bc

Kenapa Bajuku Selalu Sama dengan Tetangga Baru

book_age16+
detail_authorizedAUTHORIZED
823
FOLLOW
2.1K
READ
love-triangle
arranged marriage
scandal
like
intro-logo
Blurb

Jemuran Puspa dan Ayu selalu saja tertukar, karena pakaian yang mereka jemur sama, baik motif, warna, dan juga modelnya. Padahal, Ayu baru saja menjadi tetangga Puspa tiga hari yang lalu. Keanehan ini membuat Puspa curiga, sehingga ia memutuskan untuk menyelidikinya

chap-preview
Free preview
Chapter 1
Part1 Pakaian yang Sama “Puspa, jemuran kamu jatuh ke tanah becek nih!” seru Bang Ramon sambil memperlihatkan baju motif macan tutul favoritku yang sudah kotor terkena lumpur. Aku yang sedang berbaring sambil melamun, langsung menghampiri suamiku, dan mengambil baju basah itu. “Ya ampun, harusnya besok mau dipakai undangan pernikahan anak Pak RW, Bang. Malah basah dan kotor,” jawabku sambil memasukkan baju macan tutul itu ke dalam ember yang ada di dapur. “Pakai baju yang lain saja. Masa itu-itu lagi. Abang belikan kamu banyak baju buat undangan.” Bang Ramon duduk di kursi makan sambil membuka kaus kakinya. Aku urungkan untuk mengurus pakaian yang kotor tadi, aku siapkan lebih dulu air teh untuk suamiku. Bang Ramon membuka tudung saji. Matanya nampak berbinar saat melihat risoles masih hangat ada di atas meja makan. Ia beranjak dari kursi untuk mencuci tangan di wastafel, lalu duduk kembali, dan mulai menyantap risoles hangat yang rasanya memang enak. Aku sudah mencobanya tadi. “Wah, pinter kamu bikin risoles. Bikin yang banyak, Puspa. Taruh di kulkas, jadi waktu mau dimakan, tinggal goreng saja,” kata Bang Ramon sambil melahap makanan itu ditemani saus sambal. “Bukan Puspa yang bikin, Sayang. Itu buatan tetangga yang baru saja pindah. Rumah Bu Dasmi akhirnya ada yang mengontrak juga.” Aku ikut duduk menyantap risoles itu satu potong lagi, karena memang tetangga baru itu memberikan sepuluh biji risoles hangat yang baru saja digoreng. “Siapa?” tanya Bang Ramon. “Namanya Ayu, masih sangat muda. Katanya dia pindah lebih dulu ke sini, baru disusul orang tuanya.” “Oh ...” Bang Ramon manggut-manggut. “Puspa bereskan cucian yang kotor tadi dulu ya, Bang?” “Ya sudah, beresin dulu. Nanti habis itu beresin Abang. Hehehe ....” “Ish, genit! Semalam juga sudah dua kali sampai subuh masih siaran ulang, masa mau beresin lagi,” jawabku sambil bersungut. Jalanku saja masih sedikit kepayahan karena perbuatan suamiku yang selalu luar biasa di atas ranjang. Mungkin aku adalah salah satu dari wanita yang paling beruntung di dunia, karena suamiku mampu mencumbuku sebanyak dua kali pengulangan. Untuk itu kami selalu saja mesra, walau sudah satu tahun menikah belum dikaruniai anak. “Eit, malah senyam-senyum di sana! Mikirin suami perkasa ya? Hahaha ... Ya sudah kalau begitu, Abang dulu saja yang dibereskan.” Bang Ramon menegurku yang tergugu di depan gantungan handuk, sedetik kemudian ia sudah menggendongku masuk ke dalam kamar. Dua jam berlalu dan urusan kamar pun selesai. Aku bergegas mandi hadas besar sambil mencuci baju macan tutulku yang kotor. Pakaian itu sudah aku rendam di dalam ember dan kuberi sabun, tinggal menguceknya sedikit saja. Tunggu! Keningku bertaut sangat dalam saat menyadari ini bukan pakaianku. Jika aku selalu menggunakan ukuran L, pakaian yang aku pegang ini berukuran S. Dari mana aku tahu? Tentu saja dari label baju yang ada di bagian kerah. “Bang … Abang! Tadi ambil baju ini di mana?” tanyaku pada Bang Ramon yang tengah berbaring miring sambil memejamkan matanya. “Di depan, Sayang. Masa di kuburan. Hehehe ...” “Ini bukan baju Puspa, Bang. Ini ukuran S. Punya Puspa ukuran L.” “Mana Abang tahu, Puspa. Orang bajunya sama,” jawab Bang Ramon yang juga merasa aneh sekaligus lucu. “Jangan-jangan ini bajunya si Ayu, tetangga sebelah,” gumamku dengan kedua kaki masih terpaku di lantai depan kamar. Tok! Tok! “Assalamu’alaikum, Mbak Puspa. Ini Ayu.” Bang Ramon dan aku menoleh serentak ke arah pintu. “Wa’alaykumussalam, tunggu sebentar!” Aku langsung menyambar daster motif kupu-kupu yang tergantung di balik pintu kamar, lalu kupakai asal untuk menutupi tubuhku yang masih mengenakan handuk saja. Bang Ramon ikut bangun dari tempat tidur dengan ekspresi ingin tahu. Ceklek! Kubuka pintu dengan tak sabar. “Mbak, ini ... eh, baju kita samaan ya?” kata Ayu riang sambil memperlihatkan wajahnya yang cantik. Aku pun ikut tertegun, daster yang dipakai Ayu sama dengan daster kupu-kupu yang aku pakai saat ini. Baik warna, motif, dan juga model. “Mbak, sepertinya baju saya yang motif macan tutul ada di sini ya? Soalnya baju Mbak terbang ke teras rumah saya juga.” Ayu menunjukkan baju motif macan tutul yang sudah kering ada di tangannya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.1K
bc

TERNODA

read
199.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
75.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook