Sosok tak terduga

1079 Words
Mobil Adam akhirnya melaju meninggalkan halaman rumah besar keluarga Martin. Vivian duduk kaku di kursi penumpang depan, pandangannya lurus ke depan meski sudut matanya bisa menangkap pantulan wajah Linzy di kaca spion tengah. Senyum tipis di bibirnya sudah menghilang, tergantikan oleh ekspresi dingin yang sengaja ia pasang. Adam menyadari perubahan suasana itu. Tangannya menggenggam setir lebih erat, sementara sesekali ia melirik Vivian yang sejak tadi memilih diam. Udara di dalam mobil terasa berat, jauh berbeda dengan semangat Vivian beberapa menit lalu saat berlari menuruni tangga. “Kita akan langsung ke bandara,” ucap Adam akhirnya, mencoba mencairkan suasana. “Penerbangan kita satu jam setengah lagi.” Vivian hanya mengangguk singkat tanpa menoleh. "Hmm.” Di kursi belakang, Linzy menyandarkan punggungnya sambil menyilangkan tangan di d**a. Wajahnya jelas menahan kesal, namun matanya tak berhenti menatap Vivian dengan sorot penuh perhitungan. Dalam diam, Linzy menggigit bibirnya, seolah sedang menahan sesuatu yang ingin ia ucapkan. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang canggung. “Kak Vivian,” Linzy tiba-tiba bersuara, nadanya terdengar lembut namun mengandung nada terselubung. “Maaf ya kalau aku jadi ikut. Aku hanya tidak enak sendirian di rumah.” Vivian menarik napas pelan. Ia menoleh sedikit, menatap Linzy lewat kaca spion dengan sorot mata dingin. "Tidak perlu minta maaf padaku,” jawabnya singkat. “Kau diundang oleh Adam, bukan olehku.” Ucapan itu membuat Linzy terdiam. Senyum manis yang sedari tadi ia pertahankan perlahan memudar. Adam langsung melirik Vivian, sedikit terkejut dengan ketegasan gadis itu. “Vivian,” panggil Adam dengan nada memperingatkan. “Jangan begitu, kenapa kau begitu pencemburu. Bagaimanapun Linzy adalah adik sepupuku dan orang tuanya menitipkannya padaku jadi aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri dalam keadaan orang tuanya tidak ada disini.” Vivian menoleh penuh ke arah Adam. Matanya tajam, suaranya tertahan namun jelas. "Aku tidak sedang cemburu Adam. Aku hanya tidak suka saja kau mengajaknya tanpa memberitahu ku terlebih dahulu.” Adam terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang. “Aku hanya berpikir ini bukan masalah besar sampai aku harus memberitahumu terlebih dahulu." “Bagimu mungkin ini bukan masalah besar,” sahut Vivian pelan, namun sarat makna. “Tapi bagiku tidak. Ini liburan pertama kita, harusnya kau bicara dulu sebelum memutuskan untuk mengajar seseorang." Linzy menunduk, jari-jarinya saling meremas di pangkuannya. Namun di balik sikap tertunduk itu, sudut bibirnya justru terangkat samar membentuk pola senyumam. Ada kepuasan kecil yang tak bisa ia sembunyikan, melihat ketegangan antara Vivian dan Adam adalah hal yang ia inginkan. Mobil kembali sunyi. Hanya suara mesin dan deru jalan yang menemani mereka. Vivian memalingkan wajah ke jendela, menatap pemandangan kota yang perlahan berlalu. Hatinya terasa menghangat oleh amarah yang tertahan. Ia bukan bodoh. Tatapan Linzy, sikap Adam yang terlalu mudah mengalah pada gadis itu, semua terasa janggal. Ada batas yang seharusnya dijaga meski hubungan mereka adalah sepupu, dan menurut Vivian, batas itu telah dilanggar. Di balik kemudi, Adam berkali-kali mencuri pandang ke arah Vivian. Baru kali ini ia melihat tunangannya sedingin itu. Ada perasaan bersalah pada Vivian, namun Adam tidak memiliki pilihan lain selain mengajak Linzy karena jika tidak Linzy akan membongkar hubungan mereka dan Adam tidak mau Vivian tau bahwa Linzy adalah selingkuhannya. Adam masih memerlukan dukungan keluarga Vivian di perusahaan keluarganya. Sementara itu, Linzy bersandar nyaman di kursi belakang, matanya terpejam sejenak seolah benar-benar mabuk perjalanan. Namun pikirannya bekerja cepat. Liburan ini baru saja dimulai, dan ia tahu… kehadirannya tidak akan sekadar menjadi penumpang biasa, dia akan tunjukan pada Vivian bahwa Adam sangat mencintainya. *** Mobil yang dikendarai Adam akhirnya memasuki area parkir bandara. Deru mesin perlahan mereda, digantikan oleh hiruk-pikuk khas bandara, suara roda koper yang diseret, pengumuman penerbangan yang bersahut-sahutan, serta langkah-langkah tergesa para penumpang yang berlalu-lalang. Begitu mobil berhenti sempurna, Adam segera membuka pintu dan turun lebih dulu. Wajahnya tampak fokus, seolah pikirannya sudah beralih pada jadwal penerbangan yang tak boleh terlewat. Ia membuka bagasi dan mulai mengurus koper-koper mereka. Tak lama kemudian, Vivian ikut keluar dari mobil. Gaun navy yang ia kenakan membuatnya tampak mencolok di tengah keramaian, anggun namun dingin. Ia berdiri beberapa langkah dari Adam, membiarkan pria itu mengurus kopernya tanpa protes. Ada jarak yang tak kasatmata di antara mereka sejak kejadian di mobil tadi. Linzy menyusul keluar dari kursi belakang dengan wajah yang masih menyimpan kekesalan. Tanpa menunggu siapa pun, ia langsung mengambil kopernya sendiri dari dekat Adam. Gerakannya sedikit kasar, seolah ingin melampiaskan emosi yang tertahan. “Ayo!” ajak Linzy penuh semangat yang dibuat-buat, sambil melangkah lebih dulu ke arah pintu masuk bandara. “Tunggu dulu,” ucap Adam tiba-tiba. Langkah Linzy terhenti. Ia menoleh cepat, alisnya terangkat. “Kenapa?” tanyanya, nada suaranya tak bisa sepenuhnya menyembunyikan ketidaksabaran. “Kita masih harus menunggu satu orang lagi,” jawab Adam singkat. Linzy mengernyit. “Siapa lagi?” Adam belum sempat menjawab ketika suara raungan mesin motor yang keras mendekat, memecah perhatian mereka bertiga. Suara itu terdengar berbeda, lebih berat, lebih tegas membuat beberapa orang di sekitar parkiran refleks menoleh. Motor besar berwarna hitam pekat berhenti tepat di depan mereka. Pengendaranya menurunkan standar dengan gerakan mantap, lalu melepas helm hitam doff yang menutupi kepalanya. Seketika, udara di sekitar mereka terasa berubah. Seorang pria dengan tubuh atletis dan postur tegap berdiri di sana. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena helm, rahangnya tegas, dan sorot matanya tajam seolah mampu menembus siapa pun yang ditatapnya. Aura dingin dan intimidatif terpancar jelas dari dirinya, tenang namun berbahaya. Vivian, Adam, dan Linzy sama-sama terdiam. “Justin…” gumam Vivian dan Linzy hampir bersamaan. Vivian terpaku. Jantungnya berdetak lebih cepat tanpa permisi. Ia memang ingat Adam pernah menyebutkan bahwa temannya akan ikut dalam perjalanan liburan ini. Namun ia tak pernah menyangka bahwa yang dimaksud adalah Justin. Justin Scott. Nama itu mengingatkan kembali Vivian pada kejadian tak mengenakan 2 minggu lalu. Aura Justin itu membuat suasana di antara mereka menegang. Bahkan Adam, yang biasanya santai, tampak sedikit berhati-hati. Sementara Linzy tanpa sadar melangkah setengah langkah lebih dekat ke Adam, seolah mencari perlindungan. “Bukannya dia Justin Scott yang terkenal dingin dan kejam itu?” bisik Linzy pelan ke arah Adam, suaranya nyaris tenggelam oleh keramaian bandara. “Aku dengar dia tidak akan segan menghajar orang yang merusak mood-nya.” Adam melirik cepat ke arah Justin, lalu menatap Linzy dengan tajam. “Huss! Jaga omonganmu,” bisiknya memperingatkan. “Nanti Justin dengar.” Linzy langsung terdiam, menelan kata-kata yang hampir keluar dari mulutnya. Ia menatap Justin dengan pandangan campur aduk antara penasaran dan waspada. Sementara itu, sejak detik pertama tiba di parkiran bandara, perhatian Justin hanya tertuju pada satu orang yaitu Vivian. Bersambung!...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD