Bab 17

1193 Words
hari dimana Aletha akan bermalas-malasan telah tiba, Aletha menikmati waktu libur nya. Waktu libur Aletha tidak akan tersia-siakan. Seperti sekarang ia bahkan malas mengambil snack yang ada diatas meja. Mata nya terus menatap drama korea didepannya sedangkan tanganya berusaha keras mencari cemilannya. Brukk Aletha jatuh kelantai, kepalanya terbentur meja kaca sehingga keningnya berdarah. Diana langsung menghampiri Aletha dan membantu Aletha. “terima kasih di,” ujar Aletha tulus lalu mengambil cemilannya dan melanjutkan menontonnya. “ya tuhan , kening nyonya berdarah. SEKAR, TOLONG AMBILKAN KOTAK OBAT!” teriak diana spontan. Aletha memegang keningnya, benar berdarah. “biar saja obati nyonya” ujar diana ketika sekar telah membawakan kotak obat. “aku saja, kau kembali la bekerja” ujar Aletha membuat diana menggelengkan kepalanya dan mengobati luka dikening Aletha. Aletha sama sekali tidak meringis karena memang itu luka kecil malahan diana yang meringis melihat nyonyanya sama sekali tidak mengeluh sakit. “terima kasih di,” ujar Aletha tulus lalu melanjutkan menontonnya dengan serius. Sudah pukul lima sore dan Aletha sudah terkapar, ia tertidur sementara televisi yang menontonya sekarang dan Meja berantakan dengan cemilan. Diana hanya geleng-geleng kepala atas tingkah nyonyanya dan memberesi meja sehingga bersih kembali. “dimana Ali?”tanya clara mengamati sekeliling. “tuan belum pulang” “wanita itu?” Awalnya diana bingung siapa wanita itu siapa, namun ia langsung konek ketika mengingat Aletha. “nyonya sedang beristirahat” Aletha bagun karena mendengar ada suara orang asing didalam rumahnya. “siapa?” tanya Aletha “ada nona clara, nyonya” jawab diana “oh” ujar Aletha berjalan kedapur dan mengambil minum, tenggorokannya terasa kering. Clara merasa tidak terima karena Aletha melewatinya begitu saja. Ia menyusul Aletha kedapur. Clara bertambah geram karena melihat tanda merah disekelili leher Aletha, ia ingin meluapkan emosinya tapi ia tahan. Ia harus memakai cara halus untuk menghadapi musuhnya. “kita belum berkenalan secara resmi, aku clara tunangan varo dan kami saling mencintai. Aku akan sering main kesini untuk berkunjung. ku harap kau tidak apa kalau aku sering main kesini” ujar clara lembut. Aletha tercengang, clara memang berbicara lembut tapi dibalik kelembutan nya itu ada sesuatu. Aletha ingin sekali berteriak dan mengatakan, ‘kau hanya tunangan bodoh, aku istrinya’ karena Aletha tidak mau mencari keributan jadi dia hanya tersenyum saja. “aku rasa al akan senang kalau kau sering berkunjung, sering-seringlah datang” jawab Aletha lalu meminum airnya karena ia belum minum rasa hausnya tadi lenyap entah kemana. clara menatap Aletha tidak suka, sedangkan Aletha ia hanya tersenyum lalu keruang tv lagi. “di, tolong ambilkan aku cemilan ya” “baik nyonya” Aletha melanjutkan drama koreanya, tapi sebelum itu ia masuk kedalam kamar meminum obatnya. “terima kasih di” ujar Aletha ketika diana mengantarkan cemilan untuknya. “sama-sama nyonya” Aletha tidak memperdulikan clara yang mengelilingi kediamannya ah salah lagi kediaman Ali. Ia memfokus kan diri pada dramanya. “kau, duduklah kalau mau ikut menonton” ujar Aletha ketika melihat sekar menonton sambil berdiri. “saya tidak menonton nyonya” jawab sekar gugup, Aletha tau itu bohong. Aletha dapat melihat orang yang gemar menonton drama korea. “duduklah, dan makan ini. ini perintah dariku” “tapi nyonya..” “duduklah” ujar Aletha lagi membuat sekar langsung menoleh kearah diana, setelah diana menganggukan kepalanya barulah sekar duduk dengan ragu. “ngomong-omong kau suka ji chang wook didrama apa?” tanyas Aletha membuat sekar langsung menatap Aletha ragu. “saya lebih menyukai drama k2 nyonya, disana dia tampak tampan dan keren. Apalagi dia dan yoona tampak sangat serasi” “benar sekali mereka tampak serasi, tapi aku lebih menyukai drama nya yang healer. Karena aku fans nya park minyoung” Dan cerita tentang ji chang wook terus berlanjut dengan keseruan, Aletha sangat senang ketika mendapati ada orang yang sepikiran dengannya. $$$ Clara masuk kekamar Ali, ia menatap tidak percaya isi kamar Ali. Setengah ruangan terdapat banyak barang milik Aletha. Ia merasa sangat kesal sekarang, bahkan clara tidak pernah meninggalkan barangnya walaupun itu cd karena Ali membenci itu. Tapi, lihatlah sekarang. Dari sepatu hingga tas dan tempat rias semuanya disini. Clara bertambah kesal, itu artinya Aletha tidur dikamar ini. clara bahkan sekalipun tidak pernah tidur dikamar ini. “ahhhhhggggg” teriak clara mengacak-acak tempat tidur Aletha dan Ali. Ia mengacak rambutnya frustasi. “cerita apa? Seru sekali” tanya Ali membuat sekar langsung berdiri dari duduknya. “sudah pulang?” tanya Aletha “hm” jawab Ali mencium sekilas bibir Aletha. “saya permisi tuan, nyonya” pamit sekara yang langsung diangguki oleh Aletha. “keningmu kenapa?” tanya Ali khawatir membuat Aletha tersadar memengang keningnya yang sudah dipakai kan plaster. “terbentur ini” jawab Aletha menunujkan meja kaca didepannya. “DIANA! TELPON DR. BAMBAM SEKARANG JUGA!” perintah Ali “baik tuan” “tidak usah di, jangan” cegah Aletha membuatnya mendapat tatapan tajam dari Ali. “ini hanya luka kecil, dan sudah diobati” “tapi kalau nanti inf..” “tidak akan, sungguh” “DIANA!” “ya tuan” jawab diana cepat menghampiri Ali “BUANG MEJA INI! GANTI DENGAN YANG LEMBUT” “baik tuan” “memangnya ada?”tanya Aletha polos “ada, dan harus ada” Aletha menganggukan kepalanya, lalu mencium sekilas bibir Ali. Perlahan emosi Ali sudah berkurang. “kau tahu..” “tidak” potong Ali membuat Aletha memutar bola matanya dengan malas. “aku belum selesai berbicara” rajuknya membuat Ali terkekeh. “baiklah lanjutkan” “akhirnya ada orang yang sepikiran denganku, sekar ternyata dia juga menyukai ji chang wook dan aku punya teman berbicara diruangan besar ini” “ji chang wook? Siapa?” “itu” tunjuk Aletha menunjuk televisi Ali menganggukan kepalanya, Clara yang mendengar suara Ali diluar langsung membereskan tempat tidur yang telah ia acak-acakan. Clara tidak percaya dengan pemandangan yang ia lihat, Ali sedang berduaan dengan Aletha. Clara bahkan tidak tau itu sandiwara atau bukan karena itu tampak seperti nyata. ‘kau terlalu mendalami peran sayang’ “sayang?” panggil clara membuat Ali terkejut tapi tidak melepaskan pelukannya dari Aletha. Ini membuat clara bertambah kesal, ia tidak bisa mengamuk karena clara tidak mau ambil resiko kalau-kalau ia mengamuk maka Ali akan meninggalkannya. “ada yang ingin aku bicarakan dengamu” “sebentar” pamitnya pada Aletha, Aletha menganggukan kepalanya “pergilah, sepertinya ada yang ingin dia bicarakan dan seperti nya itu penting” “aku akan segera kembali” “hm” Aletha tidak mempedulikan apa yang dibicarkan clara pada Ali, karena memang bukan urusannya. Ia mematikan televisi dan pergi kedapur mencari sekar. “sekar mana di?” “sudah pulang nya,” “pulang?” “jam segini semua pekerja sudah pulang kecuali saya dan juga supir, nyonya” Aletha menganggukan kepala, ia mengerti sekarang. Karena tidak tau apa yang harus dikerjakan Aletha mengambil apel dan membuat jus buah. “biar saya saja nyonya” “tidak di, aku bisa kau kerjakan yang lain saja” “tapi..” “baiklah,” ujar Aletha menyerahkan pekerjaannya pada diana. Aletha tidak mengerti kenapa orang-orang dirumah ini begitu takut dengan Ali. Apakah Ali memakan orang? Atau jangan-jangan Ali psycho. Aletha menggelengkan kepalanya, tidak mungkin. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD