Bab 10

1112 Words
Sebenarnya Aletha sama sekali tidak ada huSandrannya dengan day, seharusnya sekarang yang pergi bersama day adalah mia tapi day tidak mau pergi bersama mia. Jadilah dia yang pergi, lumayanlah dari pada dia dikantor sesakarang dan mendengar omelan dari mia. Aletha menunggu day dibawah pohon karena ia tidak mengerti apa yang day bicarakan pada orang-orang disana. Yang Aletha pahami adalah day ingin membuka cabang di bogor, Aletha akui semangat day dalam bekerja harus diancungi jempol tapi tidak untuk urusan cinta. Aletha memejamkan kedua matanya, kepalanya rasanya sangat pusing seperti di tusuk ribuan jarum, pandangan didepannya buram, bahkan Aletha tidak bisa melihat dengan benar kalau sekarang ada dihadapannya. “Letha? Kau kenapa? Hei? Letha?” tanya day panik. “astaga, hidungmu berdarah. ALETHA!” teriak day kencang karena Aletha pingsan. Dengan cepat day membawa Aletha kerumah sakit terdekat, Aletha sedang dalam pemeriksaan sedangkan day menunggu diluar. Sekarang day luar biasa cemas atas kondisi Aletha. Aletha membuka matanya ia sudah tidak merasa pusing yang bertubi-tubi, dokter? Aletha menghela nafas pasti day membawanya kesini. “dok, tolog beri tahu teman saya kalau saya baik-baik saja” ujar Aletha pelan membuat dokter cantik itu tersenyum. “tapi..” “saya mohon dok,” “baiklah” “terima kasih” dokter cantik itu tidak menjawab ia hanya tersenyum kearah Aletha. “bagaimana keadaan Aletha dok?” tanya day ketika dokter cantik itu keluar setelah memeriksa Aletha. “aku baik-baik saja” bukan dokter yang menjawab melainkan membuat day langsung menghampiri Aletha. “hei, bagaimana bisa kau..astaga, dok katakan padanya seharusnya dia masih harus istirahat” ujar day karena tidak bisa berkata-kata lagi. “jangan berlebihan, aku hanya kelelahan saja. Maafkan teman saya dok” ujar Aletha membuat dokter itu tersenyum maklum. “saya permisi,” “terima kasih dok” “bagaimana pekerjaan, sudah mendapat kesepatakatan?” tanya Aletha tapi dihiraukan oleh day. “ayolah, menjawab pertanyaan ku saja susah sekali” ujar Aletha lagi namun tetap dihiraukan oleh day. “baiklah, aku akan beristirahat tapi bukan disini. Bagaimana kalau aku istirahat dihotel lalu meminum obat?” “setuju, ayo” “tunggu dulu, jawab dulu pertanyaan ku tadi” “sudah mendapat kesepakatan, minggu depan mulai pembagunan” “baguslah, ayo pulang” - Hari kedua dibogor, Aletha meminum obatnya yang sangat banyak itu ia tidak mau ambil resiko pingsan seperti kemarin. Aletha memejamkan matanya karena bau-bau obat itu membuat nya sedikit mual, Aletha membenci obat-obatan namun tetap saja ia harus meminumnya. Didunia ini ada hal yang kita sukai namun tidak boleh dimakan seperti alergi terhadap sesuatu, ada yang tidak kita sukai namun harus dimakan contohnya obat, hanya dua namun itu pilihan yang mana akan membawa kedampak yang berbeda-beda. Aletha memang membenci obat tapi ia harus meminumnya untuk membantunya. Pukul 14.00 pekerjaan dibogor telah selesai, Aletha dan day sudah mengemasik barang-barang mereka. Day mengantar Aletha keapartemennya karena ia masih takut kejadian kemarin terulang lagi, day sangat khawatir. “oke berhenti disini, aku sudah sampai dengan selamat. Terima kasih bapak day yang terhormat” “hm, kalau ada apa-apa hubungi aku. Aku tidak yakin dengan suamimu itu” “iya, kau tenang saja” “aku pulang” “hati-hati” Seperginya day, Aletha langsung menuju kasurnya karena ia sudah sangat merindukan kasurnya itu. Tak lama kemudian Aletha sudah terlelap. $$ Aletha langsung pergi kekediaman nadia ketika mendapat telpon dari nadia, ia masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia dengar ‘day menghamili anak perempuan orang’. “mana day mam?” tanya Aletha setelah sampai dikediaman nadia. “Letha, sungguh aku benar-benar tidak tau akan begini jadinya” jelas day langsung menghampiri Aletha. “anak itu, benar atau tidak?” tanya Aletha “aku sungguh....” “aku tanya day jadi jawab iya atau tidak!” “iya, iya!” jawab day menjambak rambutnya frustasi. “kau sungguh keterlaluan day, asataga. Mama tidak pernah mengajari mu hal seperti itu” ujar nadia menangis. “mam, dengarkan day..” “cukup! Mama tidak mau dengar apa-apa lagi” “mam,” “maaf, aku tidak bermaksud membuat kalian ribut seperti ini. aku datang kemari hanya memberi tahu saja aku tidak meminta day bertanggung jawab, kalau begitu aku permisi” ujar wanita itu sambil tersenyum tertahan. “HEI, SIAPA YANG MENYURUHMU PERGI HAH!” teriak Aletha membuat wanita itu menghentikan langkah kakinya. Aletha menghampiri wanita itu, “kenapa?” “hah?” “kenapa kau pergi? Pria itu akan bertanggung jawab” “tapi...” “Aletha benar sayang, day akan bertanggung jawab. Kalian akan menikah” “siapa namamu?” “june” “baiklah june, semua sudah diputuskan kalian akan menikah secepatnya. Day?” “aku akan bertanggung jawab” jawab day setelah memikirkannya, semuanya memang salahnya. Anak yang dikandung june bukanlah kesalahan, day akan menikah dengan june. - Aletha pulang setelah masalah day terpecahkan, satu minggu lagi pernikahan day dan june akan dilaksanakan meningat nanti perut june akan membesar jadi diputuskan minggu depan. Setelah menghela nafas, ada satu rahasia yang hanya ia dan tuhan yang tau. Aletha menyukai day, hanya saja karena day tidak menganggapnya sebagai wanita dengan perlahan Aletha mundur teratur. Day hanya menganggapnya seorang adik, dan Aletha tidak akan berharap. “sudah pulang?” tanya Ali membuat Aletha tersadar. “hm, kau temben sudah pulang?” “im a boss” Aletha menganggukan kepalanya lalu duduk disebelah Ali lalu mengganti chenel televisi, “minggu depan kau sibuk?” tanya Aletha sambil mencari chenel yang menarik untuknya. “hm, kenapa?” “temanku menikah aku tadinya mau mengajakmu pergi bersama, tapi karena kau sibuk jadi aku akan pergi sendiri” “maafkan aku,” “tidak apa, aku masuk kamar dulu acara tvnya tidak ada yang bagus” Aletha masuk kedalam kamarnya ia membuka laptopnya, Aletha menonton drama koreanya. - Hari ini kondisi kantor masih sama saja, walaupun beberapa hari lagi day menikah tapi kantor sama saja selalu sibuk. Aletha dapat melihat mia menangis karena day menikah, semua orang kantor tahu kalau mia sangat menyukai day. Ah, cinta yang bertepuk sebelah tangan sama seperti dirinya. Bedanya adalah Aletha tau dimana tempatnya sedangkan mia tidak. Aletha mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, kepalanya terasa sangat pusing. Dengan gerakan cepat ia membuka tasnya dan meminum obatnya. Aletha menyandarkan dirinya dikursi, setelah kepalanya sudah meningan ia melanjutkan pekerjaannya. Dulu cita-cita Aletha ingin menjadi dokter tapi karena tidak ada yang mau membiayainya kuliah ia jadinya mengambil jurusan seni budaya, selama masa kuliah hingga wisuda semua biaya kuliah ia yang mencari karena orang tuanya tidak ada yang peduli padanya yang mereka pedulikan hanyalah Cia dan selalu Cia. Mengingat itu membuat kepala Aletha sedikit membaik karena motivasi seperti itu menjadi dorongan positifnya untuk terus maju kedepan tanpa melihat kebelakang Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD