Delapan jam penerbangan langsung akhirnya berakhir. Pesawat yang membawa mereka mendarat mulus di Bandara Narita, Tokyo. Setelah roda pesawat menyentuh landasan, suara tepuk tangan ringan terdengar dari beberapa penumpang, menandai berakhirnya perjalanan panjang yang melelahkan.
Vivian menghembuskan napas pelan saat berdiri di lorong pesawat. Tubuhnya terasa berat, matanya perih karena kurang tidur, namun ada rasa takjub yang samar saat menyadari ia kini benar-benar berada di Jepang. Negeri yang selama ini hanya ia lihat dari layar televisi dan majalah perjalanan, ini adalah pertama kali Vivian ke Jepang karena selama ini keluarganya sering menghabiskan waktu liburan mereka di Negara-Negara Eropa.
Mereka berempat berjalan beriringan keluar dari area kedatangan. Hiruk-pikuk bandara internasional langsung menyambut, suara pengumuman dalam dua bahasa, derap langkah para wisatawan, serta petugas bandara yang berlalu-lalang dengan seragam rapi menjadi pemandangan yang tak asing disetiap bandara.
Vivian melirik Adam yang berjalan sedikit di depannya. Pria itu tampak kerepotan mengurus dua koper besar. Salah satunya jelas milik Adam sendiri, sementara koper lainnya yang berwarna krem dengan pita kecil di pegangan adalah milik Vivian.
Langkah Vivian melambat. Rasa tidak enak menyelinap ke dadanya melihat Adam kerepotan. "Aku seharusnya mengambil koperku sendiri,” gumamnya pelan.
Ia hendak mempercepat langkah dan menghampiri Adam, berniat mengambil kopernya agar pria itu tidak terlalu kelelahan. Namun sebelum Vivian sempat melangkah lebih jauh, seseorang bergerak lebih cepat darinya.
Justin.
Dengan langkah panjang dan sigap, Justin mendekat ke arah Adam lalu langsung meraih koper milik Vivian dari tangan pria itu.
“Biar ku bantu,” ucap Justin singkat namun tegas.
Adam terlihat sedikit terkejut, namun wajahnya segera berubah lega.
“Ah, terima kasih,” jawabnya tulus. “Sejujurnya tanganku sudah pegal.”
Tanpa ragu, Adam menyerahkan seluruh pengurusan koper Vivian pada Justin. Justin hanya mengangguk kecil, lalu melangkah mantap sambil menarik koper itu di samping tubuhnya.
Vivian terdiam di tempat. Ia menatap koper miliknya yang kini berada di tangan Justin. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk segera mengambil kopernya kembali, mengatakan bahwa ia bisa mengurus barangnya sendiri. Namun entah kenapa, kakinya terasa berat untuk melangkah.
Ada rasa takut yang sulit dijelaskan bukan takut akan sikap kasar, melainkan takut akan interaksi itu sendiri. Tatapan Justin, kehadirannya yang terlalu dominan, membuat Vivian selalu merasa gugup.
Akhirnya, ia mengalah. Vivian memilih berjalan di belakang Justin, membiarkan pria itu mengurus kopernya tanpa sepatah kata pun.
Di depan bandara, sebuah mobil hitam elegan telah menunggu. Seorang sopir berseragam rapi berdiri di samping pintu, membungkuk sopan saat melihat mereka mendekat.
“Selamat datang di Tokyo. Kami dari The Peninsula Hotel,” ucap sang sopir dengan bahasa Inggris yang fasih.
Mereka pun diarahkan masuk ke dalam mobil.
Posisi duduk segera terbagi. Vivian memilih duduk di kursi tengah bersama Linzy. Adam duduk di bagian belakang, sementara Justin memilih duduk di kursi depan, tepat di samping sopir.
Begitu mobil melaju meninggalkan area bandara, rasa lelah yang sejak tadi ditahan Vivian akhirnya menyerang. Ia menyandarkan kepalanya, memasang earphone, lalu memejamkan mata. Musik lembut mengalun di telinganya, perlahan membawa tubuhnya ke dalam istirahat singkat yang ia butuhkan.
Di sampingnya, Linzy tampak bersemangat. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kamera, dan mulai merekam.
“Halo, semuanya! Aku akhirnya sampai di Jepang!” ucap Linzy ceria, mengarahkan kamera ke luar jendela, lalu ke wajahnya sendiri.
Di kursi belakang, Adam membuka laptopnya. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard, sesekali menatap layar dengan raut serius. Meski sedang berlibur, tanggung jawab pekerjaannya tak bisa ia tinggalkan begitu saja.
Sementara itu, Justin duduk diam di kursi depan. Tubuhnya tegak, tangannya bertumpu santai di paha. Namun pandangan matanya tidak tertuju ke jalan.
Justin menatap kaca spion kecil di bagian tengah.
Pantulan wajah Vivian terlihat jelas di sana. Gadis itu tertidur dengan kepala sedikit miring, rambutnya jatuh lembut menutupi sebagian pipinya. Ekspresinya tenang, jauh dari ketegangan yang biasanya ia pasang saat sadar.
Justin tak mengalihkan pandangannya.
Hampir tujuh puluh menit perjalanan berlalu tanpa terasa.
Mobil akhirnya berhenti di depan gedung megah The Peninsula Tokyo. Bangunan itu berdiri anggun dengan pencahayaan elegan, memancarkan kemewahan khas hotel bintang lima.
Adam dan Linzy segera keluar dari mobil. Udara malam Tokyo terasa sejuk, sedikit menusuk kulit setelah lama berada di dalam ruangan tertutup.
Justin menyusul keluar, sementara Vivian masih tertidur lelap di kursi tengah.
Adam membuka pintu di sisi Vivian. Ia menunduk, mengulurkan tangan hendak membangunkan gadis itu dengan lembut.
Namun tangan Adam tertahan.
Justin berdiri di antara pintu mobil dan tubuh Adam, matanya menatap tajam.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Justin dengan nada rendah namun mengandung tekanan.
“Aku ingin membangunkan Vivian,” jawab Adam heran.
Justin melirik sekilas ke arah Vivian yang masih tertidur. "Daripada kau membangunkannya,” ucapnya kemudian, “lebih baik kau menggendongnya sampai ke kamar hotel. Kelihatannya dia sangat lelah.”
Adam terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. “Aku tidak sanggup menggendongnya sekarang,” jawab Adam jujur. “Tubuhku juga terasa lelah setelah perjalanan jauh.”
Adam kembali hendak menjulurkan tangannya ke arah Vivian. Namun sekali lagi, Justin menghalanginya.
“Biar aku saja yang menggendongnya,” ucap Justin tanpa ragu.
Sebelum Adam sempat bereaksi, Justin mendorong tubuh Adam sedikit menjauh dari pintu mobil. Dengan gerakan hati-hati, Justin memposisikan dirinya, menyelipkan satu tangan di bawah lutut Vivian dan satu tangan lainnya menopang punggungnya.
Vivian terangkat dengan ringan, seolah tubuhnya tak memiliki berat sama sekali didekapan Justin.
“Kamar nomor berapa?” tanya Justin singkat.
“Kamar 345, lantai 22,” jawab Adam refleks.
Linzy yang mendengar itu langsung terbelalak. “Kamar 345 lantai 22?” gumamnya pelan.
Itu adalah kamar tipe The Peninsula Suite kamar termahal di hotel ini.
Rasa iri langsung menusuk dadanya. Meski kamar deluxe room yang ia tempati termasuk mewah, nilainya jelas jauh di bawah kamar milik Vivian.
Seorang pelayan hotel segera memandu Justin menuju lift pribadi. Di area lobi, beberapa tamu dan staf hotel menoleh, terpaku melihat pemandangan seorang pria tampan menggendong seorang wanita cantik dengan begitu hati-hati.
Bahkan beberapa staf berbisik, mengira Justin dan Vivian adalah sepasang suami istri yang sedang menikmati bulan madu.
Sementara itu, setelah Justin menghilang bersama Vivian, Linzy tak bisa lagi menahan emosinya.
“Kenapa kau tidak adil?” tanya Linzy ketus kepada Adam.
Adam menoleh. “Apa maksudmu?”
“Kau memilihkan Vivian kamar termahal di hotel ini,” lanjut Linzy dengan nada kecewa, “sementara aku—”
Ucapannya terhenti. Linzy hanya menatap Adam dengan mata berkaca-kaca.
Adam menghela napas. “Kau tahu harga per malam kamarmu saja 803 dolar,” ucap Adam tegas. “Kamarmu sudah termasuk mahal. Kamarku juga tipe deluxe room.”
Adam menatap Linzy tanpa ekspresi.
“Dan berhentilah protes. Semua fasilitas yang didapat Vivian, Vivian sendiri yang membayar. Bukan aku.”
Setelah berkata demikian, Adam berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Linzy berdiri sendirian di lobi hotel dengan perasaan campur aduk antara marah, iri, dan kecewa.
Bersambung!...