habis-habisan jika tahu Vivian terjatuh karena ulahnya.
"Aku bertanya padamu apa yang terjadi hingga Vivian jatuh?" tanya Justin sedikit geram karena Linzy hanya diam enggan menjawab.
"Aku tidak tahu, tadi aku habis balik dari toko swalayan dan melihat Vivian berdiri di teras hotel mungkin dia terpeleset atau tersandung hingga membuatnya jatuh." Jelas Linzy dengan kebohongan.
Tak lama kemudian, Adam tiba dengan napas terengah. Wajahnya pucat, matanya dipenuhi kepanikan. Begitu melihat Justin dan Linzy, Adam langsung menghampiri.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Adam cemas.
Linzy menggeleng lemah. “Dokter masih memeriksanya…”
Adam menyandarkan punggung ke dinding, tangannya mengusap wajah kasar.
“Jika sampai Tuan Martin tahu anaknya celaka saat bersamaku ini bisa gawat, Tuan Marti pasti akan marah besar dan itu pasti akan berefek pada perusahaanku.” gumamnya lirih.
Justin menoleh tajam ke arah Adam. "Dalam keadaan seperti ini bisa-bisanya kau mengkhawatirkan perusahaanmu!." Pekik Justin
Adam terkejut namun ia hanya diam tak merespon ucapan Justin.
Beberapa saat kemudian, pintu IGD terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah serius. Ketiganya langsung berdiri bersamaan.
“Siapa keluarga pasien?” tanya dokter itu.
Adam melangkah maju. “Saya.”
Dokter itu mengangguk. “Pasien mengalami benturan cukup keras di kepala. Kami sudah menghentikan pendarahan, namun pasien mengalami gegar otak ringan dan harus dirawat untuk observasi.”
Justin menahan napas.
“Apakah dia sadar?”
“Belum,” jawab dokter jujur. “Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan.”
Kata belum sadar terasa seperti pisau yang menghujam d**a Justin.
Saat brankar didorong keluar, tubuh Vivian terbaring pucat, perban melilit kepalanya. Selang infus terpasang di tangannya.
Justin melangkah mendekat tanpa sadar.
Ia menggenggam jemari Vivian dengan hati-hati.
“Maaf…” bisiknya lirih. “Seharusnya aku tidak meninggalkanmu."
Di lorong rumah sakit yang dingin itu, Justin akhirnya menyadari satu hal yang tak bisa lagi ia sangkal yaitu bukan sekadar rasa peduli yang ia rasakan pada Vivian melainkan rasa takut kehilangan Vivian.
***
Ruangan rawat VVIP itu diselimuti keheningan yang menyesakkan. Lampu-lampu temaram memantulkan cahaya lembut pada dinding berwarna krem, menciptakan suasana tenang yang kontras dengan kegelisahan di dalam hati para penghuni ruangan. Di tengah ruangan, Vivian masih terbaring di atas ranjang rumah sakit, tubuhnya terhubung dengan berbagai alat medis. Selang infus menancap di punggung tangannya, sementara perban putih melilit kepalanya, menyembunyikan luka yang menjadi sumber kecemasan semua orang.
Dada Vivian naik turun pelan, teratur, namun kesadarannya belum juga kembali.
Di sisi kiri ranjang, Linzy duduk dengan wajah pucat. Matanya sembab, lingkar hitam menggelayut di bawah kelopak matanya akibat tangisan yang belum sepenuhnya reda. Jarinya saling bertaut erat, seolah mencoba menenangkan gemetar yang tak kunjung hilang. Di seberangnya, Adam berdiri bersandar pada dinding, kedua tangannya terlipat di d**a, sorot matanya tertuju pada wajah Vivian dengan ekspresi sulit ditebak.
Sementara itu, Justin berdiri agak jauh di dekat jendela besar yang menghadap ke luar gedung rumah sakit. Tirai tipis berwarna putih dibiarkan terbuka, memperlihatkan cahaya kota Tokyo yang berkilauan di kejauhan. Namun pandangan Justin kosong. Matanya memang mengarah keluar, tetapi pikirannya sepenuhnya tertambat pada satu sosok yaitu Vivian.
Adam melangkah mendekat ke sisi ranjang. Ia menunduk, menatap wajah Vivian lebih lama. Wajah yang biasanya cerah dan penuh ekspresi itu kini terlihat begitu pucat dan rapuh. Hati Adam terasa teriris. Ia mengenal Vivian sebagai perempuan kuat, keras kepala, namun tidak pernah selemah ini.
Pandangan Adam kemudian beralih perlahan ke arah Linzy.
Ia tahu.
Jatuhnya Vivian tidak mungkin sekadar kecelakaan. Sejak awal, naluri Adam sudah berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dan satu-satunya orang yang bersama Vivian saat itu adalah Linzy.
Tatapan mereka beradu.
Linzy terhenyak. Wajahnya semakin pucat saat menyadari sorot mata Adam yang tajam, dingin, dan penuh tuntutan. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, justru ketenangan itulah yang membuat Linzy merasa lebih tertekan. Adam tidak berkata apa-apa, namun sorot matanya seolah menelanjangi rasa bersalah yang berusaha Linzy sembunyikan.
Perlahan, Adam mengangkat tangannya, memberi kode halus dengan gerakan kepala ke arah pintu.
Linzy menelan ludah.
Ia paham.
Dengan gerakan kaku, Linzy bangkit dari kursinya. Kakinya terasa berat melangkah, namun ia tetap memaksakan diri berjalan keluar dari ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pintu tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan keheningan yang semakin pekat.
Beberapa menit berlalu.
Adam masih berdiri di sisi ranjang, pura-pura memperhatikan kondisi Vivian, sementara matanya sesekali melirik ke arah pintu. Justin tetap di posisinya, diam seperti patung, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Aku akan mengisi teko air,” ucap Adam akhirnya, memecah keheningan.
Justin menoleh sekilas, namun tidak berkata apa-apa.
Adam mengambil teko air minum yang berada di atas meja kecil, lalu melangkah keluar ruangan, meninggalkan Justin seorang diri bersama Vivian.
Begitu pintu tertutup, suasana berubah.
Justin perlahan melangkah mendekat ke ranjang Vivian. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai rumah sakit itu menolak pijakannya. Ia berdiri tepat di sisi ranjang, menatap wajah Vivian dari jarak yang sangat dekat.
Hatinya remuk.
Kulit Vivian terlihat pucat, hampir transparan. Bibirnya sedikit mengering, dan alisnya yang biasanya rapi kini tampak kusut. Perban di kepalanya menjadi pengingat nyata betapa rapuhnya perempuan itu saat ini.
Justin mengulurkan tangannya, ragu-ragu, sebelum akhirnya menggenggam jemari Vivian dengan sangat hati-hati. Tangannya dingin.
“Maafkan aku…” bisik Justin lirih.
Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam dengung alat-alat medis.
“Seharusnya aku tidak membiarkanmu sendiri tanpa pengawasanku,” lanjutnya, suaranya bergetar. “Seharusnya aku ada di sisimu.”
Kepalanya tertunduk. Rasa bersalah menghantamnya tanpa ampun. Ia, Justin Scott, yang selama ini dikenal dingin dan tak tersentuh, kini merasa begitu lemah di hadapan satu perempuan.
Kenangan masa lalu kembali berkelebat di benaknya.
Pertemuan mereka 2 minggu lalu di pesta ulang tahun perusahaan milik Adam. Tatapan mata Vivian yang kala itu menantang, tidak gentar meski berhadapan dengannya. Cara Vivian selalu berusaha terlihat kuat meski jelas ia ketakutan melihat Justin menghajar seseorang. Senyum manis Vivian yang dipaksakan saat itu mampu mengacaukan seluruh pertahanan Justin.
“Aku berjanji,” ucap Justin pelan, “tidak akan ada yang menyakitimu lagi. Tidak selama aku masih bernapas.”
Tangannya mengencang sedikit, seolah janji itu bisa tersampaikan melalui sentuhan.
Sementara itu, di luar ruangan, Linzy berdiri dengan gelisah di lorong rumah sakit. Tangannya berkeringat dingin. Adam berdiri di hadapannya dengan wajah datar, namun sorot matanya menusuk.
“Ceritakan yang sebenarnya,” ucap Adam dingin tanpa basa-basi.
Linzy terkejut. “Adam, aku—”
“Jangan bohong,” potong Adam tegas. “Aku tahu Vivian tidak mungkin jatuh begitu saja.”
Air mata Linzy kembali mengalir. Bahunya bergetar. “Aku tidak sengaja… aku hanya emosi…”
“Emosi?” ulang Adam sinis. “Dan karena emosimu, Vivian hampir kehilangan nyawanya?”
Linzy menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak keras.
Adam menghela napas panjang. Amarah bercampur rasa bersalah berkecamuk di dadanya. Ia menyadari satu hal yang selama ini ia abaikan yaitu keputusannya membawa Linzy dalam perjalanan ini adalah kesalahan besar.
“Kau beruntung,” ucap Adam akhirnya, suaranya rendah namun mengandung ancaman, “Vivian masih hidup.”
Linzy menatap Adam dengan mata penuh ketakutan.
“Jika terjadi sesuatu padanya,” lanjut Adam, “aku sendiri yang akan memastikan kau bertanggung jawab.”
Linzy terdiam, tubuhnya gemetar.
Kembali ke dalam ruangan, Justin masih duduk di sisi ranjang Vivian. Ia mengusap punggung tangan Vivian dengan ibu jarinya secara perlahan, seolah mencoba membagikan kehangatan.
“Bangunlah,” bisiknya. “Aku masih punya banyak hal yang ingin kukatakan padamu.”
Matanya memerah, namun tidak ada air mata yang jatuh. Justin terlalu terbiasa menahan emosi.
Bersambung!...