Suatu hari aku melihat di group cosplayer yang aku follow di f*******:, ada pengumuman acara gelar Jepang yang akan diselenggarakan di kampus DP Jakarta Timur, kebetulan dekat sekali dengan tempat tinggalku di Pondok Kelapa.
Tampil depan umum? Baca puisi di kelas saja gemetaran.
Tapi entah kenapa untuk yang satu ini aku begitu penasaran, seperti apa ya rasanya tampil cosplay depan umum. Teman-teman onlineku juga sudah pada ribut semua mengajakku turun ke event dan ketemuan.
Ah kan itu kampus orang, nggak bakal ada yang mengenali diriku, kalau malu-maluin juga nggak bakalan ada yang peduli dan nggak bakal ada yang mencari diriku. Lagian kan aku banyak teman juga di sana yang bakal mendampingi aku, jadi sepertinya kupikir ya udah cuek aja.
* * *
Aku menceritakan sama si Rino soal acara gelar Jepang itu,
“Lu nggak mau ikut Rin? Siapa tau aja banyak cosplayer yang cantik-cantik bening-bening, nanti lu bisa foto-foto.” kataku.
“Cosplayernya cewek asli apa jejadian macam elu? Kalau macam elu mah gue kagak mau.”
“Ya kan banyak juga cosplayer cewek asli, masalahnya elu bisa bedain kagak mana yang asli sama mana yang sembunyiin batangan di bawahnya?” kataku meledek.
“Ah, ya bisa lah, insting cowok kan kuat.” kata Rino.
“Ah, yakin lu?”
“Ya iya lah, mau dandan segimana cantiknya juga kalau cowok ya pasti ketahuan.” balas Rino.
“Ah, temen-temen online gue yang lu add yang mutualan sama lu tuh cowok semua aslinya.” kataku.
“Ah, masa sih??” kata Rino.
“Iya, hahahahaha…” balasku sambil tertawa.
“Eh, udah ah, mending hari ini temenin gue, jalan ke mall yuk, gue mau beli alat makeup, gue perlu foundation, eyeliner spidol sama eyeshadow biru nih.” kataku.
Soalnya foundation yang gue colong dari nyokap udah habis, dan gue cocoknya pakai itu, karena sepertinya kulit gue dan nyokap satu jenis. Eh, kalau make up jangan pakai sembarangan ya, salah-salah bisa alergi di kulit.
* * *
Fix siang itu aku dan Rino pergi ke Mall, salah satu spot tongkrongan anak gaul di Jakarta Utara, di sana banyak toko hobby komunitas penggemar Jepang juga yang menjual barang-barang merchandise Anime, kalau jaman dahulu kita masih jamannya berburu komik dan DVD anime, sekarang semua itu bisa dicari dengan mudah di internet, jadi toko hobby lebih banyak menjual barang-barang koleksi seperti model kit, action figure, aksesoris kostum dan baju-baju.
Sewaktu sedang berjalan-jalan di mall tidak sengaja kami berdua berpapasan dengan Icha yang lagi gandengan mesra sama Johan.
“Wahahaha, lihat tuh gebetan lu, mesra banget jalan berdua sama pacarnya.”
Penampilan Icha di luar berbeda sekali dari penampilannya sewaktu pakai seragam sekolah, di mall si Icha begitu bebasnya pakai kaus cewek lapis cardigan dan bawahan celana hotpants yang memamerkan kedua paha mulusnya. Wajahnya juga begitu cerah dengan dandanan makeup yang chic style, rambut panjangnya dibando yang ada kuping kucingnya, jadi kelihatan imut-imut.
Yah, aku mah cuma bisa mupeng doank jadi penonton mengkhayalkan banyak hal tentang wanita cantik yang nggak akan pernah jadi bagian dari hidupku.
Akhirnya kami pun lanjut beli alat make up yang kucari, aku pun dapat apa yang kucari, eyeliner spidol, eyeshadow biru laut, dan rambut palsu warna biru terang, semua properti cosplay yang kubutuhkan.
Btw, kalau belanja properti cosplay aku nggak pernah belanja di Hobby shop, aku beli di toko biasa yang harganya lebih murah, contohnya Wig ya aku beli di butik toko kecantikan. Nanti tinggal aku modif sendiri yang penting dapat warna yang sesuai.
Selesai belanja aku menemani Rino ke hobby shop, ia suka mengoleksi action figure seksi.
Saat sedang melihat-lihat tidak disangka-sangka Icha pun juga berada di sana, dia ada di rak gantungan kunci yang ada di sampingku, tapi kulihat Johan nggak ada, waduh mendadak jantungku deg-degan, rasanya udah pengen pergi aja dari sana.
Tiba-tiba aku pun salting dan bingung gelagapan saat Icha berpindah ke rak pajangan yang sedang kulihat-lihat. Saking bingungnya aku mundur-mundur dan terjatuh menabrak tumpukan bantal model Waifu 2D, dan aku jatuh tepat di bagian t***t bantal waifu 2D tersebut.
Spontan saja orang-orang yang melihat mentertawakan diriku. Tapi untung saja aku tidak menyenggol apa-apa yang rawan pecah, kalau nggak kan berabe.
Mas penjaga toko tertawa sambil membantuku bangun,
“Gimana mas? Empuk kan?? Enak kan?? Kenyel, empuk kayak t***t asli, kualitas nomor satu tuh. Lagi ada diskon mas khusus buat member, nggak minat?” kata si Mas-mas penjaga toko.
Buset, pegawai toko ini semua terlatih dan oportunis, sambil menolong gue masih sempat aja jualan. Semua orang masih saja menontonku sambil tertawa-tawa, si Rino menjauh dan melihatku saja seakan pura-pura tidak mengenalku ya pastinya dia tidak mau ikut malu. Tapi tak disangka-sangka si Icha ikut menolongku berdiri.
Kerumunan orang-orang pun akhirnya bubar.
“Waduh, kenapa sih kamu sampai jatuh? Emang nggak kelihatan apa rak segede gitu?” kata Icha yang juga sambil tertawa kecil dengan suara lembutnya itu.
Kemudian Icha seperti memperhatikan rupaku dari atas sampai bawah.
“Eh, kayaknya aku pernah lihat kamu di mana yaa??” kata Icha sambil bergumam dan ekspresinya nampak sedang mencoba mengingat-ingat.
Aku yang sudah kepalang malu sebenarnya sudah mau kabur aja.
“OOooh iyaa… kamu bukannya satu sekolah sama aku yaa, aku sering lihat kamu mojok di kantin, eh sama temen kamu juga tuh yang item pendek-pendek pitak.” kata Icha.
“Sorii… eheheh, soalnya aku nggak tau nama kalian, eh kelas mana sih aku koq juga nggak tau… ahahaha kupikir aku kenal satu sekolah tapi aku malah nggak tau kamu.”
Icha yang dari tadi cerewet bicara sendiri akhirnya aku mulai memberanikan mengeluarkan suaraku.
“Ehm, gue… gue Fiki… dan itu… di sana itu temen gue… namanya Rino…” kataku sambil terbata-bata dan tergagap gemetar.
Kutunjuk Rino yang lagi sembunyi di rak tidak jauh dari kami, setelah yakin kerumunan sudah benar-benar bubar barulah Rino keluar dari persembunyiannya.
“Ahahaha, gue Icha, koq kita nggak pernah kenal di sekolah sih?”
“Hm, ya… ehehehe…” aku pun hanya cengengesan saja, baru kali ini aku menjabat tangan cewek yang terasa begitu halus dan lembut, belum lagi mendengar suara imutnya begitu dekat di depanku.
Baru saja kami mengobrol sejenak Johan muncul, seperti biasa mau nyosor tapi kali ini nyosornya ke bibir Icha, tapi Icha menengok jadi kena nya di pipi.
“Ah, ayank, kicuu donk, ini kan udah aku beliin es thai tea bobanya.” kata Johan sambil mendusel ke pipi dan Leher Icha.
“Eh, yank, ini lho teman sekolah kita juga.” kata Icha ke Johan sambil mundur mengalihkan sekaligus supaya lepas dari duselan genit Johan.
Johan memperhatikan kami berdua dari atas sampai bawah.
“Hm… Ooh iya, gue inget, elu kan anak kelas B itu…” kata Johan.
“Eh, kamu kenal mereka yank?” kata Icha.
“Ini lho yank, anak kelas B yang lari-lari telanjang waktu acara perkemahan jambore tempo hari. Wahahah… bener kan elu… anak aneh yang lari-lari telanjang selesai mandi itu.” ledek Johan.
* * *
Aku jadi teringat kejadian waktu acara perkemahan, sewaktu acara mandi di sungai tiba-tiba aku dikerjain sama banyak anak cowok yang bertubuh besar-besar, aku ditelanjangi kemudian diceburin ke sungai dan saat aku berenang ke pinggir semua bajuku sudah dibawa pergi. Aku yang kebingungan diam telanjang di tengah sungai sampai kedinginan, akhirnya aku lari-lari telanjang menyelinap ke camp tapi ketahuan dan akhirnya diteriakin, jadilah aku tontonan banyak yang merekam kejadian memalukan itu sampai jadi keributan di sekolah antara para orang tua murid termasuk orang tuaku dan guru BP.
Tapi akhirnya semua yang punya rekaman itu dihapus satu per satu walaupun sempat viral juga di akun twitter teman-temanku dan sepertinya video itu masih ada di luar sana walaupun sudah tidak viral lagi.
Herannya orang tuaku malah menyalahkan aku, katanya aku yang salah dan memalukan nama baik keluarga. Tidak ada satupun yang memberikan dukungan moral padaku, bahkan Rino pun sempat menjauh karena malu dekat denganku walaupun akhirnya setelah hal itu berlalu dan tidak viral lagi Rino kembali mau bermain denganku lagi.
* * *
Johan menceritakan semua hal itu depan Icha sambil tertawa terbahak-bahak.
Yah, nasib lah, rusak lah imageku di depan gadis gebetanku.
“Eh, Johan nggak boleh gitu, bercandanya kelewatan banget sih itu anak-anak, kamu waktu itu nggak ikut-ikutan kan?” kata Icha ke Johan.
“Wah sayangnya aku nggak ikut, kalau aku yang ikut bisa lebih parah aku ngerjainnya.” kata Johan sambil tertawa-tawa.
“Ih ayank, nggak baik kayak gitu.” kata Icha.
“Biarin, lagian tampang kayak gini tuh enaknya dikerjain. Udah ah yank, ngapain kamu ngobrol bareng pecundang kelas macam dia, tinggalin dia sama homo-annya tuh, cocok tuyul putih sama dedemit item pitak…” seru Johan sambil ngakak.
Rino nampak kesal tapi ia diam saja.
“Yuk ah cabut, main ke timezone.” kata Johan ke Icha.
Ekspresi Icha nampak tidak enak karena kelakuan Johan, tapi tidak sempat mengobrol apapun Icha sudah digandeng Johan diseret pergi dari sana.
* * *
“Ah, udah kita balik yuk, udah nggak ada yang mau dicari lagi kan.” kataku.
Akhirnya kami berdua pun pulang, yah setidaknya aku jadi bisa kenal Icha walau hanya sebatas kenal saja. Itu pun kalau dia masih ingat aku besok, ah paling dia juga udah lupa, dan kembali asik dengan dunianya dan pacarnya, mereka berdua kan selebriti sekolah sedangkan aku mah apa atuh.