Bab 11

1138 Words
Acara pernikahan day dan june berjalan dengan lancar, banyak tamu undangan yang dengan tulus memberikan ucapan selamat. Day mengundang banyak orang termasuk semua pegawainya dikantor. “Letha,?” “iya mam?” “bisa temani june sebentar, mama mau buatkan teh hangat. Dia mual karena efek si baby” “biar Aletha saja mam, mama menemani june saja” “oke makasih sayang” Aletha kedapur diikuti oleh mia karena tadi mia tidak sengaja mendengar percakapan Aletha dan juga nadia tadi. “sedang apa kau disini?” “astaga, menganggetkan saja” jawab Aletha setelah sadar ada mia disebelahnya. “katakan?” “apa?” tanya Aletha karena ia tidak mengerti maksud dari pertanyaan dari mia. “katakan bagaimana kau bisa mengenal baik keluarga day?” Aletha mengedipkan-ngedipkan kedua matanya. “kami bersaudara” jawab Aletha “jangan bohong, kau dan day bukan saudara. Katakan itu” “kami memang saudara, kalau kau tidak percaya tanyakan sendiri saja pada mama” jawab Aletha sambil mengaduk teh hangatnya. “lalu kenapa kau tidak bilang padaku?” “karena kau tidak bertanya, kalau begitu aku permisi” jawab Aletha dan pergi begitu saja membuat mia tampak begitu kesal. “ALETHA! AKU BELUM SELESAI BICARA DENGANMU!” Aletha hanya mengangkat kedua bahunya lalu menghampiri nadia dan juga june. “terima kasih sayang” “sama-sama mam” “terima kasih Letha” ujar june tulus dan Aletha hanya menganggukan kepala lalu tersenyum. “mam, Aletha kesana dulu. Aletha lapar hehe” “memangnya kapan kau tidak lapar” “menyahut saja” ujar Aletha sebal pada day lalu berjalan kestan makanan. Mata Aletha berbinar ketika melihat banyak makanan didepannya sekarang, “hallo adik” Aletha memutar bola matanya dengan malas, ia sangat mengenal suara ini. Cia. “kenapa?” tanya Aletha berbalik menghadap Cia. “selamat atas pernikahanmu, maaf karena tidak bisa hadir dihari pernikahanmu” Aletha ingin sekali menginjak-injak Cia sekarang, “tidak masalah, terima kasih” “mana suamimu?” Aletha diam tidak menjawab karena percuma saja, Cia hanya ingin membuatnya emosi saja. “aku datang bersama tunangannku” ‘memangnya aku peduli’ ujar Aletha didalam hati. “atau mau aku kenalkan” “jangan” ujar Aletha membuat Cia menaikan satu alisnya. “kenapa?” “nanti tunanganmu jatuh cinta padaku” jawab Aletha membuat Cia tertawa pelan. “jatuh cinta padamu? Omong kosong apa itu, walaupun begitu akan kukenalkan dia” ujar Cia berjalan memanggil nathan tunangannya. “sayang kenalkan ini adikku, Aletha ini nathan tunangan kakak” ujar Cia mengenalkan nathan pada Aletha, maksud dari Cia mengenalkan nathan adalah ingin menunjukan bahwa nathan lebih hebat dibandingkan suami Aletha. “salam kenal” ujar Aletha tanpa melihat nathan dan sibuk melihat makanan didepannya sekarang. Nathan merasa terpesona ketika melihat Aletha mengabaikannya, selama ini tidak ada yang mengabaikannya tapi ini ada. Aletha. “sayang” ujar Cia menyadarkan nathan “Aletha?” “ya?” jawab Aletha mendongak kearah Cia. “kau membiarkan tangan tunangan kakak seperti ini?” “oh maaf.. kau?” “senang bertemu denganmu lagi” sahut nathan membuat Cia bingung. “kalian saling kenal?” “hm” jawab Aletha “dimana? Kapan? Kenapa aku tidak tau” “memangnya kau tuhan harus tau segalanya” sahut Aletha membuat Cia kesal. “dia adik tingkat ku sayang disekolah menengah” “sudahkan? Aku pergi” Aletha bukannya merasa cantik atau apa, dulu nathan yang ia kenal sebagai dani pernah menyatakan cinta padanya. Namun Aletha tolak karena Aletha menyukai day yang nyatanya dia hanya menganggapnya adik. Miris. $$ Hari libur, Aletha dan Ali menghabiskan waktu mereka dengan memasak kue bersama. Aletha tidak pandai membuat kue apalagi Ali, pria itu bahkan tidak mengerti sama sekali prihal dapur dan macam-macamnya. “tepungnya dulu baru telur” ujar Aletha membuat gerakan tangan Ali menggantung diudara. “benarkah?” “katanya sih iya, coba kita ulang lagi” jawab Aletha mengulang vidio yutubenya. Mereka tertawa kencang karena mereka berdua salah, karena urutannya kembangkan gula lebih dulu. Percobaan pertama gagal, bantet, gosong, dan berantakan. Begitupun percobaan kedua, ketiga, sampai percobaan keempat mereka tidak lagi membuat kue namun bermain dengan adonan. Aletha sedang membereskan kekacauan didapur sedangkan Ali dengan jahilnya memanggil Aletha dan meletakan adonan kewajah Aletha. Tawa Ali melenggelegar membuat Aletha ikut tertawa. Aletha mencoletkan tepung kewajah Ali. Dan acara balas-balasan dimulai, awalnya dapur sudah berantakan sekarang tambah berantakan malah bertambah, sekarang mereka lempar-lemparan tepung. Dengan jahil nya Aletha mengambil telur dan melemparkan kearah Ali sehingga mengenai d**a Ali. Gelak tawa Aletha pecah memenuhi ruangan ketika melihat ekspresi Ali yang menurutnya lucu. “berani sekali kau, kemari kau” ujar Ali berlari menuju Aletha. Aletha yang tau itu langsung berlari menjauh. “jangan lari, mau kemana kau?” “mau kabur, memangnya mau kemana lagi?” teriak Aletha sambil tertawa membuat Ali ikut tertawa. “kena kau” ujar Ali senang sambil memeluk Aletha dari belakang. “al, menjauh dari ku kau amis. Haha” “salah siapa em, ayo kita amis bersama” “aaa, lepaskan aku” “katakan ampun dulu, baru aku lepaskan” “tidak mau, haha” Ali semakin menempelkan badannya sehingga detak jantungnya terdengar jelas oleh Aletha. Aletha terdiam sesaat lalu berkata. “baiklah, ampun aku minta maaf” “bagus, jadi Aletha jangan berani-beraninya melempar telur lagi padaku kalau tidak kau akan tau akibatnya” “oke, sekarang ayo bereskan kekacauan didapur” “ayo” Setelah bermain dengan tepung dan adonan, Aletha dan Ali mandi. Ali selesai lebih dulu karena memang dia cepat dalam mandi. Karena kue yang mereka masak tadi hancur berantakan Ali memesan kue ukuran besar, masalah habis atau tidak yang penting beli dulu. Pikir Ali. Setelah selesai mandi Aletha keluar dari kamarnya, ia kaget menemukan kue ukuran besar dimeja. “siapa yang akan menghabiskannya?” tanya Aletha duduk disebelah Ali. “mau aku bantu?” tawar Ali ketika melihat Aletha mengeringkan rambut dengan handuk kecil. “boleh, aku ingin mencicip ini”jawab Aletha memberikan handuk kecilnya pada Ali lalu mulai memakan kue, Ali sibuk mengeringkan rambut Aletha, sedangkan Aletha sibuk memakan kuenya. Ali menatap Aletha yang sedang makan kue, cantik. Satu kata untuk Aletha. “enak?” tanya Ali membuat Aletha menganggukan kepala dengan semangat. “mau coba?” ujar Aletha memberikan suapan untuk Ali. “terima kasih” “hm” Ali meletakan handuk kecil keatas meja lalu ikut makan kue bersama stellla. “kau tidak takut gendut?” tanya Ali membuat Aletha menoleh. “gendut?” “iya” “apa itu gendut? Aku tidak tau” jawab Aletha lalu kembali menikmati kue nya. Ali menatap takjut Aletha yang menghabiskan kue ukuran besar seorang diri, ya Ali juga makan hanya saja porsi mereka beda jauh, kira-kira 99% dimakan oleh Aletha dan sisanya baru Ali. “luar biasa” komentar Ali membuat Aletha menyengir kuda. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD