Bab 5

520 Words
Disinilah Aletha sekarang diapatemen mewah, besar, dilantai paling atas gedung yang hanya orang-orang tertentu yang bisa tinggal disana. Aletha bisa menebak pernikahannya tidak akan bahagia seperti novel-novel yang sering ia baca. Bagaimana bisa Aletha dapat menyimpulkan? Itu karena sekarang saja Ali tidak ada disini, hanya dirinya dan ruang hampa didalam apartemen seluas ini. Aletha sedih? Tidak, ia malah menssyukuri hidupnya. Aletha lebih baik diabaikan dan tidak terlihat bahkan Aletha lebih menginginkan Ali membencinya karena Aletha tidak biasa menerima cinta. Cinta hanya lah bualan orang-orang yang nantinya akan saling menyakiti satu sama lain. Terserah Ali ingin melakukan apapun yang pria itu anggap benar dan pria itu sukai, Aletha akan menutup mata dan telinganya. Aletha menyusun baju-bajunya disebelah pakaian Ali, terserah nantinya pakaianya akan dibuang oleh Ali atau tidak yang penting Aletha menyusunnya terlebih dahulu. Sudah pukul 10 malam Ali belum juga menampakan batang hidungnya, Aletha memilih untuk tidur. Tidak perlu repot-repot menunggu hal yang tidak pasti, urusan Ali pulang atau tidak bukan urusanya. Disini dia memang seorang istri tapi itu hanya status saja. Paginya, Aletha ingin berteriak kencang tapi tertahan karena mengingat ini tempat asing baginya untuk berteriak. Aletha mengamati jerawat besar dijidatnya, sangat besar. Wajahnya memang sangat sensitiv mangkanya Aletha tiidak sembarangan memakai produk bedak yang tidak cocok dengan wajahnya. Aletha mengingat sekarang dari mana asal jerawatnya, kemarin Sandra memakaikan produk bedak yang biasa dipakai oleh Cia. Aletha akhirnya mematong poninya menjadi pendek sehingga menutupi jerawatnya. Aletha berpakain rapi Aletha keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Ia memasak sarapan untuknya dan untuk Ali. Aletha memilih memasak nasi goreng selain mudah memasak nasi goreng sangat cepat. Aletha meletakan nasi goreng dan ceplokan telur diatas meja makan. Karena Ali tidak tau ada dimana Aletha memutuskan untuk sarapan sendiri, memangnya apa yang diharapkan oleh Aletha, sarapan bersama? Tidak. Aletha sampai dikantor tepat waktu seperti biasanya ia langsung menyuting teks yang akan diluncurkan oleh majalah. Brakkk Seseorang melemparkan berkas keatas mejanya dengan kasar, Aletha mendongak kearah seseorang itu. “SEMUANYA SALAH! KAU BISA BEKERJA ATAU TIDAK! KERUANGANKU SEKARANG!” Aletha menganggukkan kepalanya lalu mengesave filenya baru mengikuti Day yang tak lain adalah bossnya. Day? Hari? Ya, nama boss Aletha Day wijaya, kenapa dinama kan Day? Hanya orang tua Day lah yang tahu. “maaf pak saya tidak akan mengulangi nya lagi” ujar Aletha menghadap Day. “KAU SALAH LAGI!” “maaf pak, saya salah” “KATAKAN DENGAN BENAR!” Aletha memutar bola matanya dengan malas lalu dengan santainya ia duduk disofa sambil membaca majalah. “HEI! BERANI SEKALI KAU! MEMUTAR BOLA MATA ITU PENGHINAAN UNTUK BOSS” “sudah lah Day aku sedang malas berdebat sekarang, moodku sedang buruk.” Ujar Aletha membuat Day langsung menghampiri Aletha dan duduk disebelahnya. “kenapa? Apa ada masalah?” “hm” “ceritakan padaku” “kau dulu yang ceritakan apa masalahmu sehingga memanggilku kesini” ujar Aletha membuat Day menghela nafas. “pacarku kabur bersama pria lain, tidak taukah sarah kalau aku adalah pria baik sedunia tapi dia malah pergi bersama pria pecundang itu.” Cerita day sambil memeluk Aletha. Lagi-lagi masalah wanita, Day selalu saja begini. Wanita dan ditinggal wanita.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD