Modus

1200 Words
                       Bertepatan dengan selesainya lagu yang terputar di radio, mobil yang ditumpangi Dipta berhenti didepan sebuah gerbang. Menunggu gerbang dibukakan oleh satpam didalam sana, setelah membunyikan klakson beberapa kali, gerbang itu pun dibuka, menampakan sebuah rumah yang cukup mewah bernuansa klasik. Anna kagum dibuatnya, baru kali ini ia melihat rumah sebagus itu. Katakanlah ia lebay, tapi itulah kenyataannya.  'Wahh, ada juga ternyata rumah sebagus ini. Gue kira cuma ada di tipi tipi rumah kek gini," batin Anna berdecak kagum. "Kamu gamau keluar?" suara itu menginterupsi kesibukan Anna yang masih asik mengamati rumah besar itu dan berkhayal khayal bahwa suatu saat akan tinggal disitu. Anna tersentak, lalu menengok ke asal suara, rupanya Dipta dan Ale sudah berdiri diluar mobil, menunggu Anna yang masih betah didalam mobil. Anna menunjukan cengiran tak bermutunya, lalu segera turun dan mengikuti Dipta yang mulai berjalan menuju rumah. Dipta membuka pintu, lalu memimpin masuk, Anna masih terdiam didepan pintu, mengamati seisi rumah, lantai marmer putih dengan berbagai barang mewah ada didalam, lalu pandangannya teralih pada sendal jepitnya. 'Etdahh, buluk banget sendal gue,' batin Anna menggerutu, ia melepas sandalnya lalu menepikan sandalnya kedekat tembok, ia menginjak keset, menggerakan kakinya berkali kali, setelah memastikan telapak kakinya tidak kotor, ia kemudian berjalan menyusul Dipta dan Ale. Sesampainya di dapur, Anna melihat Ale yang sudah duduk manis dikursi meja makan, tengah menggigit sebuah apel merah ditangannya. "Mommy sinii, Daddy masih ganti baju." umumnya lalu menarik Anna agar duduk disampingnya. Anna duduk dengan canggung, demi apapun, ia takut mengotori perabotan yang ada dengan apapun yang melekat ditubuhnya. Ia benar benar merasa bagai upik abu sekarang. "Ale pingin makan pecel lele lagi Momm," pinta Ale tiba tiba, ia berpindah duduk dipangkuan Anna dengan menghadap Anna. "Hah? Pecel lele lagi?," "Iyaa, enak Ale suka." Ale tersenyum lebar, menampakan gigi susunya yang terbaris rapi. Anna yang merasa gemas mencubit pipi Ale perlahan, "Cuma itu? Gak pengen yang lain?" tawar Anna. "Emmmm," Ale tampak berfikir, dahinya berkerut tanda berfikir keras, mata bundarnya menatap kelangit langit dapur, cukup lama, sampai tatapannya kembali kewajah Anna. Anna tersenyum manis, menunggu apa yang akan diminta gadis manis dipangkuannya itu, "Bingung, apa aja deh, apapun yang Mommy masak pasti Ale suka," Anna terkekeh geli, "Cium dulu dong," pintanya sambil menyodorkan pipinya, Ale mengecup pipi Anna lama, lalu memeluk leher Anna, "Ale sayang Mommy, Selamanya!" "Mommy juga sayang Ale, selamanya." Dipta yang baru turun dari tangga dengan pakian casual nya terdiam saat melihat interaksi Ale dan Anna, wajah Ale terlihat sangat bahagia ketika ia memeluk Anna dengan mengucap sayang. Tiba-tiba terbesit sebuah pikiran di otaknya untuk melamar Anna, tapi ia tidak mau terburu-buru, belum tentu juga Anna mau dengannya, lagipula, Dipta hanya ingin menikah atas dasar cinta, bukan hanya mencintai Dipta saja tentunya, tapi juga Ale, karena Ale adalah segalanya bagi Dipta. "Daddy!" Lamunan Dipta buyar seketika, ia sadar ternyata ia masih melamun diujung tangga, dengan agak canggung ia menghampiri Ale yang masih duduk dipangkuan Anna. "Kita masak sekarang," ucapnya. Anna mengangguk lalu bangkit dari duduknya, perhatian Dipta teralih pada kaki t*******g Anna, "Alas kaki kamu mana??" heran Dipta Anna menatap kakinya, "Ah, sendalnya saya copot didepan Pak, sandal saya Buluk, takut ngotorin lantai, kasian yang ngepel." Dipta mengamati wajah Anna agak lama membuat Anna salah tingkah, demi apapun, baru kali ini ia bertemu gadis seajaib Anna. Tanpa banyak kata Dipta pergi lagi ke lantai atas, meninggalkan Anna dengan tanda tanya besar di kepalanya. "Mommy ayooo masak, Ale laper." seru Ale, lalu menarik Anna kedepan kulkas. Anna hanya pasrah saat tangan mungil itu menarik tangannya, ia lalu membuka kulkas besar dihadapannya, terdapat cukup banyak bahan makanan mentah didalam sana, sejenak Anna bingung hendak memasak apa. Matanya menjelajah seluruh isi kulkas, lalu ia menatap Ale yang menungguinya memasak, "Ale suka kangkung?" tanya Anna. "Ale belum pernah makan Kangkung Mom," Anna tersenyum simpul, "Berarti kamu harus nyoba." Anna mengeluarkan dua ikat kangkung dari dalam kulkas, lalu beberapa bahan lain seperti telur, sosis, bawang bombai, keju dan lain lain. Ia membawa kangkung itu kedepan wastafel lalu mencucinya dengan lihai, sedang sibuk dengan kangkung ditangannya, tiba tiba tangan Anna ditarik kebelakang, membuatnya kaget dan menjatuhkan kangkungnya begitu saja. Ia menengok, ternyata Dipta, "Si bapak ngagetin." gerutu Anna. Dipta terkekeh kecil, lalu mendudukan Anna dikursi, "Bapak mau ngapain??" seru Anna ketika melihat Dipta berlutut dihadapannya. Tanpa menjawab, Dipta meraih kaki Anna, tapi Anna segera menarik kakinya, "Maaf pak, ngga sopan buat saya." ucapnya tak enak. Dipta menggeleng, "Engga papa, nurut." titahnya, lalu kembali meraih kaki Anna dan memasangkan sebuah sepatu balet rumahan, sederhana tapi masih terlihat mahal. "Pas," gumam Dipta memandang puas kearah sepatu yang melekat indah dikaki Anna. Mendadak jantung Anna berpacu cepat saat tak sengaja melihat senyum diwajah tampan pria didepannya ini, tiba tiba Dipta menatap kearah Anna, membuat Anna mengalihkan pandangannya gugup. Dipta tersenyum lebih lebar saat melihat rona merah di pipi Anna, "Pipi kamu merah." Anna melotot kearah Dipta, berdiri lalu segera melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda untuk menyembunyikan wajah merahnya. Dipta tertawa renyah, lalu menatap sang buah hati yang sedari tadi sibuk dengan buku di tangannya. "Ale engga mandi dulu?" "Nanti Daddy, Ale sibuk." ucap Ale tanpa mengalihkan pandangannya dari Buku dihadapannya. Dipta menggelengkan kepalanya, "Gamau bantu Mommy?" "Daddy aja yang bantu, nanti Ale bantu makan." Dipta terkekeh, lalu menghampiri Anna yang kini tengah sibuk memotong kangkung, "Masak kangkung?" "Bukan, masak telor." sewot Anna 'udah tau lagi masak kangkung malah nanya,' lanjutnya dalam hati Melihat wajah sebal Anna malah membuat Dipta semakin gencar menggoda Anna, wajah Anna saat memerah terlihat sangat cantik di matanya. "Saya bantu," ucap Dipta lalu mengambil alih pisau di tangan Anna, Anna hanya diam lalu mengerjakan yang lain. Dipta sengaja memotong kangkungnya dengan tidak rata, semata mata supaya Anna memerhatikannya, dan usaha Dipta berhasil. Setelah melirik beberapa kali kearah pekerjaan Dipta, Anna berdecak, lalu berkacak pinggang. "Bukan begitu cara motong kangkung pak, batangnya potong juga, jangan daunnya doang," Dipta memandang Anna dengan wajah sok polosnya, "Saya ngga bisa motongnya." Anna meletakan bawang bombainya, lalu kembali mrnghampiri Dipta, mengambil alih pisau ditangan Dipta lalu mencontohkan bagaimana cara memotong yang baik dan benar. "Nih, begini pak, posisi pisaunya miring, batangnya juga dipotong." Setelah mencontohkan Anna memberikan pisau nya pada Dipta, Dipta mencoba memotong lagi dan hasilnya tetap sama, membuat Anna gemas, lalu meraih tangan kanan Dipta, menggenggam tangan besar yang tengah memegang pisau itu, lalu mengarahkan untuk memotong kangkung dihadapannya. Diam diam Dipta tersenyum, tangan kirinya berpegangan pada meja kitchen set sehingga membuat tubuh mungil Anna yang masih sibuk menggerutu dengan tangan yang menggenggam tangan kanan Dipta terkurung diantara kedua tangan Dipta. "Gini pak, masyaallah saya greget liat bapak motong beginian aja gabisa." gerutu Anna yang masih belum sadar posisinya sekarang. "Kalau begitu ajari saya sampai saya bisa." ucap Dipta. Tubuh Anna menegang seketika saat mendengar suara Dipta begitu dekat dengan telinganya, dan merasakan hembusan nafas hangat dipuncak kepalanya, Anna, melepas tangannya pada tangan Dipta, lalu hendak berjalan mundur, tapi terhalang sesuatu, ya tubuh Dipta. Anna memejamkan matanya, lalu membalikkan tubuhnya menghadap kearah Dipta, ia mendongak kesal menatap wajah Dipta yang menunjukan seringaiannya. "Modus!!" seru Anna lalu mendorong tubuh besar Dipta dengan sekuat tenaga, lalu berlari menghampiri bawang bombai yang sempat ia tinggalkan tadi. Dipta tertawa cukup kencang kala melihat seburat merah di pipi Anna, "Pipi kamu kebakaran kayaknya,". "Diem pak! Selesain itu motong kangkungnya." ucap Anna berusaha menutupi kegugupannya. "Iya... Sayang." To Be Continued 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD