Asgar menatap Delika yang ternyata hanya mengigau dalam tidurnya. Ia menghela napas panjang sambil melepaskan genggaman tangan Delika secara perlahan. Setelahnya, Asgar berjalan masuk ke kamar, mengambilkan sebuah selimut tebal serta bantal. Asgar melirik sebentar ke arah Bi Asri yang turut tertidur di samping Clara dan Ibbas. Asgar tersenyum, lantas berjalan keluar kamar tanpa menimbulkan suara berisik.
Asgar mendekati Delika kembali, lalu meletakkan bantal tersebut di bawah kepala Delika secara perlahan. Kemudian, Asgar menyelimuti wanita tersebut sampai sebatas pinggang. Pria itu duduk di sofa kecil, berdekatan dengan sofa panjang yang di tempati Delika saat ini. Ia menatap wajah Delika secara mendetail. Asgar berusaha mengingat, kapan ia bertemu dengan wanita itu sebelumnya.
"Hhh! Aku nggak bisa ingat sama sekali," gumam Asgar sedikit kesal. "Aku emang ngerasa pernah ketemu sama nih anak, tapi aku nggak ingat ketemunya dimana."
Setelah beberapa saat termenung sambil memandangi wajah Delika, Asgar pun teringat akan belanjaannya tadi. Ia bergegas menuju garasi dan mengambil plastik besar berisi belanjaan yang masih tersangkut disangkutan motornya. Kemudian, Asgar berjalan menuju dapur untuk meletakkan belanjaan tersebut ke dalam lemari es.
Sementara di kediaman Ben Angello, Kakek Delika, Dehan tampak mondar-mandir karena merasa cemas dengan keadaan putrinya yang sampai detik ini, tidak memberi kabar. Tangan kanannya masih setia memegangi ponsel sambil terus berusaha menghubungi Delika. Dehan berharap, Delika akan menerima panggilan teleponnya.
"Ck!" Dehan mendecak. "Kamu dimana, Nak? Jangan buat Papa khawatir dong," gumamnya sendirian.
Alika sendiri juga berusaha menghubungi teman-teman Delika, termasuk keenam sahabat putrinya itu. Tapi, jawaban mereka tetap sama. Tidak ada yang tahu Delika pergi kemana. Bahkan Satria dan Arya membantu mencari Delika di sepanjang jalan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari area kampus. Tapi hasilnya tetaplah Nihil.
"Suci, kamu beneran nggak tahu dimana Delika?" tanya Alika saat menghubungi Suci.
"Maaf, Tan. Suci beneran nggak tahu Delika kemana. Tadi sih janjian mau ketemuan di rumah, karena ada kerja kelompok. Waktu Suci telepon, dia bilang ada di ujung gang dekat supermarket. Ya udah, Suci tungguin aja di rumah, tapi ditungguin nggak ada nongol dianya. Suci ngirainnya dia udah dijemput sama Om Dehan."
Alika menghela napas berat. "Enggak, Ci. Delika nggak ada di rumah. Itu Papa-nya lagi sibuk nelponin tapi nggak ada jawaban. Kata Rio, Delika pergi sama orang asing."
"Hah? Seriusan, Tan?"
"Iya serius, Ci," jawab Alika. "Tante khawatir banget sama dia."
"Tapi, tunggu deh, Tan. Kok Rio bisa tahu sih? Sedangkan Delika itu tadi bilangnya mau nungguin Om Dehan dulu, sekalian minta izin buat ke rumah Suci."
"Tante juga nggak tahu, Ci. Yang jelas, Om Dehan tadi tahu informasi itu dari si Rio. Dia ngaku pacarnya Delika," ujar Alika semakin cemas.
"Dih! Jangan percaya, Tan. Delika udah putus sama tuh anak. Entah pun itu cuma karangan dia aja, Tan. Entar Suci minta bantuan sama temen yang lain buat nyariin Delika ya. Tante tenang aja. Delika kan jago bela diri. Dia pasti baik-baik aja."
Alika sedikit lega mendengar penuturan Suci. Delika memang pintar dalam seni bela diri. Hanya saja, Alika masih sedikit merasa cemas, apalagi Delika seorang wanita. Akan sangat beresiko jika putrinya itu melawan para penjahat sendirian.
"Tadi Tante udah minta tolong ke Satria sama Arya. Katanya mereka udah cari Delika ke sepanjang jalan di dekat area kampus, tapi nggak ketemu," kata Alika.
"Oh, ya udah, kalau gitu Suci bakal cariin Delika bareng sama Geby ya, Tan. Kebetulan dia lagi di rumah Suci. Tante tenang ya. Nanti Suci kabarin kalau udah nemuin Delika."
Alika tersenyum senang. "Makasih banyak ya, Ci. Maaf karena Tante udah ngerepotin kamu sama yang lain. Tante bingung harus minta bantuan ke siapa lagi."
"Nggak masalah, Tan. Ya udah, Suci tutup dulu ya. Nanti Suci telepon lagi."
"Oke."
Alika memutus panggilan teleponnya dengan Suci, lalu menghampiri Dehan yang masih kelimpungan. Ia menyentuh bahu kekar suami yang dicintainya itu. "Sayang, aku udah minta bantuan sama temennya Delika. Mereka lagi nyariin Delika sekarang."
Dehan menatap Alika sekilas, kemudian terduduk di sofa sambil menyibakkan rambutnya ke belakang karena frustrasi. Bagaimana tidak? Putri kesayangannya pergi bersama pria asing dan Delika sendiri tidak pernah pergi dengan orang lain, kecuali dengan keluarga dan keenam sahabatnya.
"Aku yang salah, Alika," ucap Dehan setelah beberapa menit terdiam. "Harusnya aku tuh jemput dia dulu sebelum meeting. Kalau aku jemput dia, otomatis kejadian kayak gini nggak bakalan terjadi."
Alika duduk di samping Dehan sambil mengelus pundaknya. "Sayang, kamu kan nggak tahu kejadiannya bakalan kayak gini. Jadi, jangan nyalahin diri kamu sendiri. Lagian tadi Suci bilang, Delika emang nungguin kamu di ujung gang dekat supermarket. Suci aja kaget waktu aku bilang soal Rio. Dia bilang, Delika sama Rio itu udah putus. Jadi menurut Suci, mungkin itu cuma akal-akalan Rio aja. Aku yakin, Delika bisa jaga diri. Dia kan jago bela diri."
"Oh, gitu." Dehan mengangguk paham. "Ya tapi, tetap aja aku khawatir, Sayang. Dia anak satu-satunya loh. Kalau ada apa-apa sama dia, gimana? Kan bisa gawat urusannya."
"Bilang aja mau buat lagi. Repot banget sih," sahut Ben yang tengah santai membaca koran, seakan tidak ragu akan kelihaian cucunya dalam ilmu bela diri. Ben yakin, Delika mampu menghadapi dunia luar tanpa harus dikawal.
"Ck! Apaan sih, Pa? Papa nggak khawatir sama cucu sendiri? Dari tadi aku lihatin tenang-tenang aja. Nggak ada cemas-cemasnya," ujar Dehan kesal.
Ben menghela napas panjang sambil meletakkan korannya di atas meja. "Kamu pikir, Papa nggak khawatir, gitu? Papa nih juga cemas, tapi yang dibilang Alika itu bener. Delika pasti bisa jaga diri. Dia bukan anak kecil lagi yang kemana-mana tuh harus dikawal, Dehan. Dia udah dewasa dan tahu mana yang baik dan yang buruk. Udah tenang aja deh. Paling entar lagi juga balik."
"Ma, lihat tuh Papa. Bikin kesel aja," adu Dehan pada Christina. Kebiasaan Dehan sejak dulu.
Christina justru terkekeh. "Lagian kamunya lebay banget sih. Mungkin, Delika tuh lagi ketemu sama temen lamanya, terus diajakin hangout bareng. Kan kamu cuma denger dari satu pendapat aja. Belum denger dari Delikanya sendiri."
"Bener tuh apa kata Mama," tambah Ben. "Papa yakin, Delika baik-baik aja."
Dehan yang kesal pun beranjak dari sofa kemudian berjalan menuju kamarnya. Lebih baik ia menghindar daripada terus disudutkan oleh Ben. Fyi, Ben dan Dehan memang sering berdebat dalam segala hal dan selalu berbeda prinsip. Itu sebabnya, Dehan tidak terlalu dekat dengan Ben. Tapi ia tetap menyayangi kedua orang tuanya dengan caranya sendiri.
***
Setelah meletakkan semua belanjaannya di lemari es, Asgar kembali menuju sofa yang tadi ia duduki. Ia menatap Delika yang tertidur dengan dengkuran halus. Napasnya juga terdengar sangat teratur dan wajahnya juga cantik. Asgar menatap Delika sambil tersenyum manis. Jarang sekali Asgar menampilkan senyuman itu setelah kepergian Asya. Sayang sekali, Delika tidak melihatnya.
Asgar tersentak saat mendengar pintu kamar terbuka. Ia melihat ke arah pintu dan muncullah Bi Asri serta Ibbas dari dalam kamar. Asgar berdiri dan mendekati Bi Asri.
"Bibi mau pulang?" tanya Asgar.
"Iya. Ini si Ibbas ngerengek minta pulang," jawab Bi Asri. Kemudian ia melirik ke arah sofa dan menunjuk Delika. "Siapa?"
Asgar menoleh ke arah Delika. "Oh, aku juga nggak kenal sama dia. Tadi, aku nolongin dia, karena hampir ketabrak mobil di jalan. Terus pas aku anterin pulang, eh dianya malah tidur. Jadi, aku bawa aja ke sini, karena nggak tahu alamat rumahnya."
"Lihat aja kartu identitasnya. Siapa tahu ada alamatnya."
"Nggak sopan dong, Bi. Entar disangka maling lagi," kekeh Asgar.
Bi Asri pun ikut terkekeh. "Eh, tapi dia cantik loh. Emang kamu nggak tertarik sama dia, hm? Ajak kenalan nanti. Biar nggak sendirian terus kamunya."
"Bi, aku mau fokus bahagiain Clara dulu."
"Asgar," Bi Asri menepuk pundak Asgar, "...kamu tuh harus buka hati juga buat kelangsungan hidup kamu nanti. Kan nggak mungkin selamanya kamu tuh sendiri terus. Nggak ada yang ngelarang kamu buat bahagiain Clara. Tapi kamu juga butuh kebahagiaan, Asgar. Kamu juga butuh pendamping. Pikirin deh."
Asgar tersenyum lalu mengangguk. "Iya, Bi. Nanti aku pikirin lagi. Tapi, bisa nggak Bibi jangan pulang dulu? Soalnya nanti kalau nih cewek bangun, aku pasti harus pergi lagi buat nganterin dia pulang. Nanti siapa yang jagain Clara?"
"Oh, iya juga. Ya udah, Bibi nganter si Ibbas dulu ya, biar Mamanya yang jagain. Nanti Bibi balik lagi ke sini buat jagain Clara."
"Oke, Bi. Maaf ya, Bi, aku ngerepotin terus," ucap Asgar tidak enak.
Bi Asri mencubit lengan Asgar. "Kamu tuh ya, kayak sama siapa aja. Bibi udah anggap kamu sebagai anak. Jadi ya gimanapun juga, Bibi harus bantuin kamu."
"Makasih banyak ya, Bi."
"Iya. Ya udah, Bibi anterin Ibbas dulu ya. Hati-hati. Nanti kamu khilaf sama tuh cewek," goda Bi Asri sambil berjalan meninggalkan Asgar.
Asgar sendiri hanya menanggapi dengan kekehan kecil, lalu kembali ke tempat duduknya. Ia menatap wajah cantik Delika yang begitu bersinar dan terlihat natural. Sekilas, wajah Delika memiliki sedikit kemiripan dengan Asya. Tapi Asgar tidak mau membandingkannya lebih jauh, karena itu tidak baik.
Pria itu memutuskan untuk membangunkan Delika, karena hari sudah semakin gelap. Tidak mungkin Delika harus tinggal di rumahnya. Bisa-bisa para tetangga menggunjinginya karena telah menyimpan seorang wanita tanpa status pernikahan yang sah. Sampai saat ini saja, masih banyak tetangga yang mengira Asgar adalah seorang duda beranak satu. Padahal Clara bukanlah anak kandungnya.
"Hei, bangun."
Asgar berusaha menggoyangkan sedikit tubuh Delika, sampai akhirnya wanita itu terbangun dari tidurnya. Delika menggeliat sambil tetap terpejam, kemudian membuka kedua matanya secara perlahan. Yang pertama kali Delika lihat saat membuka mata adalah wajah tampan Asgar. Delika langsung tersenyum.
"Hai, Om," sapa Delika.
"Jangan panggil Om!" tegas Asgar.
Delika tersadar dan langsung terduduk di sofa. Ia melihat ke sekeliling ruangan dan menyadari bahwa dirinya tidak berada di rumah. "Aku dimana?"
"Ck! Kamu lagi di rumah aku," jawab Asgar kesal. "Kamu tuh tadi tidur. Aku udah coba banguni, tapi kamunya susah dibanguni. Jadinya aku bawa kamu ke sini."
"Oh, gitu. Bawa ke hati kamu juga nggak masalah kok," ucap Delika.
Asgar yang mendengar gombalan Delika hanya menatap geli dan langsung bergegas menuju dapur. Delika mengekorinya dari belakang. "Ada air dingin nggak? Aku haus."
"Ada," jawab Asgar dan langsung mengambil sebotol air mineral dingin dari dalam lemari es, lalu menyerahkannya pada Delika. "Tuh, minum."
"Makasih, Asgar Ganteng."
Asgar menatap jijik. "Nggak usah lebay. Buruan diminum, biar aku bisa nganterin kamu pulang."
"Oke."
Delika menengguk air mineral tersebut, lalu menatap ke arah pintu kamar yang terbuka. Seorang anak kecil yang baru bangun tidur, keluar dari dalam kamar. Seketika Delika terkejut dan hampir menyemburkan minumannya. Kedua matanya terbuka lebar, karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Dia udah punya anak? Dia udah nikah?"
To be continue~