“omong kosong macam apa ini! Ali tunangan yang amat aku cintai sedang bercanda ria dengan wanita lain, KAU MENIKAH DENGAN WANITA LAIN ALI! KAU ANGGAP APA AKU SELAMA INI! CINTA? Lupakan saja, kita selesai sampai disini” teriak clara frustasi,tidak ada clara si artis terkenal yang anggun sekarang ada nya clara sebagai tunangan Ali.
“sayang dengar kan aku terlebih dahulu” ujar Ali mencoba menjelaskan namun dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“APA! APA YANG HARUS AKU DENGARKAN!” teriak clara, air mata yang semula akan kering kembali menetes lagi.
“ini bukan pernikan seperti yang kau bayangkan, aku menikahinya karena aku akan meninggalkannya sama hal yang dilakukan Roy yang meninggalkan mami demi jalang itu! Sayang mengertilah cintaku hanya untukmu, setelah semua berjalan seperti rencanaku maka aku akan melepaskannya seperti sampah. Sayang aku mohon maafkan aku, aku janji ini akan cepat berlalu.”
Clara menghela nafas, ia harus memaafkan Ali segera kalau ia mengeluarkan semua emosinya ia takut Ali tidak akan melunak pada nya. Masalah wanita itu ia hanya perlu mengawasi saja, jika ada hal yang melewati batas maka siap-siap akan berurusan dengan nya.
“sayang, kau memaafkan aku. Percaya lah sayang aku hanya mencintaimu tidak ada orang lain”
Clara memeluk Ali, ia tidak mau ambil resiko kehilangan Ali.
“aku memaafkanmu, hati memang terluka tapi aku begitu mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku dan berjanji lah kau akan membuangnya”
“aku janji sayang”
Ali dan clara tidak menyadari kalau dari tadi Aletha telah mendengar semuanya,
Aletha merasakan sesak didadanya, ia bisa menerima kalau nantinya Ali akan meninggalkannya dan membuangnya bak sampah, tapi ia tidak bisa menerima ketika Ali mengatakan ibunya jalang, orang tuanya memang membedakan anatara dirinya dan juga Cia. Sandra, wanita itu memang terlihat jahat namun Aletha tau kalau Sandra juga sayang padanya. Hanya saja Sandra tidak tau bagaimana cara bersikap, bundanya itu selalu mengklaim bahwa bundanya jahat tapi Aletha tidak begitu. Wanita itu bundanya, dia yang mengurus Aletha dari kecil, bundanya yang mengurusnya ketika dia sakit, bahkan ketika taman kanak-kanak ia terjatuh diayunan taman bermain bundanya memarahi semua orang karena mengira ia dikucilkan disekolah. Baginya Sandra adalah pusat dunianya, tapi Ali malah menghina dunia dan itu tidak termaafkan.
Aletha bahkan tidak peduli kalau benar ayahnya meninggalkan ibu Ali demi bundanya, sekarang Aletha mengerti semua ini hanya permainan dan Aletha akan bersiap akan berakhirnya permainan ini.
Sebentar, Aletha melupakan sesuatu kalau ayahnya meninggalkan ibu alavro demi bundanya. Berarti Ali dengan nya bersaudara? Tidak mungkin, mungkin saja ibu Ali sudah menikah lagi. Aletha berpositif tinking.
“nyonya, ingin makan malam apa?” tanya diana membuat Aletha tersadar dari lamunannya.
“apa saja,”
“baik nyonya,”
“sebentar di, siapa wanita itu?”
“dia..dia..”
“jawab saja, aku tidak akan memakanmu”
“tunangan tuan nyonya,”
“baiklah, terima kasih di”
Baiklah sekarang drama yang sesungguhnya akan dimulai, kita lihat siapa yang akan menang. Batin Aletha.
Setelah makan malam, Aletha tidur sendiri. Ah, bukan berarti Aletha menginginkan tidur bersama Ali. Pria itu tidak pulang dan Aletha tidak akan bertanya-tanya kemana pria itu pergi. Tentu saja pergi bersama tunangannya, apalagi memangnya.
$$
Sebelum berangkat kerja, diana menceritkan semua padanya bukan tepatnya Aletha memaksa diana untuk bercerita pada nya mengenai Ali. Ali adalah anak angkat, tapi Hanna sangat menyanyangi Ali seperti anak sendiri.
Diana juga memberi tahu kalau Ali juga sangat disayangi oleh seluruh keluarganya karena Ali menjadi anak kebanggan Hanna.
Sekarang Aletha mengerti kenapa Ali ingin membalas dendam, karena ingin membalas budi Ali ingin membalas dendam dengan keluarganya.
Awalnya Aletha tidak mengira ini semua akan terjadi padanya, Aletha seperti diangkat tinggi-tinggi lalu dihemparkan dengan keras. Tapi, Aletha tidak peduli itu yang penting sekarang lihat dan tunggu saja siapa yang akan kalah. Sebenarnya Aletha tidak terlalu peduli, ia bahkan siap mundur teratur namun karena Ali telah menghina bundanya maka tidak akan Aletha biarkan.
Ali tidak pulang setelah dari rumah wanitanya ia langsung kekantor, ia berdoa dalam hati semoga saja rencana nya akan berjalan dengan lancar.
-
Aletha tidak pulang setelah pekerjaannya selesai, ia pulang kerumah orang tuanya.
“kenapa kau kesini? Pulanglah kerumah suamimu” ujar Sandra menghampiri Aletha
“aku hanya mengambil barang yang tertinggal bun”
“carilah, setelah itu pulang”
“baiklah”
Aletha masuk kedalam kamarnya, masih sama hanya saja sekarang sudah bersih dan rapi. Aletha tentu saja tau siapa yang membereskan kamarnya siapa lagi dia bundanya.
“KAU INI BAGAIMANA! BUKAN KECAP YANG INI AKU PERLUKAN, AMBIL YANG LAIN. CEPATLAH NANTI ALETHA PULANG”
Aletha dapat mendengar bundanya memarahi pekerja karena salah mengambil kecap, Aletha dapat menebak bunda nya sedang memasak ayam kecap kesukaannya sekarang.
Aletha sengaja melama kan diri sampai bundanya selesai memasak, bundanya tadi berteriak terlalu kencang. Bundanya masih orang yang sama.
“sudah ketemu barangnya?” tanya Sandra setelah Aletha keluar dari kamar
“sudah bun, Aletha pamit”
“ada ayam kecap dimeja makan, sisa makan Cia tadi pagi. Makan lah dulu sebelum pulang” ujar Sandra hampir membuat Aletha tertawa. Sisa makan Cia? Yang benar saja Cia tidak menyukai ayam apalagi kecap dan ya bundanya pembohong yang buruk jelas-jelas Aletha tau bundanya memasak untuk dirinya.
“tunggu apalagi, nanti dingin!” ujar Sandra menatap sinis Aletha.
“terima kasih bun, masakannya” ujar Aletha pergi kemeja makan.
‘makan yang kenyang sayang, kau begitu kurus sekarang. Apakah kau masih tidak sarapan pagi dengan baik? Bagaimana dengan makan malammu? Maghmu baik-baik saja kan sayang’
Sebenarnya pertanyaan itu yang ingin Sandra lontarkan tapi mulutnya terkunci rapat, ia tidak sanggup membuka mulutnya. Melihat Aletha makan dengan lahap seperti ini membuatnya lega, lega karena putri bungsunya makan dengan baik.
Aletha selesai makan dan ia mencuci piring nya sendiri, Sandra menghampiri Aletha.
“kau bukan pelayan, pulanglah biar orang lain saja yang mencucinya!” perintah Sandra membuat Aletha meninggalkan piringnya.
“Aletha pulang bun, beri salam pada ayah”
“kau tau arah pintu keluarkan”
Aletha tersenyum dan menganggukan kepalanya ia mengambil tas nya dan meninggalkan rumah sebelum ia pergi Aletha melihat bundanya yang menyucikan piringnya.
Inilah yang Aletha tidak bisa, membenci bundanya. Bundanya bukan orang yang tepat untuk dibenci, bundanya orang baik dan wanita yang mencintai suaminya.
Aletha menyanyangi wanita tua itu, dihari terakhirnya nanti Aletha hanya ingin melihat bundanya, hanya bundanya saja cukup bagi Aletha.
Tbc