Vian dan Nich saling berpandangan, sudah lebih dari 2 jam mereka duduk diruangan Dipta, tapi hanya keheningan yang mereka dapat. Menonton Dipta yang sedari tadi duduk gelisah dikursi kebesarannya, memijit pangkal hidung, lalu menghembuskan nafas kasar. "Lu kenapa deh Dip, dari tadi belingsatan gak karuan." "Tau, cacingan ya lo?!" Dipta mengacak rambut gusar, lalu menatap kedua temannya frustasi. "Gue bingung," Vian yang pertama kali peka bahwa Dipta ingin bercerita, segera mendudukan dirinya tegak, menatap Dipta serius. Dipta menghembuskan nafas panjang sebelum bercerita, setelah itu mengalirlah garis besar permasalahannya. Setelah Dipta menyelesaikan ceritanya, Nich hanya manggut manggut, sedangkan Dipta mengernyit bingung, "Maksud lo Devina Lucyanna?" Dipta menatap Vian, "Lo k

