Bab 18

1076 Words
“aku sudah mengambil cuti selama seminggu, dan waktu libur ku akan kita habiskan bersama” ujar clara membuat Ali mengnggukan kepalanya. “sayang?” “kenapa?” “kau tidak senang aku mengambil cuti?” “tentu saja aku senang sayang, kita akan menghabiskan waktu seminggu bersama” jawab Ali memeluk clara erat. Perasaan apa ini, kenapa Ali tampak tidak senang pergi dan menghabiskan waktu satu minggu dengan clara tunangannya. “sayang, kau duluanlah. Nanti aku menyusul masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan” ujar Ali membuat clara tersenyum pada Ali. “segera selesai kan pekerjaanmu sayang” “iya” Ali tidak perlu mengemasi pakaiannya karena pakaiannya sudah banyak dirumah clara. Sebenarnya Ali tidak ada pekerjaan lagi hanya saja entahlah ada yang mengganjal dihatinya. Ali keluar menghampiri Aletha, ia mencari Aletha diruang televisi tapi ia tidak menemukan Aletha. Aletha sedang menikmati jus apel nya didapur, ia terkejut karena Ali menghampirinya. “clara?” tanya nya “sudah pulang” Aletha mengangguk-anggukan kepalanya, ia terus menikmati jus apelnya. “aku akan ada perjalanan bisnis, kurang lebih satu minggu” “oke, mau aku bantu siapkan keperluannmu?” “tidak, aku tidak membawa banyak pakaian” “begitu” kata Aletha, ia sebenarnya dapat menebak kemana Ali pergi sudah pasti dan sudah jelas bahwa Ali akan menginap dikediaman clara. Lalu kenapa Ali berbohong? Entahlah Aletha juga tidak tau “mau coba? Rasanya segar” tawar Aletha, Ali mengangguk lalu mencium bibir Aletha lembut, ia akan merindukan bibir ini, batin Ali. Aletha tidak menolak ia membalas ciuman Ali, tidak ada nafsu didalam ciuaman mereka hanya ciuman saja. “aku pergi” ujar Ali menempelkan keningnya kekening Aletha. “hm, kau hati-hati” Ali tidak mau meninggalkan Aletha hanya saja sekarang prioritasnya clara. Aletha menatap kepergian Ali lalu kemudian mengangkat kedua bahunya. Ia melanjutkan meminum jus apelnya yang tertunda. Aletha masuk kedalam kamarnya setalah jus apelnya habis, Aletha langsung tidur. Sedangkan dikediaman clara, clara tidak membiarkan Ali lepas darinya. Ia ingin menunjukan pada Aletha bahwa dia yang memegang kendali atas Ali. - Aletha pergi kerja seperti biasanya, bertemu dengan mia dan makan siang dengan sari. Day, pria itu sibuk mengurusi june yang sudah memasuki bulan mengidam. Aletha tidak mengerti bagaimana bisa wanita yang mengidam bisa tampak aneh, bukan aneh yang lainnya maksud Aletha adalah mengidam hal-hal yang kadang diluar nalar. Ali juga bekerja seperti biasanya, tapi waktu bekerjanya hanya sedikit karena waktu luangnya adalah milik mereka, milik clara. Sedangkan dikediaman day sekarang ada pertunjukan day yang berdandan seperti wanita. Nadia tidak henti-hentinya tertawa dan mengirim gambar pada Aletha. Aletha juga tertawa melihat aksi day yang menuruti ngidaman june. Inilah yang dimaksud Aletha aneh, day yang biasa tidak mau diperintah oleh siapapun dengan june ia menurut karena kata nadia kalau june tidak dituruti nanti ketika anaknya lahir ileran dan day tidak mau itu. Aletha meletakan ponselnya lalu melanjutkan pekerjaanya, teks yang harus dieditnya lumayan banyak hari ini. Drt..drt... Aletha membuka ponselnya karena ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Aletha yakin yang mengirimi pesan adalah clara. Clara mengiriminya foto clara dan juga Ali yang tidak menggunakan busana. Tidak ditampakan clara hanya mengirim fotonya dan Ali didalam selimut, Aletha hanya menebaknya saja. ‘lakukan apa yang kau suka’ batin Aletha menghapus pesan itu lalu melanjutkan pekerjaannya yang menumpuk. $$$ Aletha main kerumah nadia karena ia sudah merindukan wanita paruh baya itu, Aletha juga ingin bertemu dengan june. Ia ingin melihat sendiri bagaimana keseruan wanita mengidam. “kau sungguh tidak mengidam sesuatu?” tanya Aletha mencoba memastikan, june menggelengkan kepalanya. “coba kau pikirkan baik-baik, pasti ada yang kau inginkan. Katakan?” ujar Aletha lagi membuat june tersenyum canggung. Nadia hanya geleng-geleng kepala. “sayang, memangnya mau ngidam sesuatu harus direncanakan” ujar nadia lembut lalu duduk disebelah Aletha. “ais, tidak seru sekali” ujar Aletha mengeluh lalu menyenderkan diri pada nadia. “mam,” “hm” “mam” “hm” “mama” “mau ngomong apa em?” tanya nadia menegakan tubuh Aletha sehingga mereka berhadapan. “tidak ada, Aletha hanya merindukan mama” ujar Aletha kembali memeluk nadia, nadia tau Aletha yang sudah ia anggap putrinya sendiri ini sedang ada masalah tapi dia tidak mau bercerita. Nadia mengelus sayang pundak Aletha, karena itu yang bisa ia lakukan. Memaksa Aletha bercerita tidak lah mungkin. June melihat interaksi antara Aletha dan ibu mertuanya, mereka sangat dekat. mereka bukan ibu dan anak tapi mereka tampak seperti anak dan ibu. June dapat melihat bagaimana nadia memperlakukan Aletha, disaat seperti ini june merasa iri pada Aletha bukan hanya nadia yang memperlakukan Aletha dengan baik dan menganggapnya putri sendiri. Day, suaminya juga demikian. Jangan jauh-jauh ketika telponnya dan telpon nadia tidak diangkat oleh Day, namun dengan dua kali percobaan Day langsung mengangkat panggilan dari Aletha. Anak dan ibu itu memiliki kesamaan yaitu sama-sama menyanyangi Aletha. “ah. Aletha punya ide” ujar Aletha langsung tegak dari duduknya membuat nadia dan june mengerutkan kening mereka. “ide apa sayang?” tanya nadia membuat senyum Aletha melebar. “bagaimana, kalau kau pura-pura mengidam. Aku sangat ingin melihat day menggunakan pakaian sexy dan memakai rambut palsu bewarna pink” “ide bagus, mama juga mau melihatnya. June bagaimana denganmu?” tanya nadia meminta persetujuan akhir dari june. “june juga setuju mam” “bagus, sebentar lagi day pulang. Mama sungguh tidak sabar” “Aletha juga mam” - Day menatap june gugup, kali ini apa keinginan aneh dari june. Day sudah menyiapkan diri kalau permintaan dari june abstrak tidak masuk akal. Nadia dan Aletha mereka berdua didapur, tidak ada yang mereka kerjakan hanya saja mereka didapur karena tidak mau membuat day curiga bahwa keiingan june adalah sandiwara. “sekarang apa?” tanya day membuat june menerbitkan senyumnya. “baby menginginkan ayahnya memakai pakaian mini dan sexy serta rambut palsu warna merah muda” Day mengacak rambutnya frustasi, kemarin ia sudah melakukan ini tapi tidak dengan pakaian mini dan sexy. Ia jantan, mau dibawa kemana wajahnya nanti. Day menatap june yang sudah menundukan kepala, day langsung menghampiri june dan mencoba menenangkan june yang akan menangis, mungkin sudah menangis day tidak tahu. Day berpikir keras, kalau ia tidak melakukannya maka nanti anaknya akan ileran tapi kalau ia melakukannya sisi jantanya akan hilang. “baiklah akan aku lakukan” putus day setelah berperang dengan batinnya. Didapur Aletha dan nadia melakukan high five, mereka menahan tawa senang mereka agar tidak terdengar dengan day. “benarkah?” tanya june memastikan “hm” Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD