tragedi jatuhnya Vivian

1420 Words
Di kamar 345 yang mewah dan senyap, lampu temaram memantulkan kilau lembut pada perabot berwarna krem keemasan. Justin berdiri di sisi tempat tidur, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua lengannya masih menopang Vivian yang tertidur lelap. Napas gadis itu teratur, wajahnya tampak begitu tenang, seolah dunia luar tak mampu menjangkaunya saat ini. Dengan gerakan yang nyaris tanpa suara, Justin menurunkan tubuh Vivian perlahan ke atas kasur empuk. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, takut satu gerakan kecil saja akan membuat Vivian terbangun. Setelah memastikan posisi Vivian nyaman, Justin mundur setengah langkah, lalu duduk di tepian tempat tidur tepat di sisi Vivian. Matanya tak lepas dari wajah gadis itu. Ada ketenangan yang jarang ia temui. Bulu mata Vivian yang lentik, bibirnya yang sedikit terbuka, serta raut wajah polos tanpa ekspresi tegang membuat d**a Justin terasa menghangat tanpa alasan yang jelas. Untuk sesaat, ia lupa siapa dirinya, lupa batas yang seharusnya ia jaga. Justin tersenyum tipis. Tanpa ia sadari, tubuhnya condong mendekat. Bibirnya mengecup kening Vivian dengan lembut sebuah sentuhan singkat namun penuh makna. Setelah itu, tangannya terangkat membelai pipi Vivian pelan, seolah ingin menghafal setiap garis wajah gadis itu dalam ingatannya. “Tidurlah dengan nyenyak,” gumamnya hampir tak terdengar. Justin segera bangkit. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menghantam kesadarannya. Ia berbalik, melangkah menjauh dari tempat tidur, lalu keluar dari kamar tanpa menoleh lagi. --- Sesampainya di lobi hotel, suasana terasa jauh lebih hidup. Beberapa tamu berlalu-lalang, suara langkah kaki bercampur dengan dentingan halus musik latar. Justin langsung melihat Adam dan Linzy yang tengah berbincang di dekat area sofa. “Justin?” gumam Adam ketika menyadari kehadiran pria itu. Linzy yang berdiri membelakangi Justin segera memutar tubuhnya. Tatapannya sedikit menegang saat melihat sosok Justin mendekat. “Kau mau ke mana?” tanya Adam. “Aku ingin keluar membeli beberapa pakaian,” jawab Justin singkat. Linzy mengangguk kecil, merasa jawaban itu masuk akal. Sejak mereka bertemu di bandara hingga tiba di hotel, Justin memang tidak membawa apa pun. “Kalau begitu ayo kita pergi bersama,” ujar Adam. “Kebetulan ada beberapa barang yang ingin kubeli juga.” Justin hanya mengangguk setuju. Adam kemudian menoleh ke arah Linzy. “Apa kau ingin ikut?” Linzy terdiam. Dalam benaknya, bayangan tas-tas mewah dan barang-barang bermerek langsung bermunculan. Jika ia ikut, Adam pasti tak keberatan membelikannya sesuatu. Namun tatapan dingin Justin kembali terlintas di pikirannya. Rasa takut mengalahkan keinginannya yang ingin ikut. “Tidak,” jawab Linzy akhirnya. “Aku istirahat di hotel saja.” Adam mengangguk, lalu bersama Justin melangkah pergi meninggalkan lobi. Linzy menatap punggung mereka hingga menghilang dari pandangan. Wajahnya mengeras, perasaan iri dan kesal bercampur menjadi satu. --- Di kamar 345, Vivian menggeliat pelan. Alisnya berkerut, lalu matanya terbuka perlahan. Pandangannya menyapu langit-langit kamar yang asing baginya. “Hah…?” gumamnya bingung. Vivian segera bangkit setengah duduk, napasnya sedikit memburu. Ingatannya masih berhenti pada perjalanan di dalam mobil. Ia jelas tertidur di kursi tengah, mendengarkan musik. Lalu bagaimana ia bisa berada di kamar hotel? Tatapan Vivian beralih ke sekeliling kamar, ranjang besar, lampu meja elegan, jendela lebar dengan tirai tebal. Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah cerah. “Adam…” gumamnya, senyum kecil terukir di bibirnya. “Pasti Adam yang menggendongku.” Pikiran itu membuat hatinya terasa hangat. “Ah… Adam terlalu sweet,” pikirnya sambil tersenyum sendiri. Vivian pun bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi. Air hangat mengguyur tubuhnya, menghapus sisa-sisa lelah perjalanan panjang. Sekitar dua puluh menit kemudian, Vivian keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar. Ia mengenakan dress panjang berwarna krem tanpa lengan, sederhana namun elegan. Rambutnya ia cepol rapi, memperlihatkan leher jenjangnya. Setelah merapikan penampilan, Vivian segera melangkah keluar kamar menuju lobi hotel, berniat mencari Adam. Di lobi, matanya menangkap sosok Linzy yang tampak hendak keluar ke teras hotel. “Linzy?” panggil Vivian. Linzy menoleh, raut wajahnya langsung berubah ketus. "Ada apa?” jawabnya dingin. “Apa kau tahu di mana Adam?” tanya Vivian. “Adam dan Justin keluar,” jawab Linzy singkat. “Katanya mau membeli beberapa barang.” Vivian mengangguk kecil. Namun detik berikutnya, matanya membelalak. Pandangannya terpaku pada kartu debit berwarna hitam yang berada di tangan Linzy. Jantung Vivian berdegup keras. Ia mengenali kartu itu. Dengan langkah cepat, Vivian meraih pergelangan tangan Linzy. "Apa yang kau lakukan?!” pekik Linzy, terkejut dan merasa tidak nyaman. “Dari mana kau mendapatkan kartu ini?” tanya Vivian tajam. Linzy menarik tangannya, menatap Vivian dengan kesal. "Ini kartuku. Kakak sepupuku Adam yang memberikannya,” jawab Linzy enteng. Ucapan itu membuat tubuh Vivian terasa lemas. Dadanya sesak, seolah napasnya direnggut paksa. Kartu debit itu adalah kartu yang selama ini ia percayakan pada Adam, ternyata digunakan oleh Linzy. Tanpa berpikir panjang, Vivian merampas kartu itu dari tangan Linzy. "Ini milikku,” ucap Vivian tegas. Linzy terperanjat, wajahnya memerah karena marah. "Kau tidak berhak mengambilnya!” bentaknya. “Adam yang memberikannya padaku!” Linzy dengan kasar merampas kembali kartu itu dari tangan Vivian. “Ini milikku!” teriak Linzy tak mau kalah. Emosi keduanya memuncak. Mereka saling tarik menarik, tangan mereka saling mencengkeram kartu itu dengan kuat. Tidak ada yang mau mengalah. “Lepaskan!” teriak Vivian. “Tidak!” balas Linzy. Tarik-menarik itu semakin sengit. Tanpa sengaja, Linzy mendorong Vivian dengan keras. Tubuh Vivian kehilangan keseimbangan. “Aaa—!” Vivian terjatuh dari teras hotel yang cukup tinggi. Tubuhnya berguling melewati empat anak tangga sebelum akhirnya terhenti. Kepalanya membentur keras, darah segar langsung mengalir membasahi lantai. “Vivian!” teriak Linzy panik. Linzy berdiri kaku, wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ketakutan menatap tubuh Vivian yang tergeletak tak bergerak. Di lobi hotel, teriakan itu mengundang perhatian banyak orang. Beberapa tamu dan staf berlari mendekat, sementara Linzy gemetar di tempatnya menyadari bahwa pertengkaran kecil yang ia anggap sepele kini telah berubah menjadi sebuah tragedi yang tak bisa ia tarik kembali. **** Di dalam sebuah butik pakaian ternama di kawasan Ginza, suasana terasa hangat dan eksklusif. Cahaya lampu putih kekuningan memantul pada rak-rak pakaian berdesain minimalis khas Jepang. Justin berdiri tegap di depan kasir, memperhatikan pegawai toko yang tengah merapikan beberapa kantong belanja miliknya. “Thank you, sir,” ucap kasir itu sopan sambil menyerahkan struk pembayaran. Justin mengangguk singkat. Tangannya terulur mengambil kantong-kantong belanja, namun sebelum ia sempat melangkah pergi, perhatiannya teralihkan oleh bunyi dering ponsel milik Adam yang berdiri tepat di sampingnya. Adam melirik layar ponselnya. “Linzy?” gumamnya heran. Justin sempat menoleh sekilas, lalu kembali meraih jaketnya. Namun detik berikutnya, ekspresi Adam berubah drastis. Wajahnya menegang, alisnya berkerut, dan tubuhnya refleks menegak. “Ada apa? Kenapa kau menangis?” tanya Adam, suaranya langsung terdengar panik. Langkah Justin terhenti. Suara isakan Linzy terdengar samar namun jelas dari balik ponsel Adam. Tangisan itu tidak seperti tangisan manja atau kesal melainkan tangisan ketakutan. Justin memutar tubuhnya, menatap Adam penuh tanya. “Vivian… Adam… Vivian…” suara Linzy terputus-putus oleh tangis. Nama itu membuat jantung Justin serasa berhenti berdetak. “Apa maksudmu dengan Vivian?” tanya Adam dengan nada meninggi. “Tenangkan dirimu! Jangan menangis! Ceritakan apa yang terjadi!” Justin mendekat tanpa sadar. Napasnya mulai memburu, firasat buruk menghantamnya tanpa ampun. “Vivian jatuh…” suara Linzy bergetar. “Kepalanya berdarah… sekarang aku di St. Luke’s International Hospital…” Kata-kata itu seperti ledakan. Justin tak menunggu Adam menutup panggilan. Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan langsung berlari keluar dari butik, meninggalkan kantong belanja yang terjatuh begitu saja di lantai. “Justin!” teriak Adam kaget. Justin tidak menoleh. Di kepalanya hanya ada satu hal yaitu Vivian. Ia berlari menerobos keramaian jalanan Ginza, langkahnya panjang dan tergesa. Pandangannya kabur, napasnya tak beraturan. Orang-orang yang ia lewati terkejut, beberapa mengumpat karena hampir tersenggol, namun Justin tak peduli. Vivian berdarah… Vivian jatuh… Pikirannya dipenuhi bayangan terburuk. Adam berlari mengejarnya, berusaha menyusul sambil menekan ponselnya kembali ke telinga. “Linzy! Tetap di sana! Jangan ke mana-mana!” teriak Adam sebelum mematikan sambungan. “Justin, tunggu!” Adam kembali berteriak. Namun Justin terus berlari. Ia bahkan tidak ingat bagaimana ia mencapai area parkir. Tangannya gemetar saat menyalakan motor sewaannya. Mesin meraung keras, lalu motor melesat meninggalkan Adam yang tertinggal jauh di belakang. Angin malam Tokyo menghantam wajahnya, namun kepalanya terasa panas. Setiap lampu merah terasa seperti penghalang yang menyiksa. Tangannya mencengkeram setang motor begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Bertahanlah…” gumamnya lirih. “Tolong bertahan…” Kenangan terakhir Vivian kembali terlintas di benak Justin, wajahnya yang tertidur tenang di kamar hotel, keningnya yang ia kecup tanpa izin, pipinya yang hangat di bawah sentuhannya semakin membuat Justin hilang kendali. "Seharusnya aku tidak meninggalkannya…" Perasaan bersalah menusuk tajam di ulu hati Justin Bersambung!...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD