Setelah pulang dari makan malam bersama ibunya, Ali membawa 4 wanita masuk kedalam apartemennya. Aletha yang keluar kamar karena haus hanya geleng-geleng kepala. Mereka bersenang-senang diruang tamu dan sangat berisik. Mereka minum-minum bersama. Ck, Aletha sangat membenci pria peminum.
Aletha melewati Ali begitu saja setelah minum ia masuk lagi kekamarnya. Aletha menutup telinganya dengan bantal karena suara musik yang berisik.
Ali menatap datar pintu kamar Aletha, ia sama sekali belum mabuk. Keempat wanita yang ia bawa sudah tepar ditempat. Setelah lama menatap kamar Aletha, Ali masuk kedalam kamarnya meninggalkan keempat wanita yang ia bawa.
Aletha bangun pukul lima subuh dan ia tidak menemukan Ali dengan wanita-wanita yang ia bawa, setelah hanya menemukan cleaning servic yang datang tiap setiap jam lima subuh untuk membersihkan apartemen ini.
‘mungkin sudah pulang’
“terima kasih bu” ujar Aletha setelah pembersih itu selesai membersihkan apartemenya.
“sama-sama non, saya permisi”
Aletha masuk kedalam kamar Ali karena pakainnya masih ada disana, mau memindahkan pakainya kekamarnya ia tidak sempat karena minggu ini pekerjaanya sangat banyak dan Aletha akan sering lembur.
Aletha mengambil pakaiannya seperlunya, untuk kerja dan piyamanya pulang kerja nanti.
**
Ali sampai dikantor pukul 10 pagi, tidak masalah baginya ingin berangkat kerja jam berapa pun karena he is boss.
Ali meletakan tas kerjanya diatas meja dan jasnya dikursi kebesarannya. Ali mulai bekerja, ia membereskan berkas-berkas diatas mejanya. Ali menemukan jam tangannya diantara berkas-berkas. Ck, Ali mengutuk dirinya bagaimana bisa ia kelepasan menuduh Aletha. Ia memang pria ceroboh. Ali menggelengkan kepalanya, biarkan saja pikirnya. Bukan urusannya jika wanita itu sakit hati atau tidak.
Ali melanjutkan pekerjaanya.
Sementara dikantornya, Aletha dimarah habis-habisan oleh ketua timnya karena penyutingannya ada kesalahan.
Aletha ingin sekali berteriak ke mia karena memarahinya, dia pikir menyuting teks yang letak kesalahan sangat banyak itu mudah? Hanya menerima jadinya saja sudah sok-sokan.
Tapi Aletha lebih memilih diam mendengarkan, day yang melihat Aletha dimarahi diam saja ditempatnya. Day sudah lama ingin mengangkat Aletha menjadi ketua tim tapi wanita keras kepala itu menolak. Jadi sekarang ia hanya bisa melihat Aletha dimarahi tanpa bisa membantu.
Aletha melanjutkan pekerjaanya setelah mia berhenti memarahinya.
**
Cia pulang kerumahnya dengan santai membuat darah Roy mendidih seketika.
“KAU DARI MANA! HAH! BAGAIMANA BISA KAU KABUR DIHARI PERNIKAHANMU!”
“yah, sudah jangan marah-marah. Nanti darah tinggi ayah kumat” ujar Sandra menenangkan suaminya.
“yang pentingkan Cia pulang, perusahaan ayah terslamatkan”
Roy mengacak-acak rambutnya kesal lalu meninggalkan kedua wanita yang amat ia sayangi.
“bun, maaf” ujar Cia memeluk Sandra erat.
“tidak apa-apa sayang, bagiamana kabar nathan?”
“makasih bun, nathan baik bun. Kabar gembira bun tahun depan Cia bakal menikah dengan nathan”
“selamat sayang, akhirnya kamu menikah dengan orang yang benar-benar kamu sayangi”
“Cia masuk kekamar dulu bun mau siap-siap, Cia mau pergi sama nathan”
“iya sayang”
Cia bersiap-siap ia akan makan malam bersama dengan nathan kekasihnya. Ada hikmah dari perencanaan pernikahannya dengan Ali. Nathan kekasih nya akhirnya melamarnya di paris.
Cia sangat senang karena itu, dihari pernikahannya ia dibawa kabur oleh nathan. Dan Cia sangat mensyukuri itu. Nathan adalah masa depan yang cerah yang sayang untuk dilewatkan. Cia sangat menyanyangi nathan begitu juga sebaliknya.
$$
Ali memikirkan rencana lain, ia memutar ulang rencananya. Rencana yang awalnya ingin membuat Aletha anak dari Roy sakit hati karena menikah dengan pria penjahat kelamin, sekarang rencana Ali adalah membuat Aletha jatuh cinta padanya lalu pada akhirnya Ali akan meninggalkan Aletha sama hal nya dulu Roy meninggalkan ibunya, that simple.
Seperti hari ini, minggu Ali libur kerja begitupun dengan Aletha. Ali menghampiri Aletha yang sedang memasak didapur.
“sedang apa kau disini?” tanya Aletha kaget ketika mendapati Ali dibelakangnya.
“melihat kau memasak” jawab Ali membuat Aletha mengangkat kedua bahunya, ia tidak memperdulikan Ali yang terus menatapnya memasak.
Aletha sudah selesai memasak dan meletakan makanan diatas meja makan. Ali langsung duduk ditempatnya dan mengambil piringnya.
“selamat makan” ujar Ali membuat Aletha menganggukan kepala.
“wah, luar biasa masakanmu sangat enak” ujar Ali memuji masakan Aletha.
“baguslah kalau begitu” jawab Aletha dan melanjutkan makannya.
“mari berteman” celetuk Ali membuat Aletha mengangkat kepalanya. Berteman? Apa ini?
“berteman?”
“iya, karena kita menikah tanpa menganal. Aku rasa berteman adalah awal yang baik” jelas Ali membuat Aletha menganggukan kepala.
“oke, tidak buruk”
Senyum Ali mengembang,
“sekarang kita teman”
“hm, bisa dibilang begitu”
Aletha tidak mengambil pusing jika Ali mengajaknya berteman maka ia menerimanya, bukannya berteman lebih baik dari pada tidak.
Setelah sarapan Ali mengikuti Aletha menonton drama korea kesukaan Aletha, Ali sama sekali tidak merasa terganggu karena ia ikut menikmatinya bersama Aletha.
“bagaimana bisa manusia beku selama 20 tahun, dan masih hidup?” tanya Ali membuat Aletha langsung menoleh kearah Ali.
“bisa saja, manusia hidup 900 tahun dengan pedang tertanjap didadanya dan menjadi goblin, manusia alergi manusia. Itu tidak masuk akal bagi orang awam bagi kami pencinta korea itu sangat masuk akal dan menjadi cerita romantis yang pernah kami tonton” jelas Aletha membuat kening mulus Ali berkerut, ia tidak mengerti dimana masuk akalnya cerita itu. Ali ingin bertanya lagi tapi ia urungkan karena begitu penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
Tidak terasa waktu sudah sore dan menunjukan pukul 3 sore, tidak terasa mereka sudah menghabiskan 5 episode drama korea terbaru.
“setelah ini apa lagi?” tanya Ali membuat gerakan meregangkan tangan Aletha terhenti.
“tidur siang, mungkin” jawab Aletha sambil sedikit berpikir.
“tidur? Ayolah, jam berapa ini? bagaimana dengan jogging?”
Aletha diam menimang apakah jogging baik untuknya. Aletha menggelengkan kepalanya.
“tidak, aku akan capek”
Ali hampir saja tertawa,
“bagaimana kalau menemani aku saja, kau berjalan?”
“tidak, aku akan tidur saja”
“ayolah, bukankah kita teman. Temani aku yayaya”
Aletha diam sesaat lalu menganggukan kepalanya,
“baiklah, aku hanya menemani saja”
“bagus, kalau begitu ayo kita bersiap” ujar Ali masuk kedalam kamar berganti baju.
“oke”
Disinilah mereka sekarang ditaman, Aletha hanya duduk dikursi taman sedangkan Ali sudah berkeliling taman entah sudah berapa keliling, Aletha tidak menghitungnya.
Ali berhenti dan duduk disebelah Aletha,
“minum?” tawar Aletha membuat Ali menganggukan kepala.
Setelah minum Ali melanjutkan larinya, Aletha bingung kenapa orang suka sekali berlari? Bukannya duduk-duduk saja begini sudah capek jangankan lari tidur saja atella lelah.
Setelah berlari Ali mengajak Aletha makan sate ditempat langganannya,
“besok apa kegiatanmu?” tanya Ali membuat Aletha menoleh kearah Ali.
“kerja, apalagi” jawab Aletha
“mau kuantar?”
“tidak, aku bisa sendiri”
“baiklah”
Tbc.