Setelah berada di rumah Asgar lagi, Delika pun langsung mengisi daya baterai ponselnya, karena teringat akan Dehan. Ayahnya itu pasti sudah sangat marah saat ini. Delika pun mengutuk Rio yang sudah menyebabkan semuanya menjadi sangat kacau. Tapi, ia juga menyadari kesalahannya sendiri, karena terlalu bodoh. Seharusnya ia tidak ikut pulang bersama suami orang lain. Delika tidak menyangka dirinya akan terjebak di dalam situasi seperti sekarang ini.
Delika menghidupkan tombol power di ponselnya untuk segera menghubungi Dehan. Setelah ponsel itu hidup, Delika pun terkejut mendapati begitu banyak notifikasi dari orang tua dan sahabatnya. Notifikasi dari Dehan lebih banyak dari yang lainnya. Delika sudah menduga hal ini akan terjadi. Segera ia menghubungi Dehan dan langsung diterima oleh ayahnya itu.
"Halo, Nak. Kamu dimana? Kenapa dari tadi nomor kamu nggak aktif? Papa khawatir loh."
"Maaf ya, Pa. Ponsel aku mati karena baterainya low. Papa nggak usah khawatir ya. Aku baik-baik aja kok," ujar Delika, sedikit bingung untuk menjelaskannya.
"Ya udah, sekarang kamu dimana? Biar Papa jemput."
Delika langsung mencari alasan agar Dehan tidak datang ke rumah Asgar. Bisa panjang urusannya nanti. Pikir Delika. "Nggak usah, Pa. Aku bentar lagi juga pulang kok. Ini aku numpang ngisi daya di rumah temen lama aku, Pa. Entar dia yang nganterin aku pulang."
"Oh, gitu. Ya udah, Papa tunggu kamu di rumah. Bilang sama temen kamu, hati-hati kalau bawa kendaraan."
"Oke, Pa. Aku tutup dulu ya. Bentar lagi mau jalan soalnya," ujar Delika sedikit lega.
"Oke. Dah."
"Dah."
Delika pun memutus panggilan teleponnya dengan Dehan, kemudian meletakkan ponsel tersebut di atas meja nakas, dekat sofa. Kemudian, Delika menatap ke sekeliling ruangan dan mendapati sebuah foto seorang wanita cantik yang terpajang di dinding. Delika mendekati foto tersebut, lalu menatapnya dengan seksama. Wajah wanita itu sangat mirip dengan wajah Clara. Ia langsung menduga itu adalah Ibu dari Clara sekaligus istri dari Asgar.
"Cantik banget. Kalah saing gue," gumam Delika.
Delika melihat lagi ke arah lain. Ada foto Asgar yang sedang menggendong Clara. Ia pun tersenyum, merasa kagum pada sosok Asgar. "Si Asgar cocok banget sama istrinya. Asgarnya ganteng, istrinya cantik, anaknya lucu. Udah klop banget."
Asgar yang sejak tadi memperhatikan Delika dari belakang pun tampak tersenyum, apalagi saat mendengar ucapan Delika. Ia mulai menyadari, Delika pergi karena merasa bersalah pada Asya, setelah melihat kehadiran Clara. Asgar sudah menduga hal itu akan terjadi.
Asgar pun berdeham, mencoba untuk menarik perhatian Delika yang masih memandangi semua foto yang terpajang di dinding. Dan hal itupun berhasil. Mereka saling bertatapan.
"Kamu tuh ngagetin aja deh," protes Delika saat terkejut menyadari kehadiran Asgar.
"Siapa yang ngagetin sih? Aku kan cuma deham aja. Masa gitu aja kaget."
Delika mencebikkan bibir. "Nih orang nyebelin banget lama-lama ya. Untung gue sabar."
"Aku cuma mau ngajak kamu pulang. Motornya udah siap di depan," kata Asgar. "Kamu harus pulang. Nanti orang tua kamu marah."
Delika mengangguk. "Ya udah, ayo."
"Tapi, kamu harus janji dulu sama aku," ucap Asgar.
"Janji? Janji apa?"
Asgar tersenyum. "Janji jangan tidur lagi di jalan, karena aku nggak tahu rumah kamu. Lagian tidur di jalan bahaya. Nanti kamu jatuh. Jadi, tolong diinget ya. Paham?"
Delika hanya mendengus kesal, lalu berjalan keluar, diikuti Asgar di belakang. Mereka pun menaiki motor dan melaju meninggalkan rumah Asgar.
Di sepanjang perjalanan, Delika berusaha menahan rasa kantuknya, karena wajahnya diterpa angin malam yang terasa dingin dan mampu membuatnya mengantuk. Untuk mengatasi rasa kantuk tersebut, Delika mulai mengoceh meskipun Asgar tidak menanggapinya, karena sedang fokus pada jalanan.
"Asgar, kamu tuh udah nikah ya? Tadi itu anak kamu, kan? Terus tadi aku lihat foto cewek, pasti itu istri kamu. Maaf ya, aku bukannya mau ikut campur, tapi aku nggak enak jadinya. Kalau istri kamu tahu, pasti dia marah sama aku," ucap Delika naif.
Tapi Delika tidak mendengar suara Asgar sedikitpun. Delika pun langsung mendengus kesal, karena Asgar mengabaikannya. Delika tidak tahu kalau Asgar sedang tersenyum saat mendengar ucapan naif Delika tadi. Dugaan Asgar saat di rumah tadi memang benar adanya. Sudah pasti menimbulkan kesalah-pahaman, namun Asgar tidak ingin menjelaskannya. Pria itu membiarkan Delika berpikir bahwa ia sudah menikah dan tidak akan mengganggunya lagi lain waktu.
"Ck!" Delika mendecak. "Ngeselin banget sih! Bisu beneran baru tahu rasa! Gue pikir orangnya nggak nyebelin gini. Males banget gue punya suami kayak gini."
"Aku juga nggak mau punya istri kayak kamu," balas Asgar.
Delika menggeram kesal. "Ih! Turuni aku di sini!"
"Enggak mau."
"Turuni atau aku bakalan teriak nih!" desak Delika.
"Enggak!" Asgar tetap pada pendiriannya. "Tunjukin aja arah rumah kamu, biar cepat sampe. Nanti aku dituduh nyulik kamu lagi kalau kelamaan nganterin kamu."
Helaan napas panjang terdengar. "Rumah aku tuh udah kelewatan."
Asgar menghentikan sepeda motornya ke tepi jalan, lalu menoleh ke belakang untuk melihat Delika. Mereka saling pandang dalam kurun waktu lima detik, kemudian saling berpaling satu sama lain.
Delika berdeham sejenak. "Putar balik. Rumah aku di arah kanan."
Asgar hanya mengangguk sambil memutar balik sepeda motornya menuju rumah Delika. Dalam hatinya menggumam, "Nih cewek bikin aku salah tingkah terus."
Tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di depan gerbang sebuah rumah mewah bak istana megah. Delika sudah turun dari sepeda motor Asgar.
"Nih, helm-nya." Delika menyerahkan helm milik Asgar yang sudah ia lepas dari kepalanya. "Makasih ya."
Asgar menerima helm tersebut. "Iya. Jadi, ini rumah kamu?"
"Iya. Kamu mau mampir dulu?" tanya Delika.
Asgar langsung menggeleng sambil menggantungkan helmnya di sangkutan sepeda motornya. "Aku langsung pulang aja. Nanti Clara nyariin aku. Lagian udah malem. Nggak enak sama orang tua kamu."
Tapi saat Asgar hendak menghidupkan sepeda motornya, tiba-tiba Delika menahan lengannya. Kemudian, Delika berdiri tepat di depan sepeda motor Asgar.
"Minggir. Aku mau pulang," kata Asgar sedikit kesal.
"Nggak mau," tolak Delika. "Kamu harus bantuin aku ngomong sama Papa. Please. Aku takut Papa marah."
Asgar mendecak. "Sama preman berani."
"Ya elah, itu beda kali. Papa aku tuh galak banget kalau udah marah. Galaknya kayak macan. Jadi, tolong bantuin aku ya," pinta Delika.
Asgar berpikir sejenak. Ia bingung harus menjelaskan apa saat berhadapan dengan orang tua Delika.
"Duh, jangan banyak mikir dong. Tinggal masuk, terus bilang kalau kamu yang udah nolongin aku tadi. Please," lanjut Delika dengan wajah memelas.
Asgar mendengus kesal, kemudian turun dari sepeda motornya. Delika pun senang dan langsung berjalan memasuki pekarangan rumah, diikuti Asgar. Setelah sampai di depan pintu rumah, Delika mencoba untuk menetralkan deru napasnya yang merasa ketakutan sebelum membuka pintu tersebut.
Akhirnya, Delika membuka pintu dan mengajak Asgar untuk masuk ke dalam rumahnya. Saat masuk ke dalam, Delika terkejut melihat semua keluarganya sedang berkumpul di ruang tengah. Delika mendekati Dehan dan langsung dipeluk oleh ayahnya itu.
"Kamu tuh kemana aja sih? Papa tuh khawatir," ujar Dehan.
"Aku tadi ditolongin sama dia, Pa. Aku hampir aja ditabrak sama mobil tadi. Untung dia geraknya cepat, Pa. Kalau nggak, mungkin aku udah di rumah sakit sekarang."
Dehan melepas pelukannya sambil menatap ke arah Asgar. Pria itu mendekati Asgar, lalu memukul pipi kiri Asgar. Kemudian, Dehan menarik kerah jaket yang dipakai Asgar. "Jadi kamu yang udah bawa kabur anak aku, hah?! Kamu maunya apa?! Mau uang?! Bilang! Jangan sembarangan bawa kabur anak orang!"
"Maaf, Om. Saya nggak ada niatan buat nyulik anak Om. Saya cuma niat nolongin dia, terus dia minta anterin pulang sama saya," ujar Asgar menjelaskan.
"Alesan aja kamu ya!" Dehan memukul Asgar lagi. "Apapun alesan kamu, aku nggak suka kamu bawa anak aku seenaknya!"
Delika mencoba menjauhkan Dehan dari Asgar. Ia sudah menduga, Dehan akan marah seperti ini. "Pa, kan aku udah bilang, dia tuh udah nolongin aku. Tadi aku hampir ketabrak. Harusnya Papa bilang makasih ke dia."
"Kamu kok jadi belain dia sih! Tadi Rio yang bilang, kamu dibawa kabur sama dia!" bentak Dehan. "Kalau niat mau nganterin, harusnya udah dari tadi! Tapi kamu sampe di rumah udah jam berapa ini! Udah malem!"
"Ya ampun, Pa." Delika menepuk dahinya sendiri sambil geleng kepala. "Jangan percaya omongan Rio, Pa. Dia tuh bohong. Justru gara-gara dia, aku hampir ketabrak mobil. Lagian aku udah putus sama dia. Ngapain Papa percaya sama dia?"
"Jadi, bener dia udah putus sama kamu?" tanya Dehan.
Delika mengangguk. "Iya, Pa. Dia tuh rese. Aku nggak suka. Jadi, jangan pernah percaya sama dia."
"Tuh kan, kamu sih main mukul orang sembarangan. Kan malu jadinya," sahut Alika yang merasa tidak enak dengan Asgar.
Dehan menggaruk kepalanya sambil menatap Asgar. Ia tersenyum kikuk dan berkata, "Maaf ya, udah salah sangka."
"Nggak apa-apa, Om. Saya juga minta maaf, udah telat nganterin anaknya pulang ke rumah. Tadi dia tidur, jadi saya nggak bisa nganter karena nggak tahu rumahnya," ujar Asgar.
"Oh, gitu ya. Ya udah, maaf ya."
Asgar mengangguk. "Kalau gitu, saya permisi dulu."
Asgar pun beranjak keluar dari rumah tersebut sambil memegangi pipi kirinya yang dipukul sebanyak dua kali oleh Dehan. Ia sedikit menyesal karena menuruti keinginan Delika.
Saat ingin menaiki sepeda motornya, tiba-tiba Delika berteriak memanggil namanya dari belakang. Asgar pun menghela napas berat. "Asgar, maafin Papa ya. Maafin aku juga," ucap Delika.
"Iya," jawab Asgar ketus.
"Kamu marah ya?"
"Menurut kamu?" Asgar balik bertanya.
Delika menjadi tidak enak dengan Asgar, apalagi pipi kiri Asgar merah karena ulah Dehan. "Aku bener-bener minta ma...."
"Lain kali, jelasin sendiri aja, jangan ngajakin orang. Terakhir, orang lain yang kena imbasnya. Aku nggak suka cewek modelan kayak kamu. Takut mengakui kesalahan sendiri," sela Asgar.
"Ya udah, maafin dong. Aku kan nggak tahu kalau ujung-ujungnya kayak gini."
Asgar tidak menanggapi. Ia langsung menghidupkan mesin motornya, lalu melaju meninggalkan Delika sendirian. Sementara Delika merasa bersalah sambil masuk ke dalam rumahnya.
To be continue~