Bab 2

519 Words
Perhitungan Ali tidak pernah salah, beberapa hari kemudian Roy datang padanya memohon untuk membantu perusahaan Roy yang hampir bangkrut. “aku akan membantumu” ujar Ali setelah menyesap kopinya membuat senyum Roy terbit. “tapi ada syaratnya” “apapun itu” jawab Roy cepat membuat Ali tersenyum sinis, bahkan Ali belum menyebutkan apa syaratnya Roy sudah menyetujuinya, bagaimana jika Ali meminta Roy mati dihadpanya. Dasar egois “berikan putrimu sebagai bayaran” ujar Ali membuat senyum diwajah Roy hilang begitu saja. “maksud anda? Memberikan putriku?” “ah kau payah sekali ternyata, aku ingin menikah dengan putrimu maka aku akan membantumu” jelas Ali tidak mau berbasa-basi lagi. Roy merasa senang, ini seperti melembar batu mengenai dua burung sekali gus. Perusahaannya akan terselamatkan dan anaknya akan mendapatkan suami yang mapan, yang masa depannya tidak diragukan lagi. “semuanya akan saya atur sesuai dengan keinginan anda pak Ali” ujar Roy menjabat tangan Ali. Setelah Roy pergi, Ali mencuci tangannya karena telah berjabat tangan dengan Roy. Ia merasa tangan nya ternodai dengan kotoran yang menempel di tangan Roy. Ia mengeraskan rahangnya, ia sama sekali tidak bisa berbasa-basi dengan membeberkan senyum palsunya, jika ia suka maka ia suka begitupun sebaliknya. Namun demi rencananya Ali melakukan semuanya. Ali bisa menyimpulkan Roy bukan lah pria baik, bukan berarti Ali orang baik hanya saja tidak mungkin seorang ayah ingin menikahkan putrinya dengan sembarang pria, apalagi ini untuk bisnis. Menurutnya seorang ayah akan membiarkan putrinya menikah dengan pria yang disukai mereka. Ali tidak heran mengapa Roy sangat serakah dan memilih meninggalkan ibunya. Pria seperti itu tidak layak dipanggil ayah atau pun istri seseorang. Ali mengamati foto Ciaria admaja, wanita berparas cantik seorang dokter jantung. Ali menatap foto itu tampa minat, ia seperti pria yang tidak berminat pada perempuan. Kenapa bisa begitu? Karena Ciaria adalah wanita cantik, dokter, perfect, pandai tentu saja, banyak pria yang bersedia menjadi yang kedua bahkan ketiga atau keempat kelima namun Ali menatap nya tanpa minat. Lalu Ali beralih pada putri kedua, jarak mereka tidak begitu jauh sekitar 4 tahunan. Namun mereka tampak berbeda, Aletha tampak seperti orang yang Ali kenal kalau dilihat lagi. Beda dengan Ciaria, Aletha terlihat biasa-biasa saja tapi tidak membuat bosan, dan dia hanya bekerja sebagai pegawai biasa di perusahaan ‘the days’ majalah. Dari keterangan yang ada tidak ada yang menarik dari Aletha. Ali meninggalkan begitu saja berkas dan foto anak-anak Roy dan Sandra diatas meja, ia masuk kekamarnya. Ia harus membersihkan diri karena badanya terasa sangat lengket. Belum lagi Ali ada janji makan malam dengan keluarganya, Ali tidak mau membuat ibunya menunggunya terlalu lama. Ibunya itu walau pun tampak seperti wanita polos sebenarnya ibunya itu cerewet dan suka mengomel, walaupun demikian Ali merasa terhibur kalau ibunya mengomel. Ah, mengingat omelan ibunya Ali jadi merindukan Hanna dan ia ingin cepat-cepat pulang bertemu dengan Hanna. Ali selesai mandi dan sekarang ia sedang sibuk memilih pakaian apa yang akan ia pakai, ia mengambil kaos dan celana jins. Karena ia sedang tidak kekantor maka Ali akan memakai baju santai saja. Lagian ibunya yang cerewat itu tidak suka jika ia memakai setelan jas ketika sedang ada acara keluarga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD