Disinilah Anna sekarang, duduk dengan tegang dan berusaha menutupi ekspresi gugupnya. Bagaimana tidak gugup?! Sedari tadi ada dua makhluk aneh tapi ganteng yang menatapinya tiada henti. Ibarat Anna adalah pisang dan mereka monyetnya. Sedangkan Ale, si bocah yang membawanya kemari malah sibuk merengek pada sang ayah yang menyebalkan tapi sayangnya ganteng itu. 'ish mikir apaan sih?!' dengus Anna sebal dalam hatinya.
"Ayoook Daddy! Ale ingin makan siang sama daddy!" rengek Ale sambil menarik narik ujung jas Dipta.
"Makan disini aja ya sayang? Kerjaan Daddy belum selesai," bujuk Dipta karena memang ada setumpuk berkas dimejanya yang harus segera ia tanda tangani.
"Nggak mauu! Ale mau makan dicafe dekat pantai! Ayoo Daddy!"
Dipta menghembuskan nafasnya lalu berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Ale lalu memegang kedua bahu Ale lembut.
"Gimana kalau makannya sama Momny Anna aja?"
Tanya Dipta sambil melirik Anna. Tapi sejurus kemudian ia mengernyit melihat ekspresi Anna yang seperti... Menahan mulas?
Dipta berdiri lalu menghampiri Anna dan memegang Dahinya, "kamu sakit?," tanyanya yang hanya dibalas gelengan gugup dari Anna.
Dipta beralih menatap Vian dan Nich dan saat itulah ia tahu apa yang membuat Anna seperti itu.
PLETAK PLETAK
"Aduhh!" rintih Vian dan Nich bersamaan saat dirasa ada sebuah tangan yang menjitak kepalanya keras.
"Weh, santai dong mas bro" ringis Nich sambil mengelus jidatnya, dalam hati ia berharap semoga tak ada tanda merah yang membekas. Nggak ganteng lagi dong nanti dia.
"Tau nih, kegantengan gue berkurang jdi 99,9% kalo sampe benjol." dengus Vian.
"Ngeliatin Anna nya biasa aja dong. Liat tuh muka dia sampe pucet gitu. Kurab emang ya lo berdua," Omel Dipta sambil berkacak pinggang.
"Hihihi Kurab,"
Sontak saja celetukan itu membuat Dipta, Vian, Nich dan Anna menoleh pada Ale yang sedang menonton sambil cekikikan.
Anna berdecak lidah, ia bangkit dari duduknya lalu berkacak pinggang pada Dipta. Kegugupan dan ketegangannya entah raib kemana. Yang ada difikirannya saat ini ia kesal, Dipta berkata-kata sarkastik didepan anaknya! Sungguh terlalu.
"Pak! Kalau mau ngomong kasar liat sikon dong. Anak kecil ni anak kecil. Jangan diajarin yang nggak baik elahhh, masih bocah pak kesian." Omel Anna sambil melotot galak pada Dipta.
Dipta mematung. Belum pernah ada yang mengomelinya ketika ia berbicara seperti ini dihadapan Ale dan teman temannya, ini untuk pertama kalinya dan itu membuat Dipta merasa tersinggung tapi juga membenarkan ucapan Anna.
"Kok kamu jadi ngomelin saya sih?!" tanya Dipta balik, inginnya ia memasang wajah galak, tapi melihat wajah Anna yang menatapnya garang malah terlihat lucu dimatanya.
"Pak Dipta yang baik hati, Rajin menabung dan Tidak sombong, bukan maksud saya mau ngomelin bapak. Tapi seenggaknya liat sikon dulu ya pak. Anak bapak masih bocah loh ini, ngomong asal jeplak aja, lurus gk difilter kek jalan tol." Omel Anna lagi sambil menggendong Ale.
Vian dan Nich saling pandang, kalau begini urusannya mereka malah terlihat seperti suami istri yang sedang bertengkar.
Dipta menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Antara ingin membantah dan membenarkan. Ia bingung.
"Udah deh, bapak lanjutin aja noh ngomong sarkas didepan temennya bapak. Ale biar saya yang ajak keluar. Biar nggak terkontaminasi sama ucapan ucapan bapak" putus Anna lalu pergi begitu saja dari ruangan Dipta.
Melihat kepergian Anna yang menggendong Ale, Dipta kemudian berdecak. Ia menatap Vian dan Nich garang, "Gara Gara lo berdua nih!"
"Loh loh loh kok jadi kita sih? Kan lo yang ngomong gitu,"
"Ho'ohh tau nih"
Dipta berdecak, lalu segera keluar dari ruangannya dan memghampiri meja sekertarisnya, "Atur ulang jadwal saya hari ini, dan tolong kirimkan berkas yang ada di meja saya kerumah. Mengerti?"
Sekertaris laki laki dengan nametag Kevin Anggara itu mengangguk, "Baik pak"
Dipta memberikan senyumannya lalu segera pergi mencari Anna dan Ale, meninggalkan dua makhluk yang masih sibuk dengan isi kulkas dalam ruangannya itu.
"Wah, kita ditinggal Mas Bro." celetuk Nich sambil membuka bungkusan snack yang baru.
"Bagus dong, mumpung yang punya ruangan minggat, gasak aja semua yang ada dikulkas. Yekan yekan,"
Vian dan Nich bertos ria kemudian kembali sibuk dengan makanan yang ada.
⚫️⚫️⚫️
"Mommy Ale lapar," rengek Ale digendongan Anna. Ia menyerukan kepalanya ke leher Anna, dan memeluk leher Anna erat.
"Makan sama Mommy aja ya? Mommy masakin mau ga??" tanya Anna menepuk nepuk punggung Ale lembut agar tidak merengek lagi.
"Tapi Ale pingin makan bareng Daddy jugaa Mom," rengek Ale lagi. Matanya mulai berkaca kaca.
"Daddy masih sibuk sayang," Annie duduk dibangku Lobi, dengan Ale yang juga duduk dipangkuannya.
"Ale pingin makan bareng Daddy! Mommy Anna juga. Ale pingin bisa kayak Arsen, Reynand, sama Abby. Mereka bisa makan sama Mommy Daddy nya, kenapa Ale engga?"
pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Ale, membuat hati kecil Anna sedikit tercubit mendengarnya. Anak sekecil Ale sangat membutuhkan seorang ibu ternyata. Anna memeluk Ale erat, "Hey, Ale bisa kok makan sama Mommy sama Daddy, tapi ngga sekarang, Daddy masih sibuk sayang. Jangan nangis yaa," hibur Anna saat Ale mulai terisak dipelukannya.
Baik Anna maupun Ale tak menyadari bahwa sedari tadi Dipta menyaksikan interaksi mereka dibelakang Anna. Hati Dipta pun terasa tercubit mendengar ucapan polos Ale. Ia benar benar merasa gagal menjadi Ayah sekaligus Ibu yang baik untuk Ale.
Menarik nafas panjang, Dipta kemudian menghampiri Anna dan Ale, lalu berjongkok dihadapan Anna yang masih duduk dengan memangku Ale yang memeluknya erat.
"Ale, sayang." panggilnya lembut.
Ale menghentikan tangisnya, ia menengok kearah sang ayah, lalu kembali membenamkan wajahnya dipelukan Anna. Tampaknya ia masih sebal pada sang ayah karena menolak makan bersama tadi.
Melihat Ale yang merajuk Dipta mengelus sayang rambut Ale, "Ale mau makan bareng Daddy sama Mommy? Yuk." ajak Dipta yang disambut senyum sumringah dari Ale.
Ale menghapus air matanya, kemudian menengok kearah Dipta dengan senyum lebarnya, "Beneran Daddy mau??"
Dipta mengangguk, lalu Ale segera melompat ke pelukan Dipta, memeluknya erat, "Ale sayang Daddy." ucap Ale sambil tertawa riang.
"Daddy juga sayang Ale," balas Dipta, lalu berdiri menggendong Ale.
"Mau makan dimana?" tanya Dipta.
"Ale pingin makan dirumah, dan Mommy Anna yang masak." pinta Ale.
Dipta menatap Anna ragu, ia merasa tak enak pada Anna karena merasa bahwa itu sangat merepotkan. Melihat tatapan Dipta, Anna segera menyela
"Saya ngga keberatan pak, Asal dek Ale seneng." ucap Anna dengan senyum tulusnya.
Dipta terdiam beberapa saat melihat senyum tulus Anna, sampai guncangan tangan Ale menyadarkannya.
"Daddy jangan bengong! Ayoo pulang." rengeknya manja.
"Ahh, iya iya," Dipta berjalan menuju Basement diikuti Anna dibelakangnya.
Sesampainya didepan sebuah mobil hitam yang terlihat cukup mewah, Ale meminta diturunkan dari gendongan sang ayah, "Daddy Ale mau duduk sama Mommy Anna," ucapnya lalu segera merentangkan tangan meminta Anna menggendongnya.
Dengan senang hati Anna meraih tubuh mungil Ale, mendekapnya erat, Dipta masuk lebih dulu kedalam mobil, lalu Anna membuka pintu belakang, baru saja ia hendak duduk, Dipta terlebih dahulu berkata, "Kamu pikir saya supir disini? Duduk didepan." titahnya sebal.
Anna menunjukan cengirannya, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu kembali keluar dan duduk dikursi depan, samping Dipta. Dengan Ale dipangkuannya.
Mobil mulai melaju, namun terasa hening. Tangan mungil Ale meraih tombol radio mobil, merasa jenuh dengan keheningan yang ada, hingga sebuah musik terputar diradio itu.
~Lily was a little girl, afraid of the big wide world, she grew up within her castle walls~
"Now and then she tried to run, and then on the night with the setting sun, she went in the woods away, so afraid all alone.." Anna ikut bersenandung kecil, membuat Dipta terdiam mencoba mendengarkan suara Anna lebih jelas lagi. Ia melirik sejenak kemudian kembali fokus kejalanan dihadapannya.
Ale mengamati wajah Anna yang sedang bernyanyi, lalu ikut bersenandung dengan Anna, "Follow everywhere I go, top over the mountains or valley low, give you everything you've been dreaming of just let me in.. Ooohh,"
Setelahnya Anna dan Ale tertawa bersama, tak sadar Dipta ikut tersenyum melihat kedekatan Anna dan Ale, tak pernah ia melihat Ale sedekat ini dengan seseorang, bahkan neneknya.
"Suara Mommy bagus, Ale suka," puji Ale lalu mengecup pipi Anna sayang.
"Suara Ale juga bagus kok, lebih bagus dari Mommy," balas Anna
"Suaranya Daddy juga bagus loh Mom! Ayoo Daddy nyanyii" pinta Ale tiba tiba membuat Dipta yang sedang melirik lirik kearah Anna tersentak.
Wajahnya terlihat kaget seperti seseorang yang tertangkap basah melakukan sesuatu. Jelas, Dipta sedang melirik kearah Anna saat Ale berbicara, saat itu pula Anna menatap kearahnya membuatnya salah tingkah.
Dipta berdehem, mencoba untuk stay cool. "Daddy gak bisa nyanyi, sayang." elak Dipta tetap fokus kedepan.
"Ayoo dong Daddy, nyanyii." paksa Ale menarik narik jas Dipta. Dipta menghela nafas, kemudian tangan kirinya meraih tombol radio, mencoba mencari lagu yang dihafalnya. Setelah beberapa lama, lagu milik Ed Sheeran - Perfect terputar, Dipta menarik nafas lalu mulai mengikuti alunan musiknya.
Tiba tiba saja jantung Anna berdetak cepat mendengar suara indah yang mengalun dari bibir pria disampingnya. Sesuatu terasa menggelitik dalam perutnya, seperti ada ribuan kupu kupu yang berterbangan dari sana, pipinya juga mendadak panas saat ia menyimak setiap lirik yang disenandungkan Dipta.
Beberapa saat ia terpesona, namun dipertengahan lagu Anna segera menggeleng lalu mengalihkan pandangannya ke jendela, tak ingin menatap Dipta lebih lama lagi.
'Jantung, baik baik ya. Ini bukan waktunya buat jatuh cinta. Si Boss nyanyi buat anaknya. Bukan buat lu. Gausah baper elahh,' batin Anna menggerutu sebal.
To Be Continued