HAPPIER, I GUESS

594 Words
"Ade berangkat ya!" Pamit Bina. Tanpa menunggu jawaban dari ibunya, Bina pun membuka gerbang dan berjalan menuju sekolah, karena mereka berjanjian didepan sekolah. Entah kenapa, Bina sedang ingin berdandan. Kini ia menggunakan celana pendek diatas lutut dan sweater yang sedikit kebesaran lalu jangan lupa tas gendong kecilnya. Tak lama, ada sebuah angkot yang berhenti didepannya, Dimas yang ada didalam angkot itu menyuruh Bina naik. Bina pun naik dan duduk disamping Dimas yang berpakaian sangat rapi itu, ia menggunakan kemeja hitam dan jeans dengan warna yang senada. Mungkin jika dilihat oleh orang lain, mereka berdua tidak terlihat seperti anak SD, karena tinggi mereka sangat semampai. "Lama ya nunggunya?" Tanya Dimas, Bina pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dimas pun tersenyum. Tiba-tiba angkot itu mengerem mendadak dan membuat Bina berdempetan dengan Dimas. "Maaf." Ucap Bina. Dimas tidak bereaksi apa-apa, ia hanya terlihat kikuk. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka turun. Bina bisa melihat toko makanan penutup yang cukup besar. "Ayok!" Ajak Dimas, Bina pun mengikutinya masuk kedalam toko itu. Bina sebenarnya belum pernah bermain diluar sekolah seperti ini, bahkan dengan Raya pun tidak pernah. Bina dipersilahkan untuk duduk oleh Dimas, sedangkan Dimas berjalan menjauh kearah tempat pemesanan. Bina yang memang selalu diajarkan menjadi wanita mandiri itu awalnya menolak untuk duduk. Namun, lagi-lagi Dimas membuatnya menurut. Sembari menunggu Dimas, Bina membuka ponselnya dan seperti biasa, tidak ada yang menghubunginya. Kini kedua Kakaknya itu tidak pernah menanyakannya, mereka berubah seperti ibunya. Hanya mengirimkan hadiah murah bahkan yang mahal pun mereka belikan. Tapikan masalahnya bukan itu yang Bina mau. "Jeng jeng jeng. Happy birthday!" Ucap Dimas antusias sembari menaruh sebuah kue yang berwarna putih dengan hiasan cantik diatas meja dan ia pun duduk dihadapan Bina. Bina hanya bisa berkedip bagai anjing yang hilang. "Hey, jangan bilang kamu lupa ini ulang tahunmu?" Tanya Dimas. Bina pun mulai berpikir, setelah ia melihat tanggalan di ponselnya ternyata benar hari ini adalah tanggal 7 Januari. Dimas yang melihat Bina terdiam itu dengan jahilnya menyolek kue dan menyentuh hidung Bina. Bina pun segera membalasnya. "Terima kasih ya." Ucap Bina. Lagi-lagi Lelaki yang ada dihadapannya itu hanya memamerkan lesung pipitnya. Bina segera memotong kuenya. "Aa~" Dimas membuka mulutnya, Bina terdiam sejenak lalu menyuapi Dimas satu potong kue yang baru saja ia potong. Mereka pun menghabiskan waktu sampai sore ditempat itu. Mereka membincangkan soal keresahan sekolah, pr yang banyak, Dimas menceritakan Ayahnya yang keras yang kadang memukulnya. Bina sebenarnya merasa kasihan saat Dimas menceritakan itu, karena kisahnya terdengar sedih namun Dimas menceritakannya sembari tertawa. "Are you okay?" Tanya Bina sembari menyentuh telapak tangan Dimas yang ada diatas meja. Senyumnya perlahan memudar dan matanya sedikit berkaca-kaca. "I'm here for you." Lanjut Bina. "Kita sama sama sakit ya Na." Ujar Dimas sembari mengangkat lengan baju Bina yang ia gunakan untuk menutupi Karyanya. Mata Bina pun mulai berkaca-kaca. Mereka pun berpegangan tangan sembari terisak bersama. Bina merasa hidup kembali. *** Kini mereka masih ada didalam angkot karena macet. Setelah kejadian tadi, mereka tidak melepas tautan tangan mereka sedetik pun. "Makasih ya, ini kuenya kamu aja yang bawa." Ucap Bina sembari menyodorkan kotak kue. Dimas awalnya menolak, tapi Bina meyakinkan Dimas bahwa dirumahnya hanya ada ia dan ibunya jadi ia takut bahwa kuenya tidak akan termakan. Dimas pun menyetujuinya. Setelah melihat Dimas hilang dari pandangannya, Bina pun berjalan sembari melihat keatas langit yang mulai gelap. Hari ini benar-benar menyenangkan bagi Bina. Ia bisa tertawa, menangis bahkan ia sudah mulai bercerita pada Dimas walau belum menceritakan hal besar. Namun, perlahan senyumannya memudar saat suatu kecemasan menghampirinya. Bagaimana jika Dimas juga pergi? Atau bagaimana jika Dimas sebenarnya hanya kasihan padanya? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuinya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD