Kembali Ke Kehidupan Semula

977 Words
Akhirnya aku kembali ke rutinitas sekolahku yang membosankan, seperti biasa jam istirahat mojok di kantin tempat biasa sambil main game di HP. Rino datang menghampiri nyeruput es tehku sampai tinggal seperempat gelas, cuek aja, lanjut duduk dan ikut main game, ngajakin mabar. Dasar temen nggak tau diri. Tapi suasana istirahat siang itu terasa berbeda, yang tadinya mau ngeladenin Rino mabar batal karena didekatin sama bidadari cantik berseragam putih biru, rambut panjangnya dibando kuping kucing, bibir mungilnya yang terpoles lip balm pink tersenyum manis kepadaku. “Hai, Vika… eh Fiki deng sekarang. Hai temennya Fiki, eh maaf lupa namanya siapa.” sapa Icha. “Ini Rino, kan waktu di mall itu aku kenalin.” “Oh, iya iya inget deng, hai Rino” kata Icha. Rino hanya membalas senyum. Kemudian Icha memilih duduk di sebelahku persis. Aku pun juga gemeteran tapi bahagia, gadis pujaan duduk sebelahan, yah tapi sayangnya dia punya orang sih. Eh, punya orang? Dia masih pacar koq, bukan istrinya Johan, lagian Icha nggak tau aja Johan tuh playboy, dia juga sering goda-godain cewek-cewek dari klub ekskul pemandu sorak (cheerleader). Atau mungkin Icha tau tapi cuek. “Koq, nggak sama Johan?” kataku. “Ih, nanyain Johan mulu, kamu suka ya sama dia? Tuh dia lagi main basket sama temen-temennya, ya udah biarin lah, aku masa harus nungguin aku kan juga mau bergaul sama temen-temenku yang lain.” kata Icha. “Eh, kamu nggak makan? Aku bikin perkedel banyak nih, makan bareng aja yuk.” kata Icha. “Ini kamu masak sendiri?” kataku. “Iya.” “Waah.. pujaan, udah cantik, pinter masak.” “Aah~ Fiki mah gombal, cewek mah biasa kali masak-masak.” “Iya, tapi jarang cewek jaman sekarang yang mau belajar masak di usia seperti kamu.” “Ah, kata siapa.” Akhirnya aku yang tidak pernah makan jadi ikut-ikutan pesan nasi di kantin dan makan bareng Icha. “Eh, tumben lu makan.” kata Rino yang melihatku makan. “Lho, emang biasanya nggak pernah makan? Pantesan kurus kayak lidi.” kata Icha. “Aku jarang makan siang, paling pagi sama sore doank aku makan, abis aku orangnya nggak bisa makan banyak.” kataku. “Wah, kalau temenan sama aku bisa gemuk kamu.” kata Icha sambil cekikikan. Entah kenapa kata-kata Icha bikin aku tersipu malu. Jangankan temenan, kalau bisa pacaran sama kamu aku jadikan kamu pasangan hidupku. Tapi apalah daya cowok cupu sepertiku mau mengharap dapat bidadari. Bisa berteman aja udah syukur, besok si bidadari dilamar pria pujaannya ya udah deh. * * * Malam itu Cyntia, mama dan papa seperti biasa mengobrol di ruang tengah, membicarakan banyak hal untuk masa depan si anak bungsu itu. Sementara si anak sulung ya seperti biasa tinggal nyawanya aja yang ada di ruangan tersebut. “Pah… Mah… aku di kamar ya…” kataku. Tapi mereka sepertinya tidak ada yang mendengarku bicara. “Paah… Maah… aku ke kamar yaa…” kataku lagi. Mereka masih mengobrol dan tiba-tiba tertawa-tawa keras-keras, papa tertawa lepas mendengar obrolan Cyntia, aku sendiri tidak paham mereka ngobrol apa sih tapi kayaknya fun banget. Sementara papa hampir tidak pernah menggubris obrolanku, mama juga begitu selalu sibuk dengan urusannya, kalau sudah capek kerja tidak mau diganggu. Akhirnya aku pun memutuskan untuk masuk ke kamarku saja dan kutinggalkan mereka yang asik bertiga di ruang tengah. * * * Seperti biasa aku di kamar, buka-buka berbagai akun med-sos mulai f*******: sampai insta. Banyak sekali seliweran time-line event kemarin, aku mendownload foto-foto yang ada diriku, ada yang mengupload video waktu aku perform. Dan jangan ditanya berapa jumlah yang add-friend dan request follower diriku. Tapi ada satu akun yang menarik sekali yaitu si mas mas ganteng yang terus mengikutiku itu si akun dengan nama Hans Kristian Andrianto. Terakhir dia mengirim DM duluan kepadaku tapi aku lupa mau membalasnya, dan sekarang dia mengirim lagi menyapaku. Karena kupikir tidak ada salahnya untuk meladeninya mengobrol jadilah malam itu aku membalas chatnya. Intinya seperti biasanya cowok-cowok, mas Hans mengajakku berkenalan lewat chat, ia bilang kalau ia menyukai foto-fotoku yang keren. Ia juga memberi react “Like” di setiap foto-fotoku, sepertinya hampir semua foto yang ku-upload di galleryku dapat react dari nya. Hans: “Kamu penyanyi?” Aku: “Bukan mas, saya cosplayer, itu pesta kostum ala ala kartun Jepang gitu.” Hans: “Hm.. aku nggak ngerti, tapi intinya sih kamu cantik.” Aku: “Makasih mas.” Hans: “Aku suka kamu dan semakin penasaran denganmu, bisa kita ketemuan?” Hah? Ketemuan? Dia mau ketemuan sama Vika Vernanda ya nggak mungkin lah, Vika kan nggak nyata, lagian mana mungkin aku keluar jadi cewek kalau aku lagi nggak cosplay. Akhirnya aku berusaha menolak dengan halus dengan berbagai alasan. Aku: “Maaf mas, aku masih sekolah, jadi susah keluar kalau nggak ijin orang tua.” kataku. Hans: “Aku yang mintain ijin ke orang tua kamu.” Waduh… Hans: “Jalan-jalan sebentar aja, aku teraktir makan di mall, nggak ada ruginya toh.” Aku: “Aku senang koq ngobrol-ngobrol sama mas, tapi kalau ketemuan aku belum siap.” Hans: “Kenapa? Emang aku mau ngapain kamu? Kan cuma mau kenalan doank.” Aku: “Kenalan kan bisa lewat chat.” Hans: “Nggak, aku mau yang real, aku bukan anak muda yang suka chatting-chatting.” Iya, tapi… ah aku jadi blok saja orang ini. Hans: “Aku mau kamu pakai baju yang ini.” tulis mas Hans sambil melampirkan fotoku yang pakai kaus cewek dan rok mini. Duh, enak aja lu ngatur-ngatur pula. Hans: “Nanti aku belanjain kamu baju bagus, aku teraktir makan enak, aku nggak bakal minta apa-apa koq, aku nggak bakal macam-macam.” Oke fix kayaknya aku blok aja orang ini. Ah, tapi aku pikir aku cuekin aja deh dulu. Ku-log off akunku dan kututup browser internet di laptop ku itu. Akhirnya aku pun memutuskan untuk tidur saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD