Dikejar-kejar

493 Words
Akun mas Hans itu masih saja mengejar-ngejar diriku. “Kenapa sih kamu menolak ajakanku Vika? Apakah mas sejelek itu sehingga kamu nggak mau jalan sama mas?” tulis mas Hans. Akhirnya aku mengaku ke mas Hans kalau aku bukan cewek asli, aku hanya seorang crossdresser yang hobi cosplay dengan pakaian karakter wanita. Tapi jawaban mas Hans sungguh mengejutkan, “Mas, tahu, justru karena kamu crossdresser mas mau, Mas tergila-gila sama cewek-cewek berkontol.” begitulah kata-kata mas Hans yang membuatku ketakutan. “Mas salah orang, aku bukan transvestis, aku hanya seorang cowok biasa, aku juga cowok normal dan aku punya pacar. Maaf mas, tapi aku bukan orang yang tepat, sudah ya mas. Kalau mas masih kejar aku juga terpaksa aku blok mas.” kataku. “Mas nggak peduli kamu udah punya pacar apa belum, kamu bilang kamu cowok normal atau banci betulan, pokoknya mas suka kamu, dan mas harus bisa jalan sama kamu sekali saja.” kata mas Hans. Akhirnya aku memutuskan untuk memblokir akun mas Hans tersebut. Blocked… Selesai… Kuharap tidak ada lagi gangguan dari psikopat kelamin macam Hans itu. * * * Dua minggu kemudian aku pun sudah sembuh total. Sore itu aku bermain ke rumah Icha sepulang sekolah. Keluarganya Icha sangat baik dan tidak sombong, mamanya begitu ramah. Sepertinya mamanya sudah tahu kalau aku dan Icha berpacaran, karena setiap kami berduaan selalu saja diledekin dan digodain. Tapi sepertinya mamanya merestui hubungan kami berdua. Mamanya pernah bilang ke kami berdua, “yang penting Icha senang, kalau Icha senang tante juga senang. Tapi kalian harus bisa jaga diri lho, jangan macem-macem, belajar dewasa dengan saling menjaga kepercayaan. Kepercayaan satu sama lain, dan kepercayaan yang diberikan orang tua.” kata mamanya Icha. Icha benar-benar dididik di keluarga modern yang open minded, makanya tidak heran ia begitu supel dan terbuka tapi tetap diajarkan untuk menjaga kepercayaan orang tua dan pintar menjaga diri dari perbuatan yang dilarang. * * * Sore itu aku ngobrol-ngobrol di teras belakang rumah Icha. “Yaah, masa kamu nggak mau berubah jadi Vika yank, nggak seru donk.” kata Icha. Sebenarnya aku sudah mau berhenti dari dunia cosplay, aku tetap menghobi Jepang, tapi aku sudah cukup puas tampil sebagai Vika, walaupun godaan tampil sebagai Vika sungguh luar biasa, menjadi pusat perhatian memang rasanya luar biasa bagi orang seperti diriku. Tapi semua itu sudah tidak kubutuhkan lagi karena aku sudah punya seorang bidadari yang jauh lebih berharga mengisi hatiku. Tapi Icha malah minta aku jadi Vika lagi. “Ya udah, sekali aja deh.” kata Icha. Awalnya aku takut, tapi tidak tahu apa yang menyeretku aku mengiyakan tantangan Icha. Apalagi Icha sudah begitu baik menemaniku selama aku di rumah sakit, jadi apa salahnya aku mengabulkan keinginannya untuk jalan bersama Vika. “Ya udah, oke aku mau.” kataku. “Yeeeyyy…” Icha bersorak dan memelukku. “Bajunya dari aku ya.” kata Icha. “Hmm… bajunya kayak gimana?” tanyaku. “Udah lihat aja nanti.” kata Icha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD