Sendiku lemas seketika, badanku bergetar dengan lidah kelu tak dapat mengungkapkan kata. Bik Ijah membekap mulutnya, dengan tatapan tak percaya. "Ibu ..." Bik Ijah meringsekan tubuh memegangi lenganku. "Bisa ikut kami segera, Ibu ..." ujar laki-laki bertubuh gempal dengan nama Wisnu ditanda pengenalnya. "Ma-mana mungkin. Bapak salah orang se-pertinya," ucapku terbata, saat ini aku benar-benar gugup luar biasa. Mana mungkin, Mas Ronald sampai hati melaporkan aku. "Kami punya surat izin dari kantor," Pak Polisi menyerahkan selembar kertas kepadaku. Tanganku bergetar, meraih kertas itu. Kuteguk saliva yang terasa menggumpal ditenggorokan, mataku memanas membaca surat penangkapan itu. Astaga ... Mas Ronald benar-benar melaporkanku. Brengseek sekali dia. "Sudah selesai membaca Ibu?" "

