Mobil SUV Hitam

941 Words
Mobil SUV Hitam Keesokan harinya aku bersekolah seperti biasa, rutinitas jam istirahat seperti biasanya. Hanya saja kawanku si Rino yang masih nampak menjauh dariku padahal aku tetap berusaha mengajaknya untuk nongkrong bersamaku. “Rin… yuk makan bareng.” aku mengajaknya. “Iya, nih Rin Icha sengaja bikin banyak biar bisa bareng-bareng.” Icha juga mengajaknya. Rino melihat kami berdua yang menghampirinya, ia menoleh membuka headsetnya, menatap kami berdua. “Udah lu makan berdua aja, lu kan udah happy berdua.” ucapnya singkat sambil beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan kantin. Lho, Rino koq jadi aneh gitu ya. * * *   [Pulang Sekolah]   Pada jam pulang sekolah aku berdua menemani Icha menunggu dijemput oleh pak Asep seperti biasa. “Eh, duh kayaknya HPku ketinggalan deh di kelas. Duh mudah-mudahan nggak hilang.” kata Icha. “Aku yang ambilin deh.” kataku. “Eh, nggak usah biar Icha aja, kayaknya ada di laci mejaku koq.” kata Icha. “Tunggu ya Fik, nanti kasih tau pak Asep tunggu bentar.” dan Icha pun berlari-lari kembali ke gedung sekolah. Tinggal lah aku sendiri, di area sekolah yang mulai sepi itu. Kemudian kulihat sebuah mobil hitam jenis SUV berhenti di depan sekolah, mobil itu berhenti sejenak. Kupikir itu pak Asep supirnya Icha, tapi tumben mobilnya beda. Tiba-tiba mobil itu tancap gas masuk ke pekarangan sekolah dan berhenti tepat di hadapanku. Pintu pun terbuka dan dua orang bertubuh besar langsung menghampiriku dan memegangi tanganku kiri dan kanan. “Eh, siapa kalian?? Apa-apaan nih??” seruku. Kemudian turun satu orang lagi, seorang pria bertubuh tegap bahu lebar nampak postur tubuh yang terlatih. Dadanya nampak begitu penuh berotot tercetak di kaus ketatnya yang dilapis jaket kulit yang tidak dikancing. Kemudian ia melepas kaca mata hitamnya, dan aku melihat sepasang mata cowok yang begitu tegas. Untuk ukuran cowok aku mengakui wajahnya tampan dan matanya indah. “Sudah kubilang kan aku akan menemukan dirimu.” ucap pria itu dengan suaranya yang berat. “Hah??” tiba-tiba terlintas seseorang dalam pikiranku. “Nggak mungkin…” “Lepaskan saya!! Atau saya akan teriak.” kataku. “Ahahaha… hei… cowok tuh nggak teriak, ah, tapi kan kamu bukan cowok ya.” balas si pria itu. “TOLOOO..HHMMFTTTTTT…” baru saja aku hendak berteriak tapi aku sudah tidak berdaya dalam sekapan kedua cowok kekar yang menahanku di kiri kanan. Mulutku dibekap dan dengan mudahnya tubuh kecilku digotong masuk ke dalam mobil. Dan mobil hitam itu pun tancap gas melaju keluar dari gerbang sekolah nyaris bertabrakan dengan mobil pak Asep yang baru saja datang. * * *   [Diculik]   CHIIEEEETT !!! mobil pak Asep mengerem mendadak. Pak Asep menurunkan jendela dan hendak melabrak namun mobil SUV hitam yang nyelonong itu sudah ngebut tancap gas. Icha kembali dan bingung melihat Fiki yang tidak ada di sana. “Pak Asep lihat Fiki?” tanya Icha. “Nggak tuh Non, bapak baru datang di sini nggak ada siapa-siapa, tapi tadi ada mobil hitam besar tiba-tiba aja nyelonong ngebut keluar sekolahan nyaris aja nambak bapak.” balas pak Asep. “Hah..??” tiba-tiba insting wanita Icha bergejolak, ia mendadak risau dan merasa khawatir. Ia menelepon ponsel Fiki berulang kali namun tidak ada jawaban. “Masa… Fiki… Duh, mudah-mudahan nggak…” jantung Icha deg-degan gusar. “Kenapa Non?” tanya pak Asep. Icha gelisah-gelisah, ia mencoba menelpon Fiki berulang kali. “Non… ada apa?” “Pak.. inget nggak mobil tadi kayak gimana, coba kejar deh barangkali belum jauh.” kata Icha. Kemudian mereka pun masuk mobil dan mencoba menelusuri jalan namun sepertinya sudah tidak mungkin menemukan mobil hitam misterius tadi. Icha terus mencoba menelepon Fiki, yang tadinya HP masih tersambung mendadak HP Fiki yang ditelepon sudah berada di luar jangkauan. “Pak Asep kira-kira ingat nggak nomor polisi plat mobil barusan?” tanya Icha. “Emang kenapa Non?” “Nggak, koq perasaan aku kayak nggak enak ya.” “Non, mending kita pulang dulu deh, nanti ibu khawatir.” “Hm ya udah deh, mudah-mudahan nggak ada hal yang buruk, tapi Fiki ke mana ya?? Masa dia tiba-tiba aja menghilang ninggalin aku.” Icha mencelos. Sampai di rumah Icha mencoba menelepon rumah Fiki yang diangkat oleh ibunya Fiki. “Halo, tante… Fikinya ada?” “Oh, Fiki belum pulang Cha. Tau nih dia ke mana, barangkali dia pergi main sama Rino.” “Duh, apa benar ya Fiki pergi main sama Rino…” batin Icha. Inisiatif Icha pun menelepon Rino, dan ternyata jawaban Rino ia tidak bersama Fiki bahkan ia sudah pulang lebih dulu saat melihat Icha berduaan sama Fiki pulang sekolah tadi. Icha pun semakin mencelos dalam batinnya. Hingga ia memutuskan untuk mengutarakan kepada Mamanya. “hah? Masa sih? Kamu pikir Fiki diculik? Tapi coba aja tunggu barangkali dia tadi diajak temannya tapi HPnya lowbat.” balas Mamanya. “Tapi kayaknya nggak mungkin deh Ma Fiki masa pergi gitu aja.” Dan benar saja hingga larut malam ternyata Fiki belum bisa kunjung dihubungi dan malah orang tuanya Fiki menelepon ke tempat Icha menanyakan siapa tahu mendengar atau tahu sesuatu tentang Fiki. Akhirnya malam itu pun heboh. * * * Bu Dinda mamanya Fiki histeris, sementara pak Adit papanya Fiki jadi berkelahi dengan istrinya itu karena wanita itu tidak kunjung berhenti histeris sendiri. Laporan anak hilang pun masuk ke pihak kepolisian. Icha dimintai keterangan sebagai orang yang terlihat terakhir bersama Fiki. Pak Asep juga dimintai keterangan, tapi maklum lah orang tua itu tidak ingat apapun apalagi mencoba mengingat nomor polisi plat mobil hitam misterius itu. Malam itu tidak ada petunjuk apapun yang bisa menjadi titik terang. Akhirnya malam itu harus terlewati dengan begitu berat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD