Ali selesai bekerja pukul 8 malam dan ketika keluar dari kantor hujan sudah berhenti, Ali menepuk dijadatnya ia lupa janjinya akan menjemput Aletha. Ali menepuk stirnya, sekarang kenapa dia menjadi sedikit labil seperti ini. Ali melajukan mobilnya menuju jalan pulang, mungkin saja Aletha sudah pulang mengingat hari sudah malam.
Sedangkan masih didepan gedung kantor Aletha masih menunggu Ali bukan lebih tepatnya menunggu hujan berhenti. Aletha naik ke taksi yang sudah ia pesan tadi, mungkin Ali sibuk mangkanya dia lupa menjemput Aletha. Aletha tidak berharap dijemput oleh Ali hanya saja Aletha takut nanti kalau dia pulang duluan Ali menjemputnya.
Ali sampai lebih dulu, ia melihat sekelilingnya dan tidak menemukan Aletha. Ali mengambil ponselnya lalu menelpon Aletha.
“kau dimana?”
“aku dilift”
Tut.
Ali mematikan panggilan, keningnya berkerut kenapa dia baru pulang jam segini?
“sudah pulang?” tanya Aletha ketika sudah berada didalam apartemen.
“hm, kau sendiri?”
“iya, aku kerumah orang tua ku dulu tadi. Jangan-jangan kau datang menjemputku dan aku tidak ada?” tanya Aletha sambil tersenyum jahil
“syukurlah, aku ada rapat tadi. Ku kira kau belum pulang menungguku”
“menunggumu, ayo lah al. Aku kan sudah bilang terlambat satu detik saja maka aku akan pulang duluan” ujar Aletha tertawa renyah.
“sudah makan?” tanya Aletha menghampiri Ali dan mengambil alih tas kerja Ali, Ali menggelengkan kepalanya.
“kau mandilah, akan ku masakan” ujar Aletha menampakan senyumnya
“baiklah, akanku letakan sendiri” jawab Ali mengambil alih tas kerjanya.
Aletha melepaskan rompi kerjanya yang sekarang hanya menampakan kemeja putih, Aletha langsung mengambil bahan-bahan masaknya didalam kulkas.
Aletha mulai memasak, ketika ia sedang memotong wartel tiba-tiba saja darah segar keluar dari hidungnya.
“astaga, sepertinya kematianku sudah dekat” ujar Aletha santai dan membersihkan darah dihidungnya
“aissss, menyusahkan saja” gerutu Aletha kesal karena ada noda darah dipergelangan kemeja putihnya.
Setelah membersihkan hidungnya, Aletha melanjutkan memasaknya.
Makanan sudah diletakan keatas meja makan berbarengan dengan Ali yang sudah selesai mandi.
“ayo, makan” ujar Aletha tersenyum pada Ali.
Aletha memasak makanan yang mudah dimasak, mengingat waktu sudah malam.
Ali tidak sengaja melihat noda darah dipergelengan kemeja Aletha, tampak begitu jelas karena kemeja yang Aletha gunakan bewarna putih.
“tanganmu terluka?” tanya Ali menunjuk kemeja Aletha.
“hm, luka kecil”
“sudah diobati?”
“sudah, walaupun kecil kalau tidak diobati nanti akan infeksi” jawab Aletha berbohong.
“baguslah”
-
Aletha terkejut ketika keluar kamar begitu banyak orang-orang berseragam hitam putih yang berkeliling dikediamannnya ah salah di apartemen Ali.
“siapa mereka?” tanya Aletha mendekati Ali yang baru saja keluar dari kamarnya.
“pekerja” jawab Ali santai,
“pekerja?”m
“hm, mereka sudah dua minggu berlibur saat nya kembali bekerja. Jadi kau tidak perlu lagi mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak”
“kenapa?”
“karena itu memang bukan tugasmu” jawab Ali meminum kopinya.
Mereka sudah duduk dimeja makan, banyak sekali makanan yang tersaji dimeja makan membuat Aletha tercengang
“dia diana, kepala pelayan kalau ada apa-apa beri tahu dia saja”
“oke” jawab Aletha menganggu-anggukan kepalanya.
Aletha sama sekali tidak berpikir kalau Ali sekaya ini, bukan, bukan berarti Aletha tidak tau kalau Ali memang kaya hanya saja Aletha tidak mengira kalau Ali akan sekaya ini.
“ah ya, aku hampir lupa mulai sekarang akan ada yang mengantar dan menjumputmu. Jangan gunakan taksi atau pun bus lagi”
“mana bisa begitu?” protes Aletha membuat Ali mengangkat jari telunjuknya dan menggelengkan kepalanya.
“aku sudah berpikir keras Ta, bukan berarti kau tidak becus mengurus rumah, tidak bisa memasak, atau lain sebagainya, dan bukannya aku tidak mau menjemput mengantarmu. Tapi karena memang setiap mereka ada tugasnya, sekarang kau mengertikan”
Aletha menganggukan kepalanya,
“baiklah, terima kasih”
“bagus”
$$$
Aletha masih belum terbisa dengan banyaknya pelayan, bahkan Aletha tidak terbiasa dilayani begitu dekat seperti sekarang diana berdebat dengannya karena ingin mengeringkan rambut Aletha.
“tolong nyonya biarkan saya mengerjakan tugas saya”
“aku bisa sendiri, kau bisa melakukan tugas yang lainya” ujar Aletha tersenyum kaku.
“permisi buk, paketnya sudah sampai”
“baiklah, kau tolong pilihkan baju yang akan dipakai oleh nyonya dan kau bantu nyonya untuk mengeringkan rambut” perintah diana lalu keluar dari kamar Aletha.
Ah, Aletha malam tadi tidur dikamar Ali karena mereka tahunya Ali dan Aletha sudah menikah jadilah malam tadi mereka tidur bersama. Ets, bukan melakukan hal tanda kutip mereka hanya tidur.
Aletha menatap kedua orang didepannya pasrah, setelah rambutnya kering Aletha memakai setelan kerja yang telah disiapkan. Agak berlebihan tapi Aletha tidak bisa menolak.
“apa ini?” tanya Aletha ketika banyak orang masuk kedalam kamar membawa banyak jenis pakaian, make up bermerk terkenal, serta kaca besar tidak sangat besar.
“ini semua perintah tuan nyonya”
“baiklah, baiklah. Aku berangkat”
“hati-hati nyonya”
“ya”
Sungguh Aletha hanya melihat adegan ini didalam drama korea yang ia tonton, ia sama sekali tidak menyangka kalau ini akan terjadi dengan dirinya. Ini seperti ia sedang masuk kedalam salah satu drama yang mana ia akan menjadi pemeran utamanya,
Seperti kata Ali kemarin, hari ini Aletha akan diatar oleh supir pribadi.
Ali datang kesalah satu amal dimana ia menjadi sponsornya, ia menatap dani sepupunya ia tersenyum sambil mengangkat gelasnya keudara. Ali tidak menyukai dani tapi Ali tidak menunjukan itu karena jika kau ingin melihat kelemahan musuhmu maka dekati dia dengan pertemanan.
-
Aletha menatap tidak percaya kamarnya sekarang sudah disulap menjadi kamar seorang ratu, oh tidak berlebihan sekali maksud Aletha sudah dirubah menjadi menakjubkan.
Cia pasti menyesal karena telah menolak Ali, tapi ya Aletha akui dani juga orang yang sangat kaya. Bagaimana bisa Cia meninggalkan pria itu,
Tapi mau semewah apapun itu, Aletha lebih memilih rumah dengan halaman luas sehingga keluarga dan anak-anaknya nanti bisa bermain disana, tidak masalah sederhana yang penting halaman luas.
Ali pulang pukul 18.00 lebih cepat dari biasanya membuat mereka memutuskan untuk bermain game diruang tengah. Aletha sudah berapa kali mengeluh karena selalu kalah dan Ali puas akan itu.
“kau curang, tidak seru sama sekali”
“kau yang payah, masa masih dilevel rendah begini kau kalah” ejek Ali membuat Aletha kesal.
“aku tidak payah, hanya saja aku memang tidak pernah bermain game mangkanya aku begini” elak Aletha membuat Ali tersenyum mengejek.
“ais, mana ada begitu kau benar-benar payah dalam apapun”
“aku tidak payah, mari buktikan dengan main sekali lagi”
“tidak mau” jawab Ali membuat Aletha menatap tajam Ali.
“kalau kau tidak mau berarti kau mengakui kalau aku lebih baik dari mu” ujar Aletha,
“baiklah, sekali lagi. Siapa yang kalau akan mendapat hukuman”
“oke, setuju”
Mereka bermain game satu ronde lagi, dan lagi-lagi Aletha kalah membuat Ali tertawa puas.
Karena Aletha tidak mau kena hukuman ia berdiri dari duduknya dan melempari Ali dengan bantal sofa.
“mau kemana kau, kau belum mendapat hukuman”
“tidak mau, haha”
Jadilah mereka lempar-lemparan bantal sofa seperti anak kecil.
“sayang?”
Gerakan Ali terhenti begitu juga dengan tawa Aletha, clara?
Tbc