"Hellooooo bibi Veraaaa Anna yang cantik jelita telah pulang! Dengan keadaan sehat sentausa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbammbbhh.."
"Berisik! Pulang bukannya salam atau apa malah teriak! Kamu pikir ini hutan!" omel seorang wanita berbadan dua yang membekap mulut Anna.
Anna cengengesan setelah bekapan itu lepas. "Helloo adikku.. Gimana didalem perut bunda? Hangat nggak? Atau panas? Mau kakak ambilkan kipas?"
CTAKK
"Aduh, bi. Kenapa aku dijitak?" protes Anna dengan mulut mengerucut sambil mengelus jidatnya yang kena sasaran jitakan maut sang bibi.
"Gausah aneh aneh deh kamu!"
Anna kembali cengengesan membuat Vera menggeleng. Tingkah polah Anna sangat persis seperti ibunya. Ibunya, yang kini memilih tinggal diluar negri bersama sang suami tanpa mengajak putri mereka satu-satunya. Denisa Lucyana.
"Ah, bibi mah gabisa diajak bercanda. Yaudahlah. Anna mau bercanda sama tembok aja ntar"
"Itu lebih bagus" tandas sang bibi s***s.
"Oh iya bi, paman mana?"
"Tumben nanyain? Kenapa?"
"Ah nggak apa apa. Tadi kan paman nyuruh Anna buat beli bensin persediaan. Tapi tadi ada Om-Om ganteng kehabisan bensin. Katanya mau jemput anaknya. Yaudah Anna kasih aja bensinnya. Nanti sore Anna beli lagi," jelas Anna
"Om-Om ganteng?," Vera terkekeh
"Hehe, emang nyatanya ganteng kok, Bi!" Anna cengar Cengir.
"Awas, jangan sampe suka loh ya! Udah punya anak. Kasian istrinya nanti. Jangan jadi pelakor"
Anna mendelik kearah sang bibi mendengar penuturan bibinya itu.
"Hah? Seorang Anna jadi Pelakor?! Nggak ada untungnya banget bi! Jangan kebanyakan nonton sinetron deh bi! Anna tuh masih muda! Masih banyak yang ngantri! Ya kali mau ngejar Om-Om beranak"
"Mana ada Om-Om beranak"
"Eh, maksudnya Om-Om yang udah punya anak"
Vera menggelengkan kepalanya lagi, "yaudah sana kamu makan dulu. Bibi udah masak kangkung tadi,"
"Wiihh, okelah!" Anna segera berlari kearah dapur.
Vera memperhatikan Anna yang berlari kearah dapur dalam diam. "Kamu telah menyia-nyiakan Anak sehebat Anna, kak. Kapan kamu akan menjemput Anna?"
...........................................................
"Daddy mana sih? Kok lama."
"Sabar, mungkin jalanannya macet."
Ale duduk dihalte dekat sekolah ditemani Arsen. Jam pulang sekolah sudah terlewati sejak 45 menit yang lalu namun Sang ayah belum juga datang.
Beruntung ada Arsen yang menemaninya.
Ale menatap Arsen, "kok mama tumben nggak jemput kamu?"
Arsen tersenyum tipis, "mama sakit. Papa juga pasti sibuk kerja. Aku nggak mau ngerepotin papa."
"Nanti malam boleh Ale nengokin mama?"
Arsen mengangguk, "boleh. Mama pasti seneng kamu datang,"
Ale tersenyum, bertepatan dengan itu, mobil hitam yang sangat dikenali Ale berhenti tepat dihadapan dua anak itu.
Dipta keluar dengan terburu-buru.
"Maaf sayang, daddy kehabisan bensin tadi,"
Ale mengangguk mengerti, ia lalu menggandeng tangan Arsen dan masuk kemobil.
"Hari ini jadi ke cafe dekat taman kan, dad?" tanya Ale yang sudah duduk manis dijok belakang bersama Arsen.
Dipta melirik Ale lewat kaca didepannya, "Ale mau makan disana?"
"Iya! Sekalian nemuin Mommy Anna. Iya kan sen?"
Arsen hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
Dipta jadi kembali teringat gadis yang menolongnya tadi. Ah, gadis yang manis. Seandainya saja Dipta bisa memilikinya, namun ia masih sadar, usianya tak lagi muda. Nanti yang ada ia malah di cap sebagai p*****l.
"Dad! Daddyyy!!"
Dipta mengerjap setelah mendengar pekikan Ale. "Ah, iya sayang?"
Ale mengerucutkan bibirnya lucu, "Ayoo jalan! Daddy kok malah bengong sih?"
Dipta terkekeh, ia mengacak pucuk kepala Ale gemas lalu segera menyalakan mesin mobilnya dan pergi ke tempat yang Ale inginkan.
.........................................................
"Selamat datang, tuan, nona"
"Selamat datang kembali, tuan, nona"
"Siang, tuan, nona"
Dipta hanya mengangguk dan Ale tersenyum lebar.
"Kak Jess!! Kakakk! Kak Jesss!!!" teriak Ale hingga para pengunjung menatap heran kearahnya.
Dipta menggelengkan kepalanya, tingkah Ale persis seperti almarhumah Istrinya.
Seorang pelayan muda tampak datang tergopoh-gopoh dari arah dapur. Melihat ada Dipta, pelayan itu menunduk sopan.
"Kenapa dek?" tanyanya.
"Kak jess, mom Anna mana?" tanya Ale, pandangannya menyapu seluruh ruangan mencari keberadaan Anna.
"Ah, mom Anna nya cuti dek, besok baru masuk," jawab Jessica.
Senyuman Ale pudar, bibirnya melengkung kebawah seketika, "Yahh, padahal Ale kangen sama Mommy, dad"
Dipta menatap Ale yang matanya sudah berkaca-kaca. Ia menghembuskan nafasnya kasar. "Kamu tahu dimana tempat tinggalnya?" Dipta menatap Jessica lekat.
Yang ditatap gelagapan sendiri, ia menjadi gugup. Tatapan Dipta selalu mengintimidasi.
"Aa.. Anu, tuan.. Ehm.. Kami baru saling mengenal. Jadi saya nggak tahu banyak tentang Anna. Tapi saya punya kontak handphone nya kok!" jawabnya cepat.
"Beri saya nomornya," Dipta menyerahkan ponselnya pada Jessica, Jessica menerima handphone Dipta dengan tangan gemetar, takut-takut jika handphone nya rusak. Mana bisa dia mengganti handphone mahal berlogo apel digigit itu. Harga handphone itu sama dengan jumlah gajinya selama 8 bulan. Mau makan apa dia?
"Ini pak," Jessica menyerahkan handphone Dipta, Dipta tersenyum tipis.
"Terima kasih" jawabnya. Setelah itu dia segera menggandeng Ale keluar cafe diikuti Arsen dibelakangnya.
Jessica mengelus dadanya yang berdebar, "huh, mimpi apa gue semalem bisa dapet senyuman si pak bos? Duh, rejeki anak solehah," ucapnya sambil terkikik. Setelah itu Jessica kembali berjalan kedapur mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.
...........................................................
"Cause the players gonna play play play play play
And the hatters gonna hate hate hate hate hate baby
I'm just gonna shake shake shake shake shake
I shake it off, I shake it off.. "
Anna bergoyang kesana kemari, sesekali ia melompat lompat dikasurnya yang lumayan keras, suaranya mengikuti alunan lagu milik Taylor Swift yang ia putar lewat handphone bututnya. saat ini ia sedang tidak ada kerjaan. Bibinya yang harusnya ia jaga sedang tertidur dikamarnya.
"Hadeuh, capek juga ya" gumamnya sambil menyeka keringat yang keluar dari dahinya.
Tiba-tiba musiknya berhenti, berganti dengan suara ringtonenya.
Anna turun dari kasurnya lalu segera mengambil ponselnya, sebuah nomor tak dikenal menelfonnya, Anna mengernyit bingung, namun ia segera memencet tombol hijau.
"Hallooo, Ms. Denisa Lucyana cantik disini, dengan siapa dan dimana?" tanya Anna melengking menirukan gaya host yang sedang mengadakan kuis diacara yang biasanya ia lihat diTV.
Beberapa detik tak terdengar sahutan dari sebrang sana membuat Anna mengernyit bingung. "Hallo? Ini siapa? Masih hidup kan? Nggak pingsan kan? Hallo? Hallo?" tanya Anna beruntut.
Terdengar deheman dari sana, "ya,"
Anna menghembuskan nafasnya kasar, "ah, kirain setan yang ngerjain. Siapa nih?"
"Saya atasan kamu," jawaban singkat itu mampu membuat Anna gelagapan sendiri, mendadak ia merutuki kebodohannya dalam menjawab telfon, lain kali ia harus mengubah kebiasaan buruknya itu.
Tapi mana Anna tahu kalau yang menelfon adalah boss nya? Jadi, jangan salahkan kebiasaannya itu.
"Eh, aduh, maaf maaf pak. Saya kira siapa. Hehe, maafin ya. Ada apa pak?"
Disebrang sana, Dipta geleng-geleng kepala, tapi ia seperti pernah mendengar suara itu. Tapi dimana?
"Kamu kenal anak saya?"
"Aah, Dek Ale ya? Iya pak, anak bapak gemesin deh. Jadi pengen saya karungin trus bawa pulang. Hehe," ya, setelah kejadian kemarin, Anna menanyakan pada Jessica siapa Ale sebenarnya. Dan akhirnya ia tahu bahwa Ale adalah putri dari Bossnya.
"Kamu pikir anak saya barang?,"
"Hehe, bercanda pak, gak usah serius-serius ah,"
Dipta agak heran, pegawainya yang satu ini sangat berbeda. Tidak pernah ada yang berani melontarkan candaan sepertinya. Dan Dipta juga merasa ada yang aneh dengan dirinya. Biasanya ia tidak suka berbasa basi ditelfon seperti ini. Tapi entah mengapa rasanya ia penasaran untuk mendengar lebih jauh suara pegawainya itu.
"Saya inginnya yang serius." setelahnya, Dipta merutuki jawaban spontannya itu. Sepertinya saat ini hati dan fikirannya tidak bisa diajak kompromi.
"Ah si bapak bisa aja. Memangnya istrinya kemana pak? Ntar tidur diluar loh pak,"
"Besok datang ke Cafe pagi." Dipta sengaja mengalihkan pembicaraannya, jika pembicaraan yang menyangkut pautkan tentang sang istri yang sudah berbeda alam, Dipta selalu merasa bergetar.
"Lah, kan saya emang selalu datang pagi, pak?"
"Maksud saya lebih pagi lagi. Kalau bisa jam setengah tujuh,"
"Ah, siap pak. Saya usahakan"
"Oke, terima kasih"
Tut
Setelah mengucapkan terima kasih Dipta segera memutus sambungan telfonnya. Anna mengangkat bahunya acuh lalu segera melanjutkan kegiatannya. Kembali ia memutar musik diponselnya lalu segera naik ke kasur dan memulai kembali konser akbarnya.
To Be Continued