“jadi kau sudah menikah? Sialan, kalau Cia tidak kabur kau pasti tidak akan menikah!” ujar Day dengan suara meninggi. Aletha baru saja menceritkan semuanya pada Day dan tanggapan Day sudah diprediksi oleh Aletha.
“hm, bukan salah Cia, mungkin memang sudah nasib ku” jawab santai sambil membaring kan diri dengan berbantalan paha Day.
“apa kau mencintainya?”
“tidak dan tidak akan pernah, ini hanya pernikahan bisnis. Bukan masalah bagiku”
“cerai saja”
“tidak bisa, kalau aku bercerai perusahaan ayah dalam masalah” jawab Aletha menghadap perut Day dan langsung memejamkan mata.
Day tidak bisa berkata lagi, sahabatnya ini selalu memikirkan orang lain tanpa peduli dengan perasaanya sendiri.
Day membiarkan Aletha tidur diatas pahanya. Masalah Aletha tidak seperti masalahnya sangat sangat spele yaitu wanita. Day merapikan poni Aletha dan menemukan jerawat disana, ia jadi tersenyum sendiri. Jadi ini alasan kenapa wanita ini memotong poninya.
Sedangkan diapartemen, Ali baru saja pulang dari kantor karena satu artisnya membuat masalah. Matanya lelah, ia sangat mengantuk tapi pekerjaanya masih banyak. Ali pulang hanya untuk mandi dan mengambil berkas yang tertinggal.
Sewaktu mengambil setelan kerjanya Ali menemukan ada baju lain selain pakaiannya, yaitu punya Aletha. Ah, wanita itu bagaimana bisa ia lupa kalau mereka baru menikah satu hari yang lalu. Akan ada banyak kejutan untuk wanita itu, lihat dan tunggu saja.
Sebelum pergi Ali kedapur karena haus, Ali mendapatkan nasi goreng diatas meja mekan. Ia tersenyum sinis menatap nasi goreng itu lalu pergi lagi kekantor.
Tok..tok....
Day mendongak kearah pintu, siapa yang berani mengetuk pintunya sekarang.
Day dengan sudah payah mengambil ponselnya dikantong celana agar tidak membangunkan Aletha yang sedang tertidur.
Day menelpon sekretarisnya.
“kau dimana? Kenapa ada yang datang kekantorku?”
“maaf pak, ibu bapak datang dan sudah membuat janji dari dua hari yang lalu”
Day menghela nafas lega lalu menutup panggilannya. Tidak ada yang boleh masuk kedalam ruangannya kecuali sudah membuat jadwal dengan sekretarisnya, pegawainya pun tidak pernah masuk kedalam ruangannya kecuali sekretarisnya, crish. Itupun hanya membawa berkas-berkas yang akan ia tandatangani.
“masuk saja ma” teriak Day pelan.
Nadia masuk dengan membawakan makan siang untuk day.
“mama membawakan mu makan siang” ujar nadia duduk didepan Day. Nadia menatap Aletha yang sedang tertidur dengan berbantalan paha putranya. Mereka pasangan yang serasi, hanya saja putranya itu terlalu buruk untuk Aletha. Nadia sudah mengenal Aletha dari jaman-jamannya mereka kecil, karena mereka tetanggaan dulunya, tapi sewaktu mereka beranjak remaja day dan keluarga harus pindah karena ayah day pindah dinas. Dan mereka dipertemukan lagi dibangku kuliah.
“Aletha udah lama tidur?”
“baru saja ma, terima kasih bekalnya ma”
“iya sama-sama, mama pulang salam untuk Aletha”
Setelah nadia pergi, day membangunkan Aletha.
“makan siang?” tanyanya membuat Aletha langsung bangun dari tidurnya.
“aku cuci muka dulu” ujar Aletha.
“hm”
Day dan Aletha makan bersama, untung saja nadia selalu membawakan bekal yang bisa dimakan oleh dua orang.
“kenapa tidak membangunkan aku ketika mama datang” ujar Aletha disela makannya.
“kau tidur pulas sekali”
“jahat”
“aku malaikat mana mungkin aku jahat”
“malaikan dari hongkong, iblis iya” ejek Aletha membuat day merengut kesal.
Mereka makan dengan lahap dan menghabiskan bekal tanpa sisa.
“aku harus kembali bekerja, berikan aku berkas kosong” ujar Aletha, ia sengaja meminta berkas kosong karena mereka memang seperti ini untuk menghindari desas-sesus kantor.