Bab 3

370 Words
Aletha baru saja pulang bekerja dan ia tidak sengaja mendengar percakapan antara ayah dan bunda kalau Ciaria kakak perempuannya akan menikah dengan pria tampan yang berpenghasilan. Kalau Aletha tidak salah dengar pria itu adalah Ali Mahendra Utomo, siapa yang tidak mengenal Ali ceo yang tampan yang menaungi model dan aktris papan atas semua wanita rela antri untuk bersanding dengannya termasuk Aletha. Betapa beruntungnya Cia, dari yang paling kecil ayah dan bundanya lebih menyanyangi Cia, Cia pintar disekolah, Cia cantik, Cia sempurna, Cia dokter, Cia bla, Cia bla dan masih banyak lagi. Apa lah daya dirinya yang hanya sebutiran debu yang melayang ditiup angin. Ia dan Cia bagaikan langit dan bumi. Aletha hanya mempunyai satu teman tidak seperti Cia yang mempunyai sejibun teman yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Aletha tidak ambil pusing, satu teman yang tulus lebih baik dari pada seribu teman tapi menusuk dari belakang. Semua anggota keluarganya selalu membandingkan dirinya dengan Cia, bagaimana perasaan kalian ketika dibandingkan dengan kakak perempuannya kalian? Kesal, marah, ingin mengacak-acak rambut? Aletha tidak begitu ia hanya menganggapnya angin lalu, kenapa jika ia ketinggalan dan tidak seperti Cia? Dirinya adalah dirinya bukan Cia. Iri? Tentu saja Aletha iri pada Cia. Selama ini Aletha selalu iri dengan Cia yang sempurna, namun sekarang ia membiasan diri agar tidak merasa kecil. Ia mempunyai kehidupan sendiri, ia adalah dirinya bukan orang lain. Aletha akui Aletha tidak pandai berdandan namun ia bisa membuat wajahnya menjadi good looking dengan hanya memakai bedak bayi dan lipstik. Dalam segala hal Cia lebih unggul bahkan dalam pekerjaan. Aletha pernah berpikir untuk pergi saja dari rumah karena pasti tidak akan ada yang mencarinya, tapi Aletha urungkan karena menurutnya itu sangat kekanakan sekali. Aletha langsung masuk kekamarnya, ia langsung tidur tanpa mandi terlebih dahulu. Ia lelah. Aletha bahkan melewatkan makan malam, melewatkan makan malam bukanlah hal tidak biasa ia lakuakan. Bisa dikatakan Aletha selalu melewatkan makan malam bersama karena tidak ingin mendengar pujian demi pujian yang dilontarkan ayah dan bunda nya untuk Cia. Bukan hanya melewatkan makan malam bersama, Aletha juga tidak pernah sarapan bersama. Makan siang? Apalagi, Aletha makan siang dikantor. Aletha makan sekali sehari, itulah yang membuatnya terkena mag kronis. Walau begitu Aletha tidak memperdulikan penyakitnya, selagi masih bisa ditahan dengan obat kenapa tidak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD