Delika terus menganga, menatap Clara yang tampak sempoyongan sambil mengusap mata kanannya. Clara berjalan menuju dapur, lalu memeluk kaki jenjang Asgar yang sedang berdiri di samping Delika. Wanita itu menatap ke arah Asgar yang langsung membawa Clara ke dalam gendongannya dan berjalan menuju ruang tamu. Karena penasaran, Delika pun memutuskan untuk mengikuti Asgar dari belakang. Hanya untuk memastikan apakah anak kecil itu anak kandung Asgar atau bukan. Dilihatnya pria itu tampak mengelus rambut Clara dengan sangat lembut. Delika sampai terenyuh melihatnya.
"Ayah, Ibbas mana?"
Delika kembali terkejut mendengar Clara menyebut Asgar sebagai ayah. Sontak pikiran Delika langsung negatif dan mulai memperhatikan ke setiap sudut ruangan. Barangkali ada istrinya Asgar di rumah tersebut. Tentu saja Delika tidak ingin keberadaannya menjadi masalah nantinya. Sudah pasti, istrinya Asgar akan marah dan menganggapnya sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Asgar.
"Dia udah pulang, Nak."
Jawaban Asgar pun semakin menguatkan pikiran negatif Delika. Wanita itu langsung mencari keberadaan tasnya yang terletak di sofa, lalu mengambilnya. Delika mendekati Asgar dengan perasaan bersalah dan tidak enak.
"Ehm, maaf. Aku permisi dulu ya," pamit Delika.
Asgar mengernyit. "Kamu mau pulang sekarang?"
"Iya. Lagian kan udah malem juga. Entar Papa aku nyariin," kata Delika gugup. "Permisi."
Saat Delika hendak melangkah keluar, Asgar justru menggenggam tangan kiri Delika. Menahannya agar tidak pulang sendirian, karena sudah malam. Posisi Asgar masih menggendong Clara dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan menggenggam tangan kiri Delika.
"Biar aku anterin aja."
Delika langsung menggeleng. "Enggak usah. Iya, nggak usah. Aku bisa pulang sendiri kok. Tenang aja."
"Ck! Jangan bawel. Di luar bahaya banget, apalagi kamu cewek. Nanti digodain baru tahu rasa loh," ujar Asgar mengingatkan.
"Mampus gue. Bisa panjang urusannya kalau gue dianterin dia pulang. Entar istrinya jambak rambut gue lagi," batin Delika.
Asgar yang mengetahui Delika melamun pun lantas menyadarkannya. "Eh, ngelamun mulu. Mau dianterin nggak? Di sini masih banyak preman loh. Entar kamu digodain. Udah kebiasaan di sini."
"Oh, gitu ya." Delika mengangguk paham sambil menyengir. Ia mengusap tengkuk lehernya, mendadak merasa horor saat Asgar mengatakan kata 'preman'. "Tapi, nggak usah deh. Aku nanti pesan taksi online aja. Gampang itu," lanjutnya terkekeh.
"Tante siapa? Kok ada di sini? Ayah selingkuh ya?"
Pertanyaan Clara semakin membuat Delika merasa tidak enak. Anak kecil saja tahu tentang perselingkuhan. Delika pun berusaha mencari cara supaya Asgar tidak memaksakan kehendaknya untuk mengantarkan Delika pulang. Kasihan Clara yang pikirannya langsung tertuju pada hal negatif.
"Oh, bukan kok. Tante cuma temenan sama Ayah kamu. Nggak ada selingkuh kok. Kamu tenang aja ya," ujar Delika.
"Oke. Tapi kalau Tante bohong, aku bakalan bilangin ke Ibu aku," ancam Clara.
"Clara, nggak boleh gitu." Asgar langsung menasehati Clara agar berbicara sopan pada Delika, "Kamu harus sopan sama yang lebih tua dari kamu. Nggak boleh ngomong kayak gitu. Ayah nggak suka loh."
Clara menekuk wajahnya. "Maaf, Ayah."
"Minta maaf juga ke temen Ayah," pinta Asgar.
Clara menatap Delika lalu tersenyum ramah. "Maafin aku ya, Tan. Aku janji nggak akan gitu lagi."
"Iya, nggak apa-apa kok. Ya udah, Tante pulang dulu ya. Dah."
Delika melambaikan tangannya pada Clara sambil berjalan keluar dari rumah Asgar. Setelah berada di luar, Delika pun segera berlari menyusuri jalanan tempat tinggal Asgar yang sunyi. Suasana sunyi tersebut sedikit membuat Delika lebih waspada pada keadaan sekitar. Barangkali ada orang jahat yang sedang mengintainya. Delika merogoh saku celananya dan berniat untuk memesan taksi online dari ponselnya. Tapi sayangnya, ponsel tersebut mati, karena kehabisan daya baterai.
"Ya ampun! Sial banget gue hari ini!"
Delika melihat ke arah kanan dan kiri, kemudian melirik ke arah jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 20.00 malam. Tapi suasana di sana sangat sunyi, seperti tidak ada kehidupan sama sekali. Delika pun mengusap tengkuk lehernya yang sedikit merinding.
"Sepi amat nih kampung. Apa gue balik aja ke rumah tuh cowok ya? Eh, nggak-nggak-nggak! Jangan bodoh, Del. Entar gue diteriakin pelakor lagi sama tetangga. Bisa berabe urusannya," gumam Delika.
Helaan napas panjang pun terdengar dari Delika. Ia bingung harus naik angkutan apa agar bisa sampai ke rumah. Tidak ada angkutan umum, taksi ataupun ojek di sekitar daerah tersebut. Delika masih harus menempuh jalan yang panjang untuk bisa mencapai jalanan besar. Ia juga tidak bisa menghubungi orang tua ataupun sahabatnya.
"Gue juga nggak bawa smartwatch lagi. Hhh! Masa iya gue pulang jalan kaki sih. Kan jauh."
"Hai, Neng. Sendirian aja nih."
Dugaan Delika sebelumnya terjadi. Ia terkejut melihat keempat preman sudah menghalangi jalannya. Sebisa mungkin, Delika bersikap santai untuk menghadapi preman-preman tersebut.
Delika berdeham, kemudian berkata, "Ya terus lo mau apa kalau gue sendirian?"
"Halah! Nggak usah sok naif deh lo. Pasti lo paham maksud kita apaan," jawab salah satu preman.
Delika menyeringai. "Mendingan nih ya, lo semua cabut deh. Entar leher lo patah semua gue buat. Mau lo?"
Mendengar ancaman Delika, mereka justru tertawa. Seakan tidak percaya pada apa yang diucapkan oleh Delika. Mereka menganggap Delika hanyalah seorang wanita lemah yang mudah untuk dilecehkan. "Dih! Nggak usah sok jago lo. Kita keroyok juga lo bakalan mampus."
"Iya. Mending lo nyerah aja, terus abisin waktu bareng kita. Itu lebih seru loh," sahut yang lainnya sambil berusaha mencolek dagu Delika.
Delika yang selalu mempunyai insting siaga pun langsung memelintir tangan preman tersebut ke belakang. Bahkan tangan preman itu sampai berbunyi saat Delika memelintirnya. Kekuatannya ternyata sebanding dengan preman tersebut. Alhasil, membuat lawannya menjadi meringis kesakitan.
"Kan udah gue ingetin, mendingan lo semua pergi. Jangan ganggu gue, karena gue nggak takut sama lo berempat. Lo semua mau gue patahin tangan lo kayak gini?" ucap Delika santai.
"Bacot lo! Lepasin temen gue!"
Delika menyeringai. "Gue bakal lepasin, asal lo semua pergi dari hadapan gue. Kalau lo mau temen lo selamat, ya lo harus nurutin ucapan gue. Tapi kalau lo milih bertahan, siap-siap temen lo gue ancurin."
"Oke. Oke. Kita bakalan pergi, tapi lo lepasin dia," ucap si ketua preman. Pria itu menyerah.
Delika pun menepati janjinya. Ia mendorong pria yang menjadi sanderanya, kemudian keempat preman itu langsung meninggalkan Delika.
"Rasain lo semua! Lo pikir, gue takut sama lo?! Maaf nih ya, gue bukan cewek lemah!" teriak Delika.
Asgar tersenyum saat melihat Delika berhasil menghentikan aksi preman tersebut yang memang selalu meresahkan warga di sekitarnya, terutama anak-anak remaja. Sejak tadi, Asgar bersembunyi di balik pohon rimbun yang jaraknya tidak terlalu jauh dari posisi Delika saat ini. Asgar memang mengikuti Delika dan menitipkan Clara pada Bi Asri, karena saat ini, Delika masih menjadi tanggungjawabnya. Yang membawa Delika ke daerah tersebut adalah Asgar sendiri. Mau tidak mau, Asgar harus menjaga Delika.
Satu hal yang didapatkan dari Asgar mengenai Delika adalah tidak semua wanita itu lemah. Mereka semua bisa belajar bela diri, asalkan mereka mau mempelajarinya. Delika sudah membuktikannya dan berhasil membuat preman itu pergi menjauh darinya.
Asgar berjalan mendekati Delika, lalu berdeham. Hal itu membuat Delika menoleh ke belakang dan menampilkan ekspresi terkejut saat melihat Asgar.
"Ka-Kamu ngapain di sini?" tanya Delika gugup.
"Ngikutin kamu," jawab Asgar.
"Ya buat apa?"
Asgar tersenyum. "Cuma mau jagain kamu. Takut kamu digodain sama preman tadi. Soalnya kan yang bawa kamu ke sini itu aku. Udah jadi tanggungjawab aku dong buat jagain kamu. Tapi pemikiranku salah. Ternyata kamu tuh cewek tangguh. Kamu keren banget. Hebat. Aku udah lihat semuanya tadi."
"Ah, biasa aja. Masih banyak yang lebih hebat dari aku," ujar Delika merendah.
"Ya, itu aku setuju. Cuma bagi aku, kamu udah hebat. Jaman sekarang tuh, cewek-cewek harus bisa belajar ilmu bela diri, supaya mereka bisa jaga diri sendiri. Bener nggak?"
Delika mengangguk setuju. "Bener banget. Makanya aku tuh seneng bisa belajar bela diri. Jadi aku nggak terlalu takut buat ngadepin masalah kayak tadi."
"Kamu mau ajarin Clara bela diri nggak?" tanya Asgar.
"Enggak," tolak Delika. "Dia masih terlalu kecil. Jangan dulu deh. Lagian aku tuh nggak bisa ngajarin. Kamu cari yang lain aja."
Asgar menaikkan satu alisnya ke atas. "Kenapa? Kamu udah bagus menurut aku. Udah cocok banget jadi guru bela diri. Nanti aku bakal cariin remaja-remaja cewek di sini deh buat belajar sama kamu."
"Enggak. Makasih," jawab Delika. "Aku mau pulang. Permisi."
Delika berbalik membelakangi Asgar, berniat untuk melangkah pergi. Tapi Asgar memegang tangannya kembali, menahannya untuk pergi. "Aku yang bakal anterin kamu pulang. Sekarang, kita balik ke rumah aku buat ngambil motor. Jangan protes. Ini buat keselamatan kamu juga."
Asgar langsung membawa Delika untuk kembali ke rumahnya. Sementara Delika tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut saja. Toh, Delika juga masih bingung harus pulang naik apa. Mungkin memang ia harus pulang bersama Asgar malam ini agar sampai ke rumah dengan selamat.
To be continue~