Bab 9 - Egois.

1124 Words
Baru kali ini aku melihat wajahnya yang begitu marah dan menakutkan. Hatiku teriris, melihat sorot itu. Kemana hilangnya sikap lemah lembutmu Mas, aku tidak melihat sosokmu lagi saat ini. Kamu tidak seperti yang aku kenal sebelumnya. Musnah sudah segala rasa yang aku jaga selama ini. Kau sendiri yang menghancurkannya. "Kenapa kamu tidak terima, tak sadar sudah melakukan kesalahan besar. Heh!" teriakku didepan mukanya. Mas Ronald meredupkan mata, wajahnya terlihat menyesal telah membentakku. "Astrid ...." "Kamu berselingkuh, menikah diam-diam. Lalu apa lagi?" sambungku berapi-api. Mas Ronald mencengkram rambutnya sendiri, lalu menghempasnya dan menatapku sendu. "Astrid ... ayolah," suara Mas Ronald melunak. "Apa salahnya aku menuruti keinginan Ibu. Toh semua demi kebaikan kita," rengeknya dengan tatapan mengiba. "Kebaikan kita? Kebaikan apanya. Baik untukmu dan Ibumu, tapi menyakitkan bagiku!!" sentakku dengan nafas terengah-engah. "Ibu ingin anak laki-laki. Setelah itu aku akan menceraikan Sekar. Aku janji," jawabnya meyakinkan. Aku mendecih sinis, tak mengerti isi kepala yang ada didalam otaknya. "Kau pikir aku sudi berbagi selimut dengan orang lain? Kau pikir apa kelebihanmu hingga bisa menduakan aku!" Desisku. Dari dulu aku paling tidak suka memiliki barang yang sama dengan orang lain, apa lagi berbagi. Aku lebih suka memberi cuma-cuma dari pada memiliki secara bergantian. "Hidup kita sudah berkecukupan, secara materi bisa dibilang berlebihan. Aku yakin bisa berbuat adil. Jadi apa salahnya ...." "Hei bangun ... kau masih menumpang hidup dengan keluargaku. Tanpa kebaikan dari Papahku, keluargamu bisa apa sih," selaku dengan tatapan meremehkan. "Apa maksudmu, kenapa jadi merembet kemana-mana. Aku bekerja disana juga dengan segala kemampuanku, memeras keringat disana dan membuat usaha Papahmu maju." bantahnya tak terima. "Maju apanya. Usaha Papah tidak ada kemajuan, biasa saja," tukasku. "Sekarang pergi. Aku sibuk, pekerjaanku jauh lebih penting dari pada dirimu," sambungku. Muak lama-lama berdebat dengannya, otaknya tak menyambung. Maunya menang sendiri, tidak berkaca. Egois! "Ini ... ini yang tidak aku suka dari sikapmu," Mas Ronald terkekeh, seperti orang tak waras. "Kamu selalu saja mementingkan pekerjaan dari pada keluarga, kamu selalu mengabaikan aku, dan memilih menyelesaikan tugasmu. Di banding menemani tidurku," sambungnya sinis. Netraku melebar mendengar ocehannya. "Jadi itu alasanmu mendua? Karna pekerjaanku," cecarku. Mas Ronald terdiam, namun dari expresi wajahnya seperti setuju dengan ucapanku. "Dengar ... kau pikir dari mana keluargamu mendapatkan kenyamanan selama ini. Dari mana aku membayar kebutuhan sehari-hari dan cicilan mobil yang kau kendarai selama ini. Dan uang dari mana saat Ibumu yang tidak tahu diri itu meminta dibelikan sesuatu?" tanyaku bertubi-tubi. Mas Ronald terdiam, sorotnya menatap lurus kearahku. "Uang gajimu bahkan kau pegang sendiri, kamu hanya memberi padaku sekedarnya. Untuk beli s**u formula dan diapers saat Naura masih balita saja kurang. Apa aku pernah mempermasalahkan semuanya? Tidak! Aku membebaskanmu dari segala tagihan dan angsuran. Jadi kau mengeluh karna itu." serangku tak mau kalah. Tak habis pikir dengan isi kepalanya. "Kamu pikir aku tidak capek. Heh!" sentakku. Mas Ronald terdiam, tak bisa membantah segala ucapanku. Karna semua memang benar adanya. Selama aku masih bisa mengatasi dengan uangku, aku tidak pernah masalah, tak mau ambil pusing. Yang penting rumah tangga akur dan rukun. Itu yang selalu aku pikirkan. "Dengan alasan membiayai kuliah kedua, Adikmu. Belum lagi setiap bulan, ada saja t***k-bengek yang Ibumu pinta dariku. Benar-benar pengeretan!" caciku menggebu-gebu. "Apa! Kau bilang Ibuku pengeretan?" sentaknya tak terima dengan ucapanku. "Iya ... bukan hanya Ibumu. Tapi kamu Kakakmu, dan juga Adik-Adikmu!" balasku dengan tatapan menyalang, tak terbantahkan. Mas Ronald mendecih, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak menyangka kamu bisa berpikir sepicik itu," ucapnya sinis. "Ya ... memang itu yang aku pikirkan selama ini," sahutku. Selama ini aku selalu menepis prasangka itu, mengingat sikap lembut dan perhatian serta pengertian Mas Ronald. Semua kebusukan keluarganya tertutup, karna cinta butaku pada Mas Ronald. Tapi saat ini jangan harap apapun lagi dariku. Cukup sudah, aku benar-benar marah! "Aku memberi waktu padamu untuk menenangkan pikiran, bukan menuntut perceraian. Kamu pikir enak hidup menjanda?" cibirnya dengan tatapan menguciliku. "Lebih baik menjadi janda, dari pada habis berbagi s**********n pada orang lain. Jijik!" balasku dengan expresi menjijikan. "Astrid ... Astrid. Aku datang kesini berniat baik, berniat mempertahankan pernikahan ini. Tapi sepertinya kamu tidak bisa diajak bicara dengan baik-baik," ucapnya dengan bibir terangkat sebelah. "Aku akan membuatmu menyesal, telah berkata kasar padaku," sambungnya dengan senyum menyerigai. "Lihat saja. Jangan merengek saat aku membalas perbuatanmu ini," ucapnya dengan wajah datar. Lalu pergi dari hadapanku. Dadaku berdebar hebat, tatapan Mas Ronald sungguh menakutkan. Rencana apa yang sedang dia pikirkan, mengapa hatiku menjadi tak tenang begini. Menarik nafas dalam-dalam, aku mengurut kening yang terasa menegang seluruh uratnya. Kepalaku pusing, suhu tubuhku bahkan menghangat menghadapi masalah ini. Naura .... Perasaanku tak tenang membayangkan wajahnya, dengan cepat aku menyambar tas dan kunci mobil. Keluar ruangan meninggalkan pekerjaan. Kupacu mobil dengan kecepatan diatas rata-rata, tujuanku datang menjemput Naura disekolah. Tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan, perasaanku benar-benar tidak tenang memikirkan hal buruk pada Naura. Aku takut, laki-laki berengseek itu merebut Naura dari tanganku. Dia sudah mengizinkan Sekar bermain dengan Naura, bisa saja mereka merencanakan sesuatu yang tidak diinginkan. Sesampainya disekolah, aku langsung menuju kelas Naura. Hatiku lega, melihat Bik Irah duduk didekat pintu kantin, bergabung dengan Ibu-Ibu lainnya. "Bik ..." aku melambai kearahnya. "Eh ... Ibu," Bik Irah langsung berjalan mendekat kearahku. "Naura ada didalam kelas?" tanyaku tanpa basa-basi. "Ada Bu ... lima belas menit lagi pulang," jawabnya. Aku menghela nafas lega, lalu menepuk pundak perempuan setengah baya itu. "Jika Pak Ronald datang menjemput, jangan di kasih ya. Saya sedang bermasalah dengan dia. Saya takut, dia membawa pergi Naura," ucapku dengan mimik serius, Bik Irah langsung mengangguk patuh mendengar ucapanku. Huh ... aku sepanik ini, padahal bisa saja aku menghubungi Bik Irah lewat sambungan telepon. Karna sudah kepalang datang, aku putuskan untuk menunggu Naura sampai pulang sekolah. Aku merogoh gawai, menghubungi atasanku. Meminta izin meninggalkan pekerjaan sebentar, sebab ada masalah yang serius. Dengan berat hati, Pak Jayadi mengizinkan dengan catatan akan kembali jika masalah sudah diselesaikan. ***Ofd Hari ini aku lalui dengan rasa was-was dan tidak tenang, energiku bahkan terkuras memikirkan masalah yang seperti tidak ada ujungnya. Waktu menunjukkan pukul 19:20 mata ini sudah teramat berat ingin terpejam dengan cepat. Baru saja aku merebahkan tubuh diatas ranjang, tiba-tiba suara ketukan pintu bertubi-tubi terdengar dari luar. "Ada apa Bik?" tanyaku saat membuka pintu kamar. "Itu ada yang mencari Ibu," jawab Bik Irah dengan wajah takut. "Siapa?" tanyaku sambil menguap. "Itu Buk ..." Bik Irah terlihat gugup. Aku langsung menuruni tangga berjalan menuju pintu. Langkahku melambat saat melihat dua laki-laki berseragam coklat berdiri tegak didepan pintu. Laki-laki itu menyambut dengan anggukan kepala saat aku berjalan kearahnya. "Ada perlu apa ya, Pak?" tanyaku dengan hati was-was. "Apa benar ini dengan kediaman rumah Ibu Astrid Anandia?" laki-laki berbadan tegap bertanya dengan wajah serius. "Iya saya sendiri," jawabku. "Kami dari pihak kepolisian, mendapat tugas untuk membawa Ibu kekantor. Dengan tuduhan penganiayaan atas nama pelapor saudara, Ronald dan Ibu Sekar," ucapnya tegas. ***Ofd
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD