Bab 6

1026 Words
Asgar beranjak dari sofa, mengurungkan niatnya untuk kembali beristirahat. Pria tersebut melangkahkan kakinya menuju dapur. Asgar ingin memasak sesuatu, karena perutnya sudah mulai berbunyi. Ia membuka lemari es, berharap ada sesuatu yang bisa dimasak. Tapi sayang, bahan makanannya sudah habis. Hanya tersisa beberapa minuman kaleng saja. Asgar baru menyadari bahwa dirinya memang belum belanja bulanan. Bahkan selama di perjalanan tadi, Asgar lupa untuk singgah ke supermarket sebelum pulang ke rumah. Pria itu bergegas mengambil jaket kulit berwarna hitam yang tergantung di dinding ruang tengah, kemudian mengambil kunci motor yang terletak di meja ruang tamu. Sebelum pergi, Asgar meminta Bi Asri untuk menjaga Clara yang sedang tidur di kamar bersama Ibbas. Asgar menaiki sepeda motornya menuju supermarket terdekat. Jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumahnya. Setelah beberapa saat berkendara di jalan, akhirnya Asgar tiba di supermarket dan memarkirkan motornya dengan rapi. Saat hendak masuk ke dalam supermarket tersebut, tiba-tiba saja Asgar mendengar suara seorang wanita tengah berteriak. Asgar pun menoleh untuk melihat apa yang sedang terjadi. Seorang pria tampak sedang menarik paksa seorang wanita di tepi jalan besar. Asgar memperhatikan wanita yang sedang berteriak itu. Keningnya pun mengernyit, seakan tidak asing dengan wanita tersebut. "Dia kan, cewek yang ada di bus tadi pagi," gumam Asgar. "Please, Del. Kasih aku kesempatan. Aku janji bakal perbaiki semua kesalahan aku," ujar pria itu yang ternyata adalah Rio. Delika berusaha melepaskan tangan Rio dari pergelangan tangannya, namun tidak berhasil. "Gue nggak mau! Jangan paksa gue! Lo tuh cowok nggak guna buat hidup gue! Lepasin gue sekarang juga!" "Enggak! Aku nggak akan lepasin kamu, Del. Aku sayang sama kamu." Asgar mencoba mendekati kedua orang tersebut. Saat Asgar hampir mendekati mereka, Delika sudah berhasil melepaskan cengkeraman Rio secara paksa. Delika berjalan mundur untuk menjauh, tanpa melihat ke arah kanan dan kiri. Asgar menoleh ke arah kiri jalan, ada sebuah mobil yang sedang melaju kencang tepat ke arah Delika berdiri saat ini. Asgar berlari dengan kencang lalu menarik Delika dan memeluknya. Delika selamat. Mereka berdua sudah berada di tepi jalan. Asgar telah berhasil menyelamatkan putri semata-wayang Dehan. Asgar menunduk untuk melihat kondisi Delika yang masih berusaha mengatur napasnya. Wanita itu tampak syok dengan kejadian tadi. Sementara Rio merasa cemburu melihat Delika berada dalam pelukan pria lain. "Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Asgar. Delika hanya mengangguk pelan. Asgar pun tersenyum sambil membelai rambut wanita tersebut dan berkata, "Lain kali, lihat kanan kiri ya. Jangan asal mundur. Untung aja aku lihat kamu tadi. Kalau nggak, entah gimana kondisi kamu sekarang." Delika mendongak ke atas agar bisa melihat wajah Asgar. Ia tersenyum hangat dan merasa nyaman berada di dekat Asgar. Delika bergumam dalam hati, "Gue ngerasa nggak asing sama pelukan ini. Tapi, gue nggak bisa inget apapun." Asgar melepas pelukannya, kemudian mengajak Delika untuk mendekati Rio. Sedangkan Delika bersembunyi di balik tubuh kekar Asgar. "Maaf. Aku nggak bermaksud ikut campur urusan kalian. Tapi tolong, jangan kasar sama pacar sendiri. Kalau ada masalah, bicarain baik-baik, jangan kayak tadi. Nyawa dia hampir aja hilang karena ulah kamu," ujar Asgar dengan kalimat dewasanya. Delika menatap Asgar dengan rasa kagum yang menggebu-gebu. Ia terus memuji pria tersebut di dalam hati sambil tersenyum bahagia. "Gue tuh cuma mau balikan sama dia. Tapi dia nggak mau," ujar Rio, membela diri. Asgar justru tersenyum. "Aku tahu. Dari tadi, aku juga udah lihatin kalian. Aku cuma nyaranin aja, jangan sampe pertengkaran kalian bikin salah satunya celaka. Masih banyak cara lain yang bisa kamu lakuin buat bikin dia balik sama kamu." "Sekarang, kamu pulang sama dia ya," lanjut Asgar sambil melepas genggaman tangannya dari Delika. Tapi Delika justru menolak. Delika menangis. "Aku nggak mau pulang sama dia. Om aja ya yang nganterin aku pulang." "Delika, aku...." "Diem!" sela Delika, menghentikan ucapan Rio. "Jangan paksa gue lagi buat balikan sama lo, karena gue udah nggak mau. Paham?!" "Kamu pulang sama dia aja," sahut Asgar. Delika menggeleng. "Nggak mau, Om." "Hhh! Ya udah, aku anterin kamu pulang," ucap Asgar terpaksa. "Makasih, Om." Asgar pun mengajak Delika menuju parkiran supermarket. Tapi sebelum pulang, Asgar mengatakan sesuatu pada Delika, "Aku mau belanja dulu. Kamu mau nunggu, kan?" "Oke. Tapi, aku ikut masuk ya, Om." Asgar mendengus kesal. "Panggil aku, Asgar. Aku nggak setua itu." "Oh, oke. Maaf ya, Asgar," ucap Delika sambil menyengir. Asgar hanya mengangguk, kemudian berjalan masuk ke dalam supermarket, diikuti Delika di samping kirinya. Sementara Rio hanya bisa mengepalkan kedua tangannya saat melihat Delika bersama pria lain di dalam supermarket. Rio seakan enggan melepaskan Delika begitu saja. Pria itu tampak memikirkan cara lain agar Delika bersedia menerimanya lagi. "Lo lihat aja entar. Gue bakalan bikin lo balik lagi sama gue," gumam Rio sambil berjalan menuju ke arah kampus. *** Setelah selesai berbelanja, Asgar keluar dari supermarket bersama Delika. Wanita itu terus saja menatap Asgar sambil tetap menampilkan senyuman manisnya. Delika semakin yakin, dirinya memang pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya, meskipun ia belum bisa mengingatnya. Asgar melirik sekilas ke arah Delika. Ia berdeham untuk menyadarkan wanita itu, namun tidak berhasil sama sekali. Asgar menghela napas panjang, lalu berkata, "Kamu mau pulang nggak? Atau mau di sini terus?" Delika tersadar dari lamunannya. "Eh, iya mau pulang. Anterin ya." "Ya udah, naik. Entar tunjukin aja jalannya kemana ya," ujar Asgar. Delika pun mengangguk dan langsung naik ke atas motor Asgar. Asgar melajukan motornya menuju arah jalan yang ditunjukkan Delika. Awalnya, Delika tetap menunjukkan arah jalan, namun beberapa saat kemudian, Delika justru nyaman berada di belakang sambil memeluk Asgar. Delika bersandar di punggung kekar tersebut sambil memejamkan kedua matanya. Delika seakan tidak ingin lepas dari pria itu. Sementara di gerbang kampus, Dehan tengah menunggu Delika. Ia tampak mondar-mandir dengan raut wajah cemas. Dehan menggigit ibu jarinya seraya berdecak kesal. "Ck! Dia kemana sih? Kok nggak keluar-keluar dari tadi? Atau mungkin, dia udah pulang? Wah! Bener-bener itu anak ya." Dehan mengambil ponselnya dari saku jas, lalu menghubungi nomor ponsel Delika. Tapi sayang, ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Delika. Dehan tetap menghubungi nomor Delika, walaupun hasilnya tetap nihil. "Ya ampun! Dia tuh kemana? Ditelepon nggak diangkat," gerutu Dehan kesal. Dehan memutuskan untuk menghubungi Alika, barangkali putrinya memang sudah pulang sejak tadi, karena Dehan sedikit terlambat menjemputnya. Tapi niatnya terhalang oleh seseorang yang baru saja tiba di sana. "Om Dehan ya?" Dehan mengernyit sambil mengangguk. "Iya. Kamu siapa?" "Oh, aku Rio, Om. Pacarnya Delika," jawab Rio sambil tersenyum ramah pada Dehan. "Lagi nungguin Delika ya, Om?" "Iya. Kamu lihat dia nggak? Atau kamu udah anterin dia pulang?" tanya Dehan. Rio menggeleng. "Aku emang niat mau nganterin dia ke rumah temennya buat kerja kelompok, Om. Tapi, dia nolak, terus lari ke ujung gang sana, di deket supermarket." Dehan menatap ke arah yang ditunjuk oleh Rio. "Terus, dianya mana? Kok nggak diajak ke sini?" "Hhh! Dianya nggak mau, Om. Malah milih pergi sama cowok lain. Nggak dikenal lagi. Aku aja nggak kenal sama tuh cowok, Om. Aku udah nahan Delika biar nggak pergi sama cowok itu, tapi cowok itu malah narik paksa Delika. Terus dia bawa Delika entah kemana," ujar Rio berbohong. "Ya ampun!" Dehan mulai panik mendengar putri semata-wayangnya dibawa pergi oleh pria asing. Ia langsung menghubungi istrinya untuk memberitahukan hal ini. Dehan benar-benar cemas. Sedangkan Rio tersenyum menyeringai, karena rencananya telah berhasil. Dengan cara ini, Dehan pasti akan memberi kepercayaan pada Rio untuk selalu menjaga Delika dan akhirnya Rio bisa kembali bersama wanita tersebut. "Lo nggak akan bisa lari dari gue, Del. Lo liat aja entar endingnya gimana," batin Rio. Sementara itu, Dehan memilih untuk pergi dari area kampus dan mencari putrinya. Dehan tidak sempat lagi mengucapkan terima kasih pada Rio. Ia meninggalkan Rio begitu saja. Hal tersebut justru membuat Rio merasa kesal dan kecewa. Dehan terus menyusuri sepanjang jalanan agar bisa menemukan putri semata-wayangnya. Ponselnya tetap terhubung pada Alika. Istrinya itu juga terdengar cemas, karena belum pernah sejarahnya Delika pergi bersama orang asing. "Sayang, kamu kok bisa sih telat jemput dia?" Terdengar suara Alika dari ponsel Dehan yang dalam mode speaker. "Tadi aku tuh meeting sama klien, Sayang. Makanya telat jemput dia. Nyesel banget aku," ujar Dehan. "Ya ampun. Semoga dia nggak baik-baik aja ya. Aku takut banget." Dehan menghela napas berat. "Aku juga khawatir banget sama dia. Ya udah, aku tutup dulu teleponnya. Nanti aku kabarin lagi." "Iya, kamu hati-hati di jalan." "Oke." Sambungan telepon diputus oleh Dehan, lalu ia memfokuskan kedua matanya untuk melihat ke sekitar jalanan. Beberapa kali mobilnya masuk ke dalam perkampungan hanya untuk mencari Delika. Padahal saat ini, Delika sudah berada di rumah Asgar, karena di sepanjang perjalanan, wanita itu tertidur dan Asgar tidak tahu harus membawanya kemana. Asgar mencoba membangunkan Delika yang masih memeluk pinggangnya dengan erat. Mereka sudah berada di garasi. Asgar pun turun perlahan sambil tetap memegang wanita tersebut agar tidak terjatuh. "Nih orang nyusahin aja," gerutu Asgar sambil menggendong Delika untuk masuk ke dalam rumahnya. Asgar merebahkan tubuh Delika di atas sofa secara perlahan. Setelahnya, Asgar berniat kembali ke garasi untuk mengambil belanjaannya, namun lengannya ditahan oleh Delika. "Bawa aku pergi. Jangan tinggalin aku." To be continue~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD