Bab 15

1140 Words
Ali dan Aletha makan seperti biasanya, mereka makan malam seperti tidak ada yang terjadi. “bagaimana pekerjaanmu, lancar?” tanya Aletha menatap Ali. “hm , lancar. Pekerjaanmu?” “seperti biasa, tidak ada yang berubah. Selalu membosankan” jawab Aletha lalu melanjutkan makannya. Drt..drt.... Aletha langsung mengangkat panggilan dari Nadia, ibu Day. “iya mam?” “june masuk rumah sakit, dia pendarahan. Kamu bisa kerumah sakit sekarang, ponsel day tidak bisa dihubungi” “mama sekarang dimana?” “dirumah sakit bahagia” “mama tunggu disana, Aletha langsung pergi sekarang” Tut, “mau pergi kemana?” tanya Ali membuat Aletha menghentikan langkahnya. “kerumah sakit, june pendarahan” “mau kuantar?” “tidak, aku bisa pergi sendiri. Terima kasih” tolak Aletha masuk kedalam kamarnya dan mengambil cardigannya. June? Siapa dia? Tanya Ali pada dirinya sendiri, Ali menggelengkan kepalanya. Ia tidak peduli. Aletha diatar oleh supir pribadi yang telah disiapkan oleh Ali, Aletha berjalan menuju nadia yang berada didepan ruangan june. “bagaimana keadaan june mam?” tanya Aletha membuat nadia langsung memeluk Aletha. “mama tidak tau la, june masih diperiksa dokter “mama tenang ya, Aletha yakin june dan bayinya baik-baik saja” “amiin,” “bagaimana keadaan menantu saya dok?” tanya nadia ketika dokter telah selesai memeriksa keadaan june. “keadaannya baik-baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan, saya menyarankan untuk pasien tidak stress karena berpengaruh pada bayi yang dikandungnya.” “terima kasih dok, boleh kami melihat june dok?” “sama-sama. Tentu saja kalau begitu saya permisi” Aletha merasakan kepalanya kembali pusing bagai ditusuk berjuta jarum, hidungnya mengalir darah segar, penglihatannya memudar. Dengan susah payah Aletha duduk dikursi tunggu, ia menundukan kepalanya dan mengelap darah dihidungnya menggunakan cardigannya, untung saja cargidannya bewarna hitam jadi noda darah bisa tertutupi. Biasanya sakit kepala Aletha tidak sesakit ini apabila sudah meminum obatnya, apa Aletha perlu menambahkan dosisnya agar rasa sakit dikepalanya hilang agak lama. Nadia masuk tanpa Aletha dan langsung bertanya pada june bagaimana keadaannya. “bagaimana keadaan mu sayang? Sudah baik?” tanya nya lembut “june baik mam, terima kasih karena telah membawa june kerumah sakit” “tidak perlu berterima kasih, memang sudah tugas mama” “mama sendiri?” tanya june melihat kebelakang nadia. “tidak mama dengan Aletha, astaga mana anak itu. Kau tunggu sebentar ya mama cari Aletha dulu” ujar nadia pergi keluar mencari Aletha. Nadia mendapati Aletha sedang duduk dikursi tunggu dengan kepala terdunduk. “sayang?” tegur nadia membuat Aletha langsung mendongakan kepalanya. “iya mam, bagaimana keadaan june?” jawab Aletha tersenyum “sudah baik, ayo masuk” Aletha menganggukan kepalanya, kepalanya masih sakit tapi tidak sesakit tadi. Aletha tersenyum pada june, ketika ia sudah didalam ruangan june. Aletha tidak bertanya lagi bagaimana keadaan june karena ia sudah tau kalau june sudah baik-baik saja. “coba, kau telpon day sayang. Ponselnya aktif tapi telpon mama tidak diangkat” “Aletha coba mam” “iya sayang” Aletha mencoba menelpon Day tapi pria itu tidak mengangkat panggilannya, Aletha kesal lalu mengirim pesan pada day karena ia sudah berkali-kali menelpon tapi tidak diangkat. ‘aku tidak akan bertemu dengan mu lagi kalau kau tidak mengangat telponku’ Drt..drt... “ini day mam,” “angkat lah sayang, katakan kalau june dirumah sakit sekarang” “kerumah sakit bahagia sekarang!” “kau kenapa? Sakit? Terluka? Atau si b******k itu yang membuatmu terluka?” “kau yang b******k! Kesini sekarang juga atau aku akan membunuhmu” “aku kesana sekarang” Tut. “apa katanya sayang?” “dia akan kesini mam” “baguslah” “kalau begitu Aletha pulang dulu mam, june aku pulang” pamit Aletha membuat keduanya menganggukan kepala mereka. “kau hati-hati” “iya mam” $$ Sebelum pulang Aletha menemui dokternya, ia meminta dosis obatnya agar ditambahkan. “tidak bisa Leth, dosis obatmu yang sekarang sudah tinggi. Aku tidak menganjurkan mu untuk menambah dosismu, tidak akan!” tolak dokter Aletha membuat Aletha menatap dokter itu dengan tatapan memohon. “aku mohon, rasa sakit semakin tidak bisa aku atasi rasanya aku akan mati saat itu juga” Dokter bambam menatap iba pada Aletha, sisa hidupnya tidak lama lagi dan hanya bergantung pada obat yang dosisnya semakin meningkat. Bambam sudah menjadi dokter Aletha selama 4 tahun tentu saja ia sudah mengenal Aletha seperti anaknya sendiri. “baiklah, tapi ini untuk terakhir kalinya” “baik dok, terima kasih” Aletha menyimpan obatnya didalam laci riasnya dan juga disemua tas yang sering ia bawa, karena ia selalu lupa membawa obat mangkanya Aletha meletakan kesemua tasnya Aletha tidak mau ambil resiko kalau ia pingsan dan ditemukan orang. - Ali bangu terlebih dahulu dan itu tidak seperti biasanya, Ali menatap wajah Aletha yang masih tertidur pulas. Putih bersih, dan cantik. Tanpa sadar tangan Ali sudah menyentuh wajah Aletha dan merabah setiap anggota wajah Aletha, begitu lembut ditangan. Aletha menggeliat dari tidur nya membuat Ali segera menarik tangannya dan bangun dari tidurnya, ia menggelengkan kepala kenapa ia bisa memegang wajah Aletha. Ali segera mandi, karena hari ini ia ada rapat penting dengan para artis dan modelnya. Ali sudah selesai mandi dan telah memakai setelan jasnya tapi Aletha belum juga bangun dari tidurnya, sekali lagi Ali datang pada Aletha dan mengecek apakah Aletha masih bernafas atau tidak. Ali menghela nafas lega karena Aletha masih bernafas. Ali keluar dari kamar, ia membiarkan Aletha untuk tidur lebih lama sepertinya wanita itu perlu istirahat. Ali sungguh merasa tidak enak sarapan sendiri, biasanya ia dan Aletha sarapan bersama. Entahlah seperti ada yang mengganjal dihatinya, Ali segera menggelengkan kepalanya. “kenapa tidak membangun kan aku?” tanya Aletha membuat Ali tersadar dan mendongak kearah Aletha. “aku kira kau tidak bekerja hari ini” jawab Ali menatap tidak percaya dengan apa yang ia tatap sekarang, Aletha memasang kancing kemejanya didepan Ali. Ali dapat melihat bra hitam itu, sangat menggoda iman. “tolong, kalau lain kali aku belum bangun tolong bangunkan aku” ujar Aletha duduk dihadapan Ali. “baiklah” jawab Ali sedikit gugup. “terima kasih” Aletha tidak percaya ini, ia bangun kesiangan dan parahnya lagi ia berangkat kerja tanpa mandi, Aletha ulangi sekali lagi tanpa mandi. Ini mungkin karena efek dosis obat yang bertambah sehingga membuatnya mengantuk. Aletha mau tidak bekerja hari ini tapi ada pekerjaan penting yang harus ia lakukan yang tidak bisa ia tinggalkan. Mata Ali terus menatap kemeja pink mudah Aletha, tapi dengan pandangan berbeda. Berbeda dalam artian Ali hanya melihat bra hitam yang tercetak jelas diotaknya. “kenapa? Ada yang salah? Sudah kuduga warna pink tidak sesuai dengan ku, tapi diana memaksaku” tanya Aletha membuat Ali gelagapan. “tidak ada, kemeja yang kau pakai tampak cocok “benarkah?” “iya cocok sekali” Aletha menanggukan kepalanya lalu memakan sarapannya, sedangkan Ali segera mengalihkan pandangannya, bisa-bisa saja ia khilaf. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD