Serangan mendadak

1026 Words
Sorot mata Justin yang tajam menatap lurus ke arah Vivian tanpa berusaha menyembunyikan rasa ketertarikannya pada Vivian. Seolah dunia di sekitarnya menghilang, menyisakan satu sosok yang berdiri diam dengan wajah pucat dan tubuh yang sedikit menegang di depannya. “Vivian Leona Martin,” gumam Justin dalam hati. Nama itu meluncur begitu saja, membawa kembali ingatan lama yang tak pernah benar-benar pergi darinya akan sosok Vivian. Vivian merasakan tatapan Justin itu. Kulitnya meremang, napasnya sedikit tersendat. Ia menunduk sejenak, lalu berusaha mengangkat wajahnya kembali untuk menatap Justin, meski jari-jarinya gemetar tanpa ia sadari. Setelah memarkirkan motornya dengan rapi, Justin melangkah mendekat. Setiap langkahnya mantap, penuh percaya diri. Orang-orang di sekitar seolah memberi jalan tanpa sadar, terintimidasi oleh auranya itu. Adam menelan ludah, lalu berdehem kecil sebelum membuka suara. Ia menatap Vivian, berusaha tersenyum menenangkan. “Vivian,” ucapnya lembut. “Waktu itu kau pernah bertemu dengan Justin di acara ulang tahun perusahaanku dua minggu lalu. Tapi saat itu aku tidak sempat memperkenalkan kau dan Justin secara resmi.” Adam mengalihkan pandangannya ke Justin. “Sekarang aku akan memperkenalkanmu padanya.” Vivian mengangguk pelan, meski tubuhnya terasa kaku. Ingatannya melayang pada malam itu di sebuah pesta megah milik perusahan Adam yaitu A'Scoup. Lampu-lampu terang saat itu, musik yang menggema, dan sosok Justin yang berdiri di sudut ruangan dengan tatapan dingin. Saat itu, tatapan mereka sempat bertemu. Hanya sesaat, namun cukup untuk membuat Vivian merasa kecil dan terintimidasi karena saat itu Vivian memdapati Justi menghajar seorang tamu undangan hingga babak belur tepat di depannya. Dan kini, sosok Justin Scott itu kembali muncul di hadapannya. “Vivian,” panggil Adam lagi, seolah menyadari kegugupan Vivian. “Ini Justin Scott. Temanku.” Justin berhenti tepat di depan Vivian. Jarak mereka tak lebih dari satu meter. Ia menatap Vivian tanpa senyum, namun juga tanpa permusuhan. Sorot matanya dalam namun tenang, seakan sedang membaca sesuatu yang bahkan Vivian sendiri tak pahami. “Senang akhirnya bisa bertemu denganmu kembali Nona Vivian,” ucap Justin datar, suaranya rendah dan tegas. Vivian mencoba membalas tatapan itu, namun kenangan lama dimana Justin menghajar seseorang secara membabi buta menyeruak kembali di pikiran Vivian. Ada rasa takut yang tak bisa ia jelaskan bukan karena Justin melakukan sesuatu yang buruk padanya, melainkan karena perasaan aneh yang selalu muncul setiap kali Justin berada di dekatnya. “A-aku juga,” jawab Vivian pelan, suaranya sedikit bergetar. Linzy memperhatikan interaksi itu dengan saksama. Matanya menyipit, menangkap sesuatu yang tidak ia sukai, cara Justin menatap Vivian terlalu lama, terlalu fokus. Ada rasa tidak nyaman yang menggelitik dadanya, ia menangkap tatapan Justin pada Vivian melunak. “Jadi… kita semua sudah lengkap?” tanya Linzy, mencoba memecah suasana. Justin mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Linzy, lalu kembali menatap Vivian. “Ya,” jawabnya singkat. "Kalau begitu, ayo kita pergi." Ajak Linzy. Saat mereka berjalan, dari arah belakang seorang lelaki bertato dan bertubuh kekar tanpa sengaja menabrak Vivian hingga Vivian terdorong dan nyaris jatuh untung Justin sigap dan segera menyanggah tubuh Vivian yang nyaris oleng. "Kalau jalan pakai mata," teriak lelaki bertato itu kearah Vivian membuat Justin kesal karena Justin tau dia yang menabrak Vivian tapi justru dia yang bersikap arogan pada Vivian. "Heh kau!.." Pekik Adam berniat menegur lelaki bertato itu namun nyali Adam ciut saat lelaki itu memelototinya. Lelaki bertato itu kini melangkah mendekati Adam "Apa?! Kau tak terima?!" ucap Lelaki bertato itu, sangar dengan suara keras. "Tidak apa-apa.." Jawab Adam seraya mundur sembari memamerkan senyuman canggungnya. Melihat tingkah arogan lelaki bertato itu, Justinpun tidak tahan tanpa aba-aba ia melangkah dengan langkah panjang dan Buuukkk!... Sebuah tinjuan keras melayang tepat di bagian tengah hidung lelaki bertato itu membuat hidung lelaki bertato itu patah dan mengeluarkan dar*h segar. Lelaki bertato itu berteriak kesakitan belum sempat merespon pukulan dari Justin yang pertama, Lelaki itu sudah berlutut di depan Vivian ketika Justin dari arah belakang menendang bagian bekalang lutut lelaki bertato itu dengan keras. Vivian terkejut melihat serangan mendadak dari Justin, begitu juga dengan Linzy tubuhnya langsung gemetar saat melihat sorot mata Justin yang benar-benar tanpa ampun. Justin melangkah tenang beralih kearah depan lelaki bertato itu, lalu ia menjambak rambut lelaki bertato itu dan menekan kepala lelaki bertato itu hingga sangat tertunduk di depan Vivian. "Minta maaf padanya." Ucap Justin seraya mengeratkan pegangannya pada rambut lelaki bertato itu. "Maafkan aku, Nona. Aku tidak sengaja dan tidak hati-hati saat berjalan tadi." ucap Lelaki bertato itu dengan nada suara menahan sakit. "Apa kau memaafkannya?" tanya Justin kearah Vivian yang saat itu masih mematung menatapnya. "Jika kau belum bisa memaafkannya, maka aku akan mematahkan kaki dan tangannya sekarang." ucap Justin matanya menatap kearah Vivian sementara tangannya masih sibuk mempermainkan kepala lelaki bertato itu. "Iya, aku memaafkannya." jawab Vivian dengan suara sedikit bergerat. Setelah mendengarkan jawaban dari Vivian Justin langsung melepaskan pegangannya pada rambut lelaki bertato itu, Justin mengeluarkan kartu nama berwarna hitam dari sakunya lalu melemparkan kartu nama itu pada lelaki bertato itu sambil berkata "Hubungi nomor itu untuk biaya rumah sakit dan ganti rugi kerusakan hidungmu." Lelaki bertato segera meraih kartu nama itu bergegas pergi meninggalkan mereka. Suasana kini kembali canggung dan tegang, Vivian kini menatap Justin "Terimakasih." ucap Vivian dengan suara terbatah dan lembut. "Tidak perlu berterimakasih, lagi pula aku melakukan itu bukan untuk dirimu, aku hanya jengkel saja karena lelaki itu merusak mood ku." jawab Justin membuat Linzy tertegun. "Ternyata rumor itu benar, dia akan menghajar siapapun tanpa ampun jika orang itu merusak moodnya." pikir Linzy menatap tajam kearah Justin. Adam tertawa canggung demi mencairkan suasana yang tegang itu. “Baiklah, ayo kita masuk. Kita tidak boleh terlambat.” Mereka pun melangkah menuju pintu masuk bandara. Vivian berjalan di samping Adam, sementara Justin berada di sisi lain, langkahnya seirama dengan Vivian namun ia menjaga jarak dengan Vivian. Sementara Linzy yang mengikuti di belakang, matanya bergantian menatap punggung Justin dan Vivian dengan perasaan yang semakin tidak nyaman. Dari tindakan Justin, Linzy mulai dapat menyimpulkan bahwa Justin menyukai Vivian. "Jika memang benar, Justin menyukai Vivian maka ini keuntungan bagiku. Aku bisa membuat Justin dan Vivian semakin dekat sementara aku dan Adam dapat menghabiskan waktu berduaan nantinya." pikir Linzy penuh kelicikan, Linzy bahkan sudah memikirkan cara-cara yang akan dia susun untuk mendekatkan Vivian pada Justin saat tiba di Jepang nanti. Bersambung!..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD