"minggiiirr!!! Minggir minggir!! Woyy! Permisii!! Awass awass!! Aelahh! Urgent inii urgent!! Pak pak awass pak!! Kasihh jalaan!!! Ehhh dek dek minggir dekk!! Permisii!!! Permisii!! Saya buru buru ini!! Awasss!!"
Beberapa orang berdecak sebal. Tak sedikit pula yang mengumpat pada seorang gadis yang sedang berlari dengan menenteng sepatu nya itu. Ya, dia adalah Anna. Gara-gara bibinya yang mengidam ingin memencet mencet hidungnya ia jadi terlambat ke Cafe. Padahal kemarin Bossnya sudah menelfon agar ia bisa berangkat lebih pagi dari biasanya. Nyatanya ia malah terlambat, dan saat ini ia tengah mencoba berlari secepat mungkin.
Tak ada waktu lagi untuk menunggu angkutan umum atau memesan ojek online. Yang ada difikirannya, ia harus segera tiba di Cafe secepat mungkin.
Ah, seandainya saja ia bisa berguru pada Flash.
Anna sedikit menyunggingkan senyumannya kala melihat Cafe tempat ia bekerja sudah ada didepan sana. Tanpa mengurangi kecepatan berlarinya, ia menatap jam tangannya.
BRUKK
"Aduhh," seru Anna sambil memegangi dahi dan pantatnya. Ia menabrak sesuatu yang keras hingga menyebabkan ia terjungkal kebelakang dengan p****t yang lebih dulu mendarat.
"Mommy Anna??"
Merasa kenal dengan suara itu, Anna menengok tanpa melihat siapa yang ia tabrak yang kini masih berdiri dihadapannya.
"Ale?" Anna tersenyum sumringah dan segera bangkit dari duduknya.
Ia memungut sepatu yang sempat terjatuh tadi dan menghampiri Ale untuk dipeluk.
"Eh eh, jangan sentuh dia! Kamu kotor!" hardik seorang wanita menepis kasar tangan Anna.
Anna menatap wanita itu, wanita cantik dengan gaun simple tapi elegan. Pipinya tirus, hidung mancung, bibir tipis dan bulu mata lentik. Sempurna bagi Anna.
Anna tersenyum tak enak lalu memandang pakaiannya yang lusuh dan kusam akibat terkena asap kendaraan tadi. Rambutnya yang dikucir kuda pun sudah tak serapi saat dirumah tadi. Ah, ia sadar sekarang. Ia memang tak seharusnya memeluk Ale, yang notabene nya adalah putri tunggal dari sang boss.
'Dasar bodoh!' umpat Anna dalam hati pada dirinya sendiri.
"Mommy Anna nggak kotor!" pekik Ale lalu segera menubruk tubuh kurus Anna dan memeluknya erat.
"Eh, Ale sayang, Mommy Anna kotor nak. Nanti ya peluknya kalo Mommy Anna udah mandi lagi?" bujuk Anna mencoba melepas pelukan Ale.
Sedangkan dibelakang Anna, sosok yang tadi ia tabrak masih menatapnya lekat. Ya, dia Dipta.
Dipta baru menyadari bahwa Mommy Anna yang Ale maksud adalah gadis yang kemarin menolongnya juga. Kenapa dunia bisa sesempit ini?
'Jadi namanya Anna?' tanya Dipta dalam hati.
Dipta memandang Anna dari atas hingga bawah, rambut kucir kuda yang sudah agak semrawut, baju khas pelayan yang sudah lusuh, sepatu yang ditenteng.
"Ekhem.." Dipta berdehem membuat Anna dan Ale menengok, termasuk juga Zera.
"Loh? Bapak yang kemarin mau ngamen itu kan?" tanya spontan Anna sambil tersenyum lebar.
"Heh sopan sedikit bisa nggak sih kamu?" ketus Zera bersedekap d**a. Ia memandang rendah Anna dari atas hingga bawah.
"Maaf" lirih Anna, Ale masih setia memeluk kaki Anna. Ia hanya menonton.
"Oh iya pak, saya mau balikin ini." Anna merogoh kartu nama Dipta lalu menyerahkan pada pemiliknya.
Dipta menerima kartu nama itu lalu menaruhnya disaku celana bahannya.
"Ale, sini sama Daddy,"
Melihat juluran tangan sang ayah, membuat Ale melepaskan pelukannya pada kaki Anna dan segera berhambur kepelukan sang ayah.
Anna terdiam ditempatnya, apa tadi? Daddy? Ale adalah anak dari bossnya, dan jika Ale memanggil pria itu dengan sebutan Daddy, berarti, pria yang ditolongnya itu adalah Bossnya??
Siapapun, tolong pinjamkan Anna jubah milik Harry potter. Ia merutuki kebodohannya yang tidak ada sopan-sopannya menghadapi sang boss.
Semoga saja setelah ini ia tidak dipecat.
Seketika Anna langsung menunduk membuat Dipta heran. "Kenapa kamu menunduk?"
"Ah, tidak apa-apa.. Saya hanya.. Maaf."
Dipta menaikan sebelah alisnya, "untuk?"
"Untuk ketidak sopanan saya, saya mohon jangan pecat saya! Saya harus membantu paman saya mengumpulkan uang untuk proses persalinan bibi saya, saya mohon pak, jangan pecat saya." panik Anna.
Dipta terdiam sejenak. Entah mengapa ia merasa tak tega melihat Anna sekarang. "Untuk apa saya pecat kamu? Lagipula saya harusnya berterima kasih karna kamu sudah menolong saya kemarin."
Anna memberanikan diri mendongak, menatap mata sang boss. "Ehm, bapak nggak marah?"
Dipta terkekeh, "nggak."
Anna mengelus dadanya lega, "huh! Untunglah.."
"Tapi, kenapa kamu terlambat? Bukannya kemarin saya bilang kamu harus berangkat lebih pagi? Bukan lebih siang?"
"Ah, soal itu maaf pak. Bibi saya ngidam buat mencet-mencet hidung saya. Jadinya saya telat," jawab Anna jujur.
Dipta terkekeh lagi, ia merasa lucu melihat ekspresi Anna yang seperti, tersiksa?
"Lalu, kenapa kamu nggak pake sepatu kamu?" tanya Dipta lagi.
"Ohh ini, sepatu saya kegedean pak, kalau lari pake sepatu kegedean yang ada nanti kayak Cinderella yang sepatunya ilang satu. Kalau sepatu kaca jelas pasti ada yang mungut. Lah kalau sepatu saya? Dilirik aja boro boro"
Kali ini Dipta terbahak, sepertinya Anna memang cocok menjadi pelawak. Beberapa pengunjung yang melihat sang pemilik Cafe tertawa merasa terpana, bahkan ada beberapa yang mengambil gambar Dipta. Dipta memang terlihat sangat tampan ketika tertawa.
Zera mengepalkan tangannya, iri rasanya melihat Dipta tertawa karna gadis kotor itu. Padahal jika bersamanya, paling mentok Dipta hanya tersenyum unjuk gigi. Tidak tertawa lepas seperti itu.
Setelah beberapa saat, Dipta berdehem untuk menetralkan tawanya. Ia lalu menatap Anna kembali. "Saya mau minta tolong sama kamu, tolong jaga putri saya. Berhubung hari ini Ale libur dan tidak ingin ikut ke kantor bersama saya, jadi saya percayakan Ale sama kamu"
"Loh kok saya pak? Kan ada ibunya?" Anna melirik Zera, ia pikir Zera adalah ibu dari Ale walaupun tak ada kemiripan. Dan setaunya, kemarin teman Ale mengatakan bahwa Ibu kandung Ale sudah meninggal kan?
"Zera sibuk. Dia juga kerja sebagai model"
"Ohh yaudah nggak apa-apa, sini sayang!" panggil Anna pada Ale.
Dengan senang hati Ale segera berlari lagi kearah Anna. Anna memeluk Ale erat dan beberapa kali mengecup puncak kepala Ale dan pipi Chubby Ale.
"Mommy Anna kemarin kemana? Ale nyariin tau!" ucap Ale manja.
Anna mengelus rambut halus Ale yang ada digendongannya. "Kemarin Mommy Libur dulu sayang, jagain Bibinya Mommy"
"Kenapa harus dijagain? Kan udah besar mom"
"Haruslah, karna didalam perut bibinya Mommy ada dede bayi"
"Kok bisa sih? Gimana cara dede bayi masuk ke perut bibinya mommy?"
Anna menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan sebelah tangannya, karna sebelah tangannya lagi menyangga tubuh mungil Ale agar tidak terjatuh.
"Ehm, masalah itu Mommy juga nggak tau, kan Mommy belum pernah punya dede bayi. Coba deh Ale tanya sama Daddynya Ale,"
Dipta terbelalak mendengar namanya disebut-sebut. Sejurus kemudian ia menatap tajam kearah Anna yang sekarang tengah cengengesan, ia beralih menatap Ale yang menatapnya meminta jawaban. Membuatnya gelagapan sendiri. Harus menjawab apa dia?
"Ah, nanti kalau Ale sudah masuk sekolah yang lebih tinggi pasti Ale paham." alibi Dipta. Memang benar kan?
Baru saja Ale akan melayangkan protes, langsung dipotong Anna, "udah yuk kita kerumah temennya Ale aja, nanti keburu siang loh. Oh iya Ale udah makan belum sayang?,"
"Belum Mom, tadi Ale cuma minum s**u doang sama Lucifer,"
"Lucifer?," tanya Anna bingung.
Ale cengengesan, ia lalu menunjuk Zera yang tengah bersedekap d**a dengan raut wajah tak sukanya, "iya, Lucifer itu tante Zera."
Anna melotot tak percaya, "loh kok gitu? Ale gak boleh gitu nak, masa tante Zera disamain sama tokoh yang jahat sih? Kan nggak baik,"
"Abisnya Ale gak suka Tante Zera!," ucap Ale dengan mencebikan bibirnya.
"Seberapapun nggak sukanya Ale sama seseorang, Ale nggak boleh menghina orang itu. Itu namanya Ale menghina tante Zera, sayang. Jangan manggil tante Zera Lucifer lagi! Ya? Janji sama Mommy?," Anna menyodorkan kelingkingnya pada Ale disambut kelingking mungil Ale.
"Iya mom, Ale janji. Maaf tante Zera,"
"Iya sayang, tante nggak apa-apa kok," Zera tersenyum manis pada Ale. Tapi wajah Ale hanya datar-datar saja.
"Nah, pintarnya anak Mommy, mampir kerumah Mommy dulu yuk? Mau nggak?," ucap Anna setelah mengecup singkat pipi chubby Ale.
"Mau mau mau!!," Ale terlonjak antusias dipelukan Anna membuat Anna sedikit kewalahan.
"Yaudah, kalo gitu pamit dulu sama Daddy," Anna melirik Dipta yang sedari tadi diam menonton interaksi antara Anna dan Anaknya.
Ale turun dari gendongan Anna lalu berlari kearah Dipta, "Daddy, Ale mau main sama Mommy dulu ya! Ale sayang Daddy! Muah! Assalamu'alaikum," Ale mengecup pipi Dipta kemudian mencium tangannya membuat Dipta tertegun.
Selama ini Ale tak pernah mencium tangannya seperti ini, biasanya Ale hanya akan mengucapkan kata sayang lalu mengecup pipinya. Tak pernah mengucapkan salam seperti itu.
Tapi Dipta merasa senang, ia merasa sangat dihormati sekarang, "iya, hati hati ya sayang! Jangan nakal, nurut sama Mommy, Daddy juga sayang Ale, Wal'alaikum salam," jawab Dipta setelah mengecup pipi Ale.
Ale lalu kembali kepelukan Anna, "kalo gitu saya permisi, pak, bu, Assalamu'alaikum," pamit Anna lalu berlenggang pergi menggandeng Ale.
Dipta masih memperhatikan Anna dan Ale hingga dua gadis itu sudah hilang ditelan kendaraan umum, "Mas! Ayo? Nanti aku telat,"
Dipta mengerjapkan matanya, "ah, iya ayo,"
Dipta segera masuk kemobilnya tanpa membukakan pintu untuk Zera, membuat Zera diam-diam menghentakan kakinya kesal lalu masuk ke mobil Dipta