Pulang Ke Rumah

828 Words
Tepat satu minggu aku pun akhirnya bisa keluar dari rumah sakit dan melanjutkan rawat jalan di rumah. Pada dasarnya aku sudah diijinkan untuk bersekolah tapi tidak bisa ikut pelajaran olahraga atau aktivitas apapun yang menguras tenaga karena takut masih ada yang belum sembuh total. Aku diberi obat yang harus rutin diminum selama seminggu dan harus datang ke poli penyakit dalam untuk kontrol lagi setelah obat habis. Saat aku sudah di rumah, aku baru bisa menyentuh dunia maya lagi, kubuka notif-notif yang tertinggal. Aku baru bisa mengabari teman-teman komunitas cosplay ku kalau aku baru saja keluar setelah dirawat di rumah sakit, mereka begitu terkejut mendengarku mendadak dirawat gara-gara dipukulin orang. Zeal meneleponku, ia yang paling emosi, katanya dia mau ngumpulin teman-temannya untuk balas dendam. Zeal si cowok yang aku bahkan tidak tahu nama aslinya itu, kami hanya sebatas kenalan di komunitas cosplay. “Duh, Zeal, nggak usah deh, kalau kamu balas lagi dengan kekerasan nanti yang di sana balas dendam balik ya ga selesai-selesai donk.” kataku. Tapi lagian aku juga khawatir sih, si Zeal kan anak Gym, komunitas bela diri MMA pula. Si Johan yang cuma anak SMA ingusan bakal instan jadi bulan-bulanan, mending kalau cuma masuk rumah sakit, sukur-sukur kalau nggak cacat. “Ayo donk kapan kita jalan bareng nih, kopdar cuy.” kata Zeal. “Gue masih belum begitu sembuh bener bro… Nanti ya gue kabarin lagi.” kataku. “Hm, ya udah deh, kabarin ya.” balas Zeal. * * * Aku pun rutin masuk sekolah lagi, dan kali ini aku tidak lagi duduk sendirian di pojok kantin, tapi ada bidadari cantik yang sekarang menemaniku. Kulihat Rino duduk di bangku yang berbeda, dan ia cuek tidak menegurku. Nampaknya ia segan dan tidak enak mau menegurku karena kejadian tempo hari. Tapi aku tetap merasa Rino temanku, jadi aku menghampiri dan menegurnya. “Rin… apa kabar?” sapaku. Rino menoleh ke arahku, tatapannya nampak antara segan dan malu. “Eh… Fik… hm, udah sembuh lu.” katanya menatapku sambil menunduk-nunduk. Tapi ia melihat Icha juga yang menggandeng lenganku. “Hm… selamat ya untuk kesembuhan lu.” kemudian ia berdiri dan pergi meninggalkan kantin. Setidaknya aku tetap berusaha menjadi teman yang terbaik untuk Rino, karena aku paham dan merasakan bagaimana jadi orang introvert yang tidak banyak teman. Rino sama sepertiku yang tidak banyak teman. “Temen kamu tuh keterlaluan, kemarin dia tinggalin kamu, udah gitu waktu kamu sakit dia nggak pernah datang tengokin kamu juga.” kata Icha. “Iya Cha, tapi kasian dia juga sebenarnya butuh teman, dia juga kesepian dan susah bergaul.” kataku. * * * Johan sudah tidak berani menggangguku, tapi ia masih tetap saja berani kurang ajar sekedar ngata-ngatain Icha. “Makan tuh cewek bekas gue… hahahaha…” ledek Johan. Tapi semua itu tidak mempengaruhi diriku, karena toh aku bahagia dengan Icha. Sementara Johan sudah tidak dekat dengan Sarah lagi, karena Sarah dekat dengan cowok lain dari klub renang. Dan gara-gara kekerasan yang dilakukan Johan jadi viral, banyak anak-anak yang jadi menjauhi Johan. Enam orang temannya yang kemarin kena skors juga jadi tidak mau bermain dengan Johan. * * * Malam hari seperti biasa aku bermain medsos, dan lagi-lagi kulihat akun mas Hans ‘menerorku’. “Hai sayang… Koq lama nggak online, ke mana aja? Mas kangen…” tulis mas Hans di chatnya. Aku tetap mencueki saja pesan-pesan tersebut, aku enggan melayaninya. Belum apa-apa udah sayang sayang, kangen kangen, emang gue siapa? Tapi mas Hans tidak menelepon, ia hanya me-Spam diriku dengan chat-chatnya saja. “Adek, mas kirimin duit nih serius, minta akun kamu, sini mas buktiin keseriusan mas.” tulisnya lagi. Duh, beneran nih nanti tiba-tiba aku dikirim duit. Ah tapi nggak ah, aku nggak terpengaruh dengan hal-hal seperti itu. Emang aku apaan, BO? Seperti biasa aku pun tidak mengabaikan dan cuek saja, aku pun lanjut naik ke atas kasurku video call sama Icha. “Pengen dipeluk Icha lagi kayak waktu di rumah sakit.” kataku. “Suka ya? Icha juga nyaman meluk Fiki… Icha belum pernah tidur berdua sama cowok selain sama Fiki.” “Lucu ya, kita tidur berdua… tapi kita kan padahal kita nggak ngapa-ngapain, cuma pelukan doank.” kataku. “Iya, kan ngapa-ngapainnya baru boleh kalau udah resmi donk.” balas Icha. “Ih ngapain sih tuh yang namanya ‘ngapa-ngapain’.” “Ah, Fiki sok polos, cowok masak nggak tau.” Kami pun sama-sama tertawa. “Icha… Fiki kangen.” “Aku juga kangen Fiki. Kangen Vika juga.” “Ih koq kangen Vika juga sih, jangan-jangan kamu lesbi.” “Iya, nggak apa-apa kalau lesbinya sama Vika.” “Koq gitu?” “Soalnya Vika kan kamu, aku kan sayang dan cintanya sama kamu mau kamu itu Fiki kek Vika kek.” “Aah… Icha… aku jadi makin cinta…” Duh gombal anak sekolahan… tapi menyenangkan, membuat hidup jadi semangat. Sampai akhirnya kami berdua pun tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD