Sepasang Mata

1732 Words
[Jalan-Jalan Berdua]   Dan tibalah hari minggu yang ditunggu, pagi itu aku pamit untuk pergi ke rumah Icha. “Eh, kamu jadi dekat sama anaknya bu Ayu itu?” kata mamaku. “Hm, iya kenapa ma?” kataku. “Kamu nggak pacaran kan sama dia?” kata mamaku lagi. “Lho, emang kenapa ma kalau aku pacar-pacaran? Kita nggak ngapa-ngapain koq.” kataku. “Tapi menurut mama lebih baik nggak usah deh kamu dekat-dekat sama dia, kan gara-gara dia juga tuh kamu jadi dipukulin orang.” kata mamaku. “Iya, lebih baik kamu nggak usah pacar-pacaran dulu, sekolah dulu aja yang bener.” kata papaku. “Lho, pah, mah, pelajaran aku kan nggak terganggu sama sekali, lagian Icha juga anaknya baik dan keluarganya juga baik. Harusnya mama sama papa ikut seneng donk dengan kebahagiaanku.” kataku. “Ya, pokoknya mama dan papa berpesan kamu lebih baik tidak usah terlalu dekat dan nggak usah pacar-pacaran, temenan biasa aja nggak apa-apa.” kata mamaku. Tapi aku tetap pamit untuk pergi pagi itu. * * *   [Rok Mini Warna Pink]   Akhirnya aku pun tiba di rumah Icha, sampai di sana aku langsung diajak ke kamarnya. “Hari ini kita jalan berdua, kamu pakai baju ini ya.” Icha memberikan padaku sebuah kaus cewek putih dan rok mini warna pink cream. Ia sendiri juga menyiapkan baju untuknya, kaus cewek warna putih dan rok biru laut. Aku menurut saja, Icha punya kamar mandi sendiri di kamar tidurnya jadi aku pun berganti pakaian di kamar mandi Icha. Oh ya, aku bawa pakaian dalam sendiri lho ya, nggak mungkin aku pinjam punya Icha kan malu, aku sih punya panties dan Bra yang merupakan properti cosplayku sendiri. Sebetulnya aneh juga sih pakai panties cewek yang bahannya begitu halus, tapi entah kenapa underwear cewek koq rasanya lebih nyaman, adem, cuma ya agak ketat aja buat si burung yang juntai di bawah sana. Tapi burungku juga dari dulu kecil, udah disunat aja nggak juga tumbuh gede panjang kayak yang kutahu lazimnya ukuran cowok-cowok dewasa pada umumnya. Jadi begitu kejepit panties rasanya langsung hilang, sebenarnya ini salah satu bagian insekyuritasku sebagai cowok, aku takut aku tidak bisa memuaskan wanita dengan burungku yang kecil ini. Keluar dari kamar mandi aku sudah berpakaian lengkap dari atas sampai bawah. Aku terkejut melihat penampilanku, karena rok itu benar-benar mini tapi bahannya sungguh nyaman, aku juga sudah pakai celana short ketat di dalam untuk pelapis pantiesku. “Cha… ini mini banget deh…” kataku. “Waaw, keren banget, seksi~~” kata Icha. “Sini aku yang dandanin kamu, dan gantian nanti kamu yang dandanin aku.” kata Icha. Setelah itu kami pun saling mendandani. Icha memoles wajahku dengan makeup serba pink, ia sangat pandai dengan makeup karena didikan mamanya yang dulu pernah jadi makeup artist untuk penari. Selesai makeup aku pakai wig alias rambut palsu sebagai sentuhan akhir untuk melengkapi penampilanku. Aku pun kembali melihat diriku berubah jadi anak perempuan dengan dandanan serba pink. Ketika aku bercermin dengan Icha di sebelahku yang nampak bukanlah sepasang cowok cewek, tapi malah dua anak perempuan yang berwajah imut-imut. Satu dengan makeup serba biru laut dan satu lagi serba pink. Malahan aku yang cenderung terlihat lebih manja dan menggoda ketimbang Icha. “Iiihh… Vika lucu…” kata Icha yang kemudian mencubit-cubit pipiku. “Duh aku malu deh nih, masa bener nih aku keluar kayak gini.” kataku. “Iya, nggak apa-apa, cantik koq.” balas Icha. “Udah yuk kita berangkat.” kata Icha sambil menarik tanganku. “Cha, nanti kalau mama mu lihat aku kayak gini gimana?” kataku. “Mamaku udah sering aku kasih lihat fotomu koq.” balasnya lagi. “Apaa??” “Udah yuk santai aja.” kata Icha sambil menarik tanganku. Kemudian begitu turun ke bawah, aku pun terkejut dan spontan malu karena ada mamanya Icha di bawah. Mamanya kemudian malah tertawa melihat kami berdua, terutama ketika melihatku. Aku hanya menunduk saja. “Mah, ini aku yang dandanin lho, gimana mah, bagus nggak hasil dandananku?” kata Icha ke mamanya. “Bagus ya, kamu udah makin pintar, apa mama buka lagi aja nih bisnis MU (makeup artist) mama ya, kamu nanti ikut jadi asisten mama deh.” kata mamanya Icha. “Trus kalian mau ke mana nih?” tanya mamanya santai. “Ke mall MKG.” kata Icha. “Oh, trus Fiki kamu Pede dandan kayak gitu? Kayaknya kamu koq malu-malu?” kata tante Ayu. “Eng, iya nih tante, biasanya sih aku cuma cosplay kalau lomba aja.” kataku polos. “Ah kemarin kamu pede waktu di kampus DP.” kata Icha. “Iya, waktu itu kan cuma tampil buat di panggung aja.” kataku lagi. “Aaah… udah, Fiki mah suka pura-pura malu padahal suka tuh cosplay.” kata Icha. Sementara tante Ayu cuma ketawa-ketawa aja. “Fiki kamu yang pede donk.” malah ledek mamanya. Kemudian kami pun berangkat dengan mobilnya Icha yang dikemudikan sama pak Asep supirnya Icha. Pak Asep hanya terdiam melihat kelakuanku dan Icha, mungkin dia terheran-heran juga melihat penampilanku yang ‘berbeda’ hari itu. * * * Sepanjang jalan si Icha foto-foto Selfie di dalam mobil berdua denganku, hasil fotonya benar-benar nampak seperti dua anak perempuan muda yang manja dan genit. Trus kita bikin video live pakai akun Vika. “Hai, hari ini Vika cosplay berdua sama orang yang sangat spesial di hati Vika, siapakah dia… naah inilah dia… namanya Icha…” kemudian kutarik Icha masuk ke kamera sebelahku. Video itu langsung mengundang kontroversi dan banyak komentar netizen, “Yaaah, koq lesbi…” “Cantik tapi lesbi…” “Aku broken heart Vika…” Ada juga yang komen tidak senonoh, biasa lah dari cowok-cowok penggemar hentai yang punya fantasi kotor. “Aku mau threesome di tengah-tengah kalian berdua…” Aku cuekin saja komen dari para netizen hentai itu. Ada juga fans-fans Yuri yang ikut membanjiri komen, dalam sekejap pun aku punya fanbase dari komunitas pecinta Yuri (lesbi) yang request add dan follow akun Vika di medsos. “Kyaa… romantis…” “Pengen lihat kalian ciuman…” “Kapan aku punya couple kayak kalian?” “Ih, Vika, fans kamu banyak banget.” kata Icha, f*******: ku aja kalah banyak. “Ah itu kan cuma fans di dunia maya.” kataku. “Tapi kan keren bisa punya banyak fans.” kata Icha. “Apa-apa yang ada di dunia maya kan nggak ada yang nyata Cha.” kataku. Icha tersenyum malu-malu menatap diriku. “Yang nyata buatku sekarang adalah kamu, yang ada di hadapanku…” kataku sambil menatap kedua bola mata Icha dengan wajah kami yang berpandangan begitu dekat. Icha semakin tersipu malu, wajahnya nampak begitu memerah. Kusentuh dagunya Icha, ia tersenyum dan memejamkan matanya. Aku pun mendekat perlahan dan juga memejamkan mataku, Icha sedikit membuka bibir mungil imut-imutnya yang berkilau terpoles lip-matte pink nude. “Ehm… anu… eh maaf non… eh, kita udah sampai…” Suara pak Asep spontan membuat kami berdua mundur dan sumpah aku begitu malu dan pasti wajahku sudah sangat memerah. Icha pun juga nampak salah tingkah dan gelagapan. “I—Iya pak Asep, ehehehe, makasih.” kata Icha. “Ya udah non, mau turun di sini apa di pintu masuk yang mana?” Rupanya kami sudah ada di depan pintu masuk utama. “Eh, iya… di sini aja deh…” kata Icha yang bingung saking salah tingkahnya. Sementara aku gugup gelagapan, mau turun di mall depan orang banyak dalam keadaan penampilanku yang serba mini dan genit. “Ayo Vik, turun…” kata Icha. “Pak Asep nanti Icha telepon seperti biasa yaa. Maaci pak Asep.” kata Icha. * * *   [Mall MKG]   Icha pun langsung menggandengku saat turun sementara aku begitu gugup berjalan di tengah keramaian karena semua mata memandang kami, entah melihatku atau Icha. Icha menghentikan langkahnya dan menatap wajahku, kedua tangannya di pipiku. “Vika, kamu harus pede donk, orang-orang tuh memperhatikan kamu karena kamu tuh cantik.” kata Icha. “Coba lihat tuh…” Icha menarikku dan memperlihatkan pantulan tubuh kami di kaca sebuah etalase toko. Pantulan yang kulihat ada dua anak gadis, yang satu dengan wajah imut-imut manja, sementara gadis yang satunya wajah imut-imut pemalu. “Senyum donk.” kata Icha. Aku pun tersenyum dan terkejut sendiri melihat rupaku, sungguh aku tidak menyangka aku melakukan hal ini. Tapi semakin lama saat berjalan aku semakin memperhatikan sekitar. Tidak ada seorang pun yang melihat aneh ke arahku, malahan cowok-cowok yang kebanyakan terlihat jelas menoleh ke arah kami berdua, jelalatan ke aset tubuh kami yang terlihat terbuka, ya apalagi kalau bukan sepasang paha mulus. Entah milik siapa yang dilihat oleh para cowok jelalatan itu, bisa jadi pahaku atau Icha. Icha mengajakku jalan-jalan keliling mall, aku euforia terbawa suasana bahagia jalan berdua Icha sampai aku lupa kalau aku sedang crossdressing. Kami seperti sepasang cewek centil yang jalan, melihat-lihat sana sini, berlari-lari kecil sambil cekikikan berdua. Setelah puas jalan, melihat-lihat sekedar window shopping, kemudian barulah kami beristirahat di sebuah coffee shop. Banyak sekali foto selfie yang kami ambil berdua. Tiba-tiba HPku ada notif kalau Zeal yang melihat Live ku jalan-jalan berdua Icha. Ia yang kebetulan berada di dekat sana minta ketemuan dan jadilah ia menyusul ke coffee shop tempatku nongkrong bersama Icha. Zeal menyusul berdua Nela, sebenarnya mereka berdua sangat cocok dan sama-sama jomblo, tapi entah kenapa Zeal sepertinya tidak tertarik pada Nela. * * * “Wooiii keren banget… TRAP sejati, berani banget keluar kayak gini.” sapa Zeal saat datang dan menemui kami berdua. Kuperkenalkan Icha pada Zeal dan Nela. Kami pun langsung mengobrol akrab seperti sudah lama kenal. Apalagi Icha orangnya sangat supel dan mudah bergaul. Zeal masih kesal dengan berita pemukulan ku, malah ia yang ingin membalas dendam tapi kutahan. * * *   [Gotcha!!]   Keempat anak muda itu begitu asyiknya bercengkrama, bersenda gurau, tertawa bersama sambil menikmati ice coffee dan makanan ringan yang terhidang. Cerita tentang banyak hal mulai dari hobi Jepang dan dunia cosplay hingga gosip-gosip lokal. Namun, tidak jauh dari tempat mereka, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Ckrek… ckrek… suara kamera foto. Sepasang mata misterius itu terus menatap tanpa berkedip. Bibirnya komat-kamit sendiri. Ckrek… ckrek… suara kamera foto. Orang misterius itu senyum-senyum sendiri. Tertawa sendiri. Ckrek… ckrek… suara kamera foto lagi. “Gotcha…” bisiknya. Orang tersebut tersenyum smirking.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD