Suatu hari datang sebuah motor skutik, motor tersebut diturunkan oleh petugas pengiriman dari dealer. Motor tersebut masih sangat baru bahkan plat nomornya saja masih putih, menunggu surat-surat resminya yang masih baru satu minggu lagi keluar.
Aku terbengong dan bingung, tumben Papa beli motor.
“Asiiikkk…” tiba-tiba Cyntia menyeruak dan berlari ke depan dan melompat ke pelukan Papa. “Makasiih Papa sayang.”
Papaku tersenyum.
Rupanya, motor skutik itu untuk Cyntia sebagai hadiah ulang tahunnya.
Aku hanya terdiam, seumur-umur hingga sekarang Papa nggak pernah beliin aku apa-apa tiba-tiba Cyntia dibelikan motor yang mana ia sendiri aja belum bisa naik motor.
Aku hanya diam dan kembali ke kamarku.
Hingga malam hari Cyntia nampak begitu riang gembira sementara aku murung.
Entah bagaimana ada perasaan kecewa.
Sebelum makan malam aku beranikan bertanya pada Papaku, “Pah, kenapa bukan aku yang dibelikan motor? Cyntia dia bahkan belum bisa naik motor.” kataku.
Papaku hanya diam.
“Beliin sepeda aja Papa nggak mau? Sebenarnya aku ini apa sih?” tanyaku lagi.
Papaku tetap saja diam.
“Ya udah Pah, aku nggak minta macam-macam koq.” kataku lagi.
Kemudian Mamaku memanggil kami semua karena makan malam sudah siap.
“Asiiikk, ayok makan Pa.” panggil Cyntia yang riang gembira sepanjang hari.
Saat dipanggil Cyntia papaku tersenyum antusias, caranya menanggapi Cyntia begitu berbeda sekali dengan caranya menanggapiku yang begitu dingin.
“Fiki, kamu nggak makan?” tanya Mama.
Aku menggeleng.
“Ya udah.” jawab mamaku singkat.
Dan mereka pun nampak ceria bertiga di ruang makan, sementara aku berjalan ke kamarku.
* * *
[Menggila di Dunia Maya]
Seperti biasa dunia maya jadi ajang pelarian dan curhatan sampahku.
Aku menulis di akun Vika, kalau aku merasa tidak lagi dibutuhkan di rumahku. Aku ingin kabur dan pergi jauh dari rumah dan tidak akan pernah mau kembali lagi. Aku menulis itu semua berdasarkan emosi dan apa yang sedang kurasakan selama ini.
Tanggapan demi tanggapan datang, para penggemar Vika merasa aneh dengan curhatan yang kutulis. Ada yang bersimpati tapi ada juga yang menasihatiku untuk tidak melakukan hal itu. Dan yang lucunya lagi begitu banyak hidung belang yang menawarkan untuk menjadikan Vika sebagai wanita peliharaan mereka, tapi mana mungkin aku menanggapi mereka semua, buatku itu hanya hiburan belaka.
Tiba-tiba ada satu akun lagi yang menggunakan nama HansKris, yang gelagatnya sangat mirip dengan mas Hans yang sebelumnya sudah kublokir.
“Sini pergi bersama saya Vika.” tulis akun tersebut.
Aku ignore pesan tersebut, tapi chat demi chat tersebut berdatangan.
“Vika, aku akan memenuhi semua kebutuhan hidupmu.”
“Vika, beri aku jawaban.”
“Vika…”
Berkali-kali akun tersebut menghujaniku dengan spam pesan-pesannya.
“Vika, baiklah aku yang akan mendatangimu.”
“Apa??” kataku dalam hati. “Nggak mungkin orang itu tahu aku yang asli.”
Aku blok lagi akun tersebut.
BLOCKED.
Dan aku langsung log-off seketika itu juga.
Entah kenapa aku merasa ketakutan sendiri.
* * *
Akhirnya seperti biasa sebelum tidur aku menelepon Icha dan menceritakan semuanya apa yang terjadi hari ini mulai dari aku yang kecewa Cyntia dibelikan motor.
Icha menghiburku, “nggak usah iri Fik, suatu hari kamu bisa punya semua yang kamu inginkan dari hasil usaha kamu sendiri.” hibur Icha.
“Kalau aku sukses nanti, aku bakal bahagiakan kamu Cha.” kataku.
“Sebelumnya kamu harus bahagiakan kedua orang tua kamu dulu donk Fik.” balas Icha.
“Ah, aku tidak tahu mereka masih membutuhkan aku apa nggak.”
“Fiki nggak boleh berpikir seperti itu, orang tua tetaplah orang tua, mereka pasti mikirin kamu juga.”
“Entahlah Cha, mereka semua beda banget, mereka lebih hangat dan dekat kalau sama Cyntia, sedangkan ke aku, mereka cuek dan begitu dingin. Bahkan disaat aku membutuhkan mereka ketika aku sakit kemarin.”
“Fiki, hm… siapa tau aja mereka menganggap kamu anak yang kuat, mereka mau kamu jadi anak yang nggak manja. Jadi mereka sengaja seperti itu.”
“Manja? Aku bahkan nggak pernah minta apa-apa, ulang tahun aku nggak pernah dibelikan apa-apa, kelulusan aku juga nggak pernah dikasi hadiah apa-apa aku selama ini diam saja.” kataku.
“Ya udah, Icha aja deh yang kasih kamu kado ya, kamu mau apa? Hmm… tunggu ga usah bilang, nanti Icha aja yang kasih kejutan deh.” kata Icha.
“Ah Icha, udah ah, kamu udah sangat baik banget sama aku.” kataku.
“Nggak, pokoknya nanti kalau Fiki ulang tahun Icha yang kasih kejutan.” balas Icha.
Obrolan kami terus berlanjut hingga akhirnya kami ngantuk tertidur.