Jin Ifrit dan Jin Tomang

1004 Words
                      "Kapan kamu nikahin aku?," CIITTTT Dipta menginjak pedal rem tiba-tiba membuat tubuh Zera terdorong ke depan, untung dia menggunakan seatbelt nya. "Ih, hati-hati dong nyetirnya!," kesal Zera sambil bersedekap d**a, ia masih kesal karna Anna tadi malah ditambah respon Dipta yang menurutnya menyebalkan ini. "Apa? Kamu tanya apa tadi?," tanya Dipta, padahal ia mendengar jelas apa yang ditanyakan Zera tadi. Zera memutar bola matanya malas, "Kapan kamu nikahin aku?," ulangnya. Dipta menghembuskan nafasnya pelan, "Ra, kamu kan tahu gimana sifatnya Ale, kamu bisa mengerti kan?," Dipta kembali menjalankan mobilnya, ia berbicara tanpa melihat bagaimana ekspresi Zera saat ini. "Jadi, maksud kamu yang bakal nentuin kamu nikah dengan siapa itu, Ale gitu?," Zera menatap Dipta tak percaya. Dipta mengangguk mantap. "Kamu harus bisa ngambil hati Ale kalau mau nikah sama aku," Zera mendengus, bagaimana caranya ia mengambil hati Ale? Ada didekatnya saja Ale selalu bertingkah menyebalkan. 's**l!' umpat Zera dalam hati. ❤❤❤ "Halo adik manis, apa kabar?" "Kabar baik kak Ale," jawab Vera dengan suara yg dibuat buat. Ale terkekeh kecil, "Adik bayinya sendirian ya didalam?," "Nggk, kan ada Oma," Anna yang baru datang dari dapur langsung tertawa terbahak mendengar panggilan Oma yg diucapkan bibi nya itu. Hadeuh, ada ada saja. Anaknya juga masih 8 bulan, udah pengen jadi Oma aja. Vera melirik sinis kearah keponakannya itu. "Kenapa kmu ketawa?" "Hahahaha, Bibi Bibi, Anaknya aja masih 8 bulan belom brojol udah pengen jdi Nenek aja. Hahaha," Tawa Anna semakin menggelegar, membuat Ibu hamil yang sedang ditertawakan tak terima dan segera menyumpal mulut Anna dengan kertas yang sudah digulung. Ale tertawa melihat itu. Baru pertama kali ia melihat tingkah konyol Mommynya itu. "Ish Bumil sensian," gerutu Anna "Apa kmu bilang?!" Vera melotot kearah Keponakan durhakanya itu. "Hehe, nggk Bi nggk, Badan Bibi bagus deh, tambah Semok. Hehe," Vera mengangguk anggukan kepalanya sambil tersenyum, "good good, anak baik," ucapnya sambil menepuk puncak kepala Anna. Anna mencibir tanpa suara, bibinya ini memang ajaib! "Mommy bawa apa?," tanya Ale memotong kegiatan absurd antara Bibi dan Keponakannya itu. "Ah iya, sampe lupa kan. Ini Mommy abis bikinin pecel lele, Ale mau?," "Pecel lele itu apa, Mom?" Anna menatap Ale tak percaya, "Kamu nggk tau pecel lele??? Selama ini kamu dikasih makan apa sama daddy kamu, Ale?? Karbit? Paku? Baut??," Vera segera mencubit tangan Anna gemas. "Gak usah norak deh, anak bos ini! Ya pastilah dikasih makan Roti, Pizza, Spagetti, gak kyk kamu maniak kangkung," Anna yang tadinya hendak protes karna dicubit langsung cengengesan mendengar penjelasan sang Bibi, benar juga, Ale kan anaknya pak bos, pastilah makan makanan mewah. "Karbit itu apa, Mom?," tanya Ale "Ah, bukan apa apa sayang, ayo makan, kamu harus nyobain pecel lele ini." "Ale maunya disuapin Mommy," "Iya, sini," Ale segera menghampiri Anna dan duduk disebelah Anna dengan berbinar. Anna mulai menyuapkan daging lele dengan nasi nya hingga mulut Ale menggembung. "Gimana?," "Pedas, tapi Ale suka! Ini enak!, lagi Mom!," pinta Ale antusias. Anna tertawa lalu kembali menyuapkan pecel lele nya pada Ale hingga makanan dipiring itu habis. ❤❤❤ Dipta memijat pelipisnya, didepannya kini masih ada banyak tumpukan berkas yang belum ia tanda tangani, belum lagi satu jam lagi ia harus memimpin rapat untuk memenangkan Tender yang cukup besar dengan kliennya dari Russia. BRAKKK "Woyyy Broo!!!," Bantingan pintu dan pekikan dua orang pria yang menerobos ruangan Dipta sukses membuatnya terkejut bukan main. Dan kini dengan entengnya dua makhluk itu malah sibuk mengobrak abrik kulkas yang ada disana, setelah mendapatkan apa yang dicari mereka segera duduk disofa tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Ngapain lo bengong?," tanya salah satu pria itu menatap Dipta yang terlihat hanya diam sambil menatap mereka bengong. "Siapa lo?," tanya Dipta. "Kita? Gue Alviano Shaputra," jawab salah satu pria dengan santai. Ia lalu menengok kearah satu temannya yang masih diam sambil asik menggigit rotinya. "Saha maneh?," tanya nya. Pria itu tiba-tiba berjongkok disofa, ke-sepuluh jarinya dibuat merenggang seakan akan itu adalah cakar. matanya menatap kesegala penjuru ruangan Dipta "Aing Maung...," "Astagfirullah!! Kaluar siah maneh!! Tong ngaganggu baturan Aing!!" pekik Vian sambil memegangi dahi temannya itu. Dipta memutar bola matanya malas, drama Absurd teman se-TK, se-SD sampai kuliahnya dimulai lagi. Vian mengambil Air dimeja, mulutnya komat kamit, ia meminum air itu namun tidak ditelan, sejurus kemudian ia menyemburkan air kumurannya itu tepat diwajah temannya membuat temannya kelabakan disembur sedemikian rupa. "Weh kecebong bontot!! Ngapain lo nyembur nyembur kembarannya David beckham?!," kesalnya sambil me-lap wajahnya menggunakan bantal sofa. "Heh jin ifrit! Jin tomang! Kotor itu sofa gue lo jadiin panggung teater! Gak mau tau! Laundry-in sofa gue!," pekik Dipta yg mulai jengah. "Duit segudang, buat laundry-in sofa aja gak mampu," gumam Vian disambut tawa kencang teman sebelah nya. "Diem lo Tarno!," sembur Dipta, sekarang giliran Vian yang tertawa. "Enak aja! Nama gue bagus-bagus lo ganti Tarno! Nama gue Nicholas Turkish!," "Sama aja ada T sama R nya!," jawab Dipta santai. Nicho memberengut kesal ketika melihat Vian masih saja tertawa, temannya itu memang menyebalkan! "Ngapain lo berdua kesini?," "Mau ngegasak kulkas lo lah, mau apa lagi? Lo kan nggk penting penting amat buat kita, ya nggk, Nic?," "Yo'ii," jawab Nicho santai sambil mencomot keripik dipangkuan Vian. "Oke, gue gak penting. Mulai besok, gak akan gue sediain lagi snack dikulkas, isi aja tu kulkas batu sama detergen buat lo berdua.," Nicho dan Vian mulai cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Hehe, jangan dong mas bro, masa lo nggk mau ngasih makan si Nich sih? Dia kan kaum Dhuafa," "Weh anjir! Lo nggk inget perusahaan gue lebih gede dari perusahaan lo? s****n memang," "Becanda elah lu mah sensian," jawab Vian. "Gak usah sok imut lo! Jijik gue!," "Hidih gue mah emang udah imut dari pabriknya!," "Iya, pabrik barang bekas.," "Wah parah ya lo! Gini gini gu.." BRAKK "DADDY!!!!!," Dobrakan pintu itu sontak saja membuat Vian menghentikan ucapannya dan menengok kepintu, tak terkecuali Nicho dan Dipta. "Loh, kok kamu disini? Sama siapa sayang?," tanya Dipta berdiri dan hendak menghampiri Ale sebelum seorang gadis berlari dan menangkap Ale. "Haduh, udah sayang, Mommy capek. Udah," ucap Anna mencoba menetralkan nafasnya. Nicho dan Vian menatap Anna cengo. Dipta menatap wajah Anna, rambut yang diikat asal dan keringat yang membasahi anak anak rambutnya malah membuatnya terlihat Sexy, s**l! "Ekhem. Ngeliatin apa kalian?!," sentak Dipta memutus pandangan kagum Nicho dan Vian pada Anna. Anna yg tersadar sedang diperhatikan mendadak gugup. "Eh, m..ma.maaf pak maaf, ini tadi Ale minta diantar kesini, maaf pak kalau ganggu, ayo Ale kita keluar dulu.," Ale menggeleng dan malah menarik tangan Anna agar masuk keruangan sang 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD