Pernikahan Ali dengan Ciaria diadakan dengan sederhana, hanya anggota keluarga saja yang datang. Tidak, hanya keluarga dari pihak Cia lebih tepatnya karena Ali tidak memberi tahu keluarganya. Ali sengaja melakukan semuanya karena satu alasan yang pasti.
Sudah dua jam lebih tapi pengantin wanita tidak juga kunjung datang, membuat kedua orang tua Cia khawatir. Sandra berkali-kali menelpon Cia namun nomor anaknya itu tidak bisa dihubungi.
“bagaimana bun, diangkat?” tanya Roy menghampiri Sandra
“tidak bisa dihubungi yah”
“kemana anak itu! Sudah tau hari ini hari pernikahanya! Coba ditelpon terus bun siapa tau nyambung”
Ali menggeram kesal, ia mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengeras. Calon pengantinya kabur dihari pernikahan mereka, ck. Dia pikir siapa dia berani-beraninya meninggalkan pernikahan.
Ali bangkit dari duduknya lalu menatap sekitar. Ia melihat Roy sekilas lalu pergi meninggalkan altar.
“pak Ali tunggu!” ujar Sandra menghentikan Ali,
“kami masih mempunyai satu putri lagi, Aletha” sambung Sandra, walaupun Sandra tidak setuju putri bungsunya menikah dengan Ali. Tapi, sekarang hanya Aletha yang bisa menyelamatkan perusahaan suaminya.
“tidak! Tidak dengan Aletha, mohon tunggu sebentar lagi pak Ali. Saya akan memastikan Cia akan menikah dengan bapak” ujar Roy menghampiri Sandra dan Ali.
“yah, pak Ali sudah menunggu lama”
“kita bisa menunggu sebentar lagi bun, bunda tau kan Aletha orangnya seperti apa. Ayah tidak menyetujuinya” kata Roy membuat Ali tersenyum sinis, ternyata dibalik semua sifat buruk Roy pria tua itu diam-diam menyanyangi putri bungsunya.
“pak Ali harus bertemu dengan Aletha, dia cantik dan pintar memasak, pintar bersih-bersih, bisa mencuci pokoknya Aletha itu sempurna untuk menjadi seorang istri” ujar Sandra, tidak ada jalan lain karena Sandra sangat mengenal putri sulungnya itu, sekali dia tidak mau maka dia tidak mau.
“bun, pak Ali bukan mencari pembantu tapi istri” suara Roy sedikit meninggi.
“saya terima” ujar Ali membuat kedua nya langsung menoleh kearah Ali.
“tapi pak alv...”
“terima kasih pak Ali, saya akan membawa Aletha sekarang juga” potong Sandra langsung pergi meninggalkan mereka berdua, Roy tidak bisa berkata-kata lagi selain diam.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, orang yang ditunggu Sandra akhirnya pulang juga dari bekerja.
“ikut bunda”
“kemana bun?” tanya Aletha masih dengan pakaian kerja. Sandra tidak menjawab ia membawa Aletha keruang rias.
“duduk disini” ujar Sandra mendudukan Aletha dikursi rias.
“bunda mau ngapain? Aku belum mandi”
“udah diam aja, percaya sama bunda”
Aletha mengangguk mengerti, tapi ada yang mengganggu pikirannya. Kenapa bundanya mendandaninya? Bukannya pernikahan Cia sudah selesai. Tadi sebenarnya Aletha ingin hadir dipernikahan Cia dan suaminya hanya saja pekerjaan kantornya membuatnya tidak bisa cuti. Menjadi karyawan susah mendapat izin kecuali sakit tidak bisa bangun lagi dari tempat tidur.
“pakai ini, bunda tunggu disini”
Aletha menganggukan kepalanya lalu pergi keruang ganti.
Aletha menatap dirinya didepan cermin besar diruang ganti, gaun yang cantik. Tapi tidak cocok dengannya, sayang sekali.
“stel, sudah belum?”
“sudah bun” Aletha keluar dari ruang ganti
“bagaimana bun?”
“nanti saja, ada yang lebih penting dari itu”
Sandra mengajak Aletha untuk bertemu dengan Ali.
“Aletha sudah siap, bisa kita mulai acara pernikahannya?” ujar Sandra membuat Aletha langsung menatap Sandra bingung.
“kamu sama Ali bakal menikah hari ini”
“lho, bukannya dia nikah sama Cia bun?”
Sandra menggelengkan kepalanya.
“yah” ujar Aletha pelan pada ayahnya, Roy hanya menganggukan kepalanya membuat Aletha ingin menangis sekarang namun ia tahan. Aletha tidak boleh terlihar menyedihkan. Kenapa pernikahannya tidak dibatalkan saja, kenapa Cia kabur? Apa rencana Tuhan terhadapnya sekarang.