“Eh… kamu… kamu Fiki??” sapa suara tersebut.
Aku pun menoleh dan betapa terkejutnya aku melihat siapa yang menyapaku.
“Fiki, ini kamu??” sapa anak cewek itu.
Aku pun menunduk malu, seketika aku salah tingkah dan sumpah aku sejuta malu karena yang menyapaku itu dia adalah… Icha…
Aku mengangguk pelan.
“Iya, Cha, ini aku…”
Icha memandangku dari atas sampai bawah, atas bawah, atas bawah berulang kali.
“Fiki!!! kamu keren bangeeet!! Aku nggak tau kalau kamu seorang cosplayer!! Gila Fiki kamu koq bisa cantik totalitas gini??”
Aku begitu terkejut mendengar respon Icha.
“Eh… ah, anu.. ahaha kayaknya biasa aja sih… ini cuma hobi koq Cha.”
“Iya, tapi sumpah keren banget Fiki, eh Vika ya?? Aku panggil kamu Vika donk kalau kamu lagi cosplay.” kata Icha yang mendadak memegang tanganku.
“Ehehehe terserah kamu aja.” kataku yang malu-malu salting dipengang tangannya oleh Icha.
“Fiki… eh Vika… udah dari kapan kamu cosplay? Ajarin aku cosplay donk… aku pengen juga.” kata Icha.
“I—iya, boleh koq, kamu malah bakalan keren banget…”
“Masa sih??”
“Iya, soalnya kamu kan… can… eh.. anu…”
“Aku nggak pede kayak kamu.”
“Hah? Juara kelas nggak pede?”
“Beda kali Vik tampil lomba pidato sama beginian, ini mah luar biasa, tampil sebagai artis, seniman, Viki kamu keren banget.”
“Kamu kayaknya bakal lebih keren dan pasti banyak fans, kamu udah cantik, imut-imut.” ups seketika aku malu sendiri mengatakan itu kepada Icha.
Kemudian kulihat Icha memerah tersipu malu.
“Ah, masa sih? Aku nggak pandai dandan kayak kamu deh.”
“Apanya? Kamu dandan minimalis aja udah cantiknya kayak gitu.” kataku tapi dalam hati.
Saat lagi asik ngobrol tiba-tiba sudah waktunya pengumuman pemenang lomba.
Kami pun kembali dideretkan di atas panggung.
Hasil keputusan dewan juri dibacakan oleh MC.
Ternyata hasilnya…
Aku juara 3 untuk kategori cosplay Anime, ya lumayan lah untuk cosplayer pemula. Sedangkan juara satu seperti biasa dimenangkan oleh Zeal, karena dia yang kostumnya paling meriah dari segi kostum, armor, senjata. Zeal memang berbakat sebagai costume maker.
Kemudian juara satu disuruh perform lagi, tapi ia malah minta MC untuk mengerjaiku.
Zeal bicara di mic ke penonton, “Gue ada request khusus nih untuk pendatang baru kita, juara tiga lomba kali ini, gimana kalo dia gue suruh nyanyi, lu pada setuju nggak??” seru Zeal.
Tiba-tiba penonton riuh, semua berteriak, “Vika.. Vika.. Vika… Nyanyi… nyanyi… nyanyi…”
Gue pikir, ah gampang, kan tinggal lip-sync aja,
“Tapi…” kata Zeal. “Kita suruh dia nyanyi pakai suara aslinya gimana??”
Woow, semakin lah penonton berteriak.
Anjiiirr lu Zeal… gue nggak bisa nyanyi…
Zeal menghampiriku.
“Hahaha udah cuek aja nyanyi sana, lu kan suka nyanyi-nyanyi sendiri tuh kalau di kamar. Sekarang lu nyanyi tuh depan penonton.” kata Zeal.
“Iya Vik, udah cuek aja, suara lu bagus koq.” kata Nela.
Dan yang lebih membuatku gemetar, Icha berdiri di bawah sana ikut-ikutan berteriak.
“Haduuh, gue nggak bisa nyanyi.” kataku.
“Eh, coba deh lu ngomong.” kata Nela.
“Apa?” kataku.
“Nah itu… itu lu nggak denger, suara lu itu pitchnya tinggi, kayak suara cewek…” kata Nela. “Sama suara gue aja hampir sama.” kata Nela.
“Nih, pakai mic wireless, suara lu tuh mirip sama suaranya Hanatan.” kata Zeal lagi.
“Tapi… gue nggak bisa nyanyi…”
“halah, lu hafal di luar kepala lagu ini, lu sering nyanyiin…” kata Zeal.
“Udah sana maju !” Zeal mendorongku dan membawaku ke tengah panggung.
MC menyambut, “nah ini dia sesuai request cosplayer baru kita, Vika Vernanda.”
Semua orang bersorak di bawah, semua mata tertuju ke arahku.
Kemudian MC menyuruh mereka semua untuk tenang.
“Vika, gimana kalau kamu coba perkenalkan dulu diri kamu ke penonton.” kata MC.
Aku mengambil mic yang diserahkan.
Kemudian aku menatap ke arah penonton yang semuanya melihat ke arahku.
“Ehm…”
Owww… semua penonton bergumam, sepertinya mereka terkejut mendengar suaraku yang tinggi.
“Hai… namaku Vika… Vika Vernanda.. aku masih 16 tahun.”
“Vika ini cewek apa cowok ya?” tanya sang MC sambil tersenyum-senyum.
“Ehm… aku cowok, aku crossdressing cosplay.” kataku polos.
“Waah, nggak percaya deh… gimana penonton percaya nggak??” kata sang MC.
Penonton pun riuh, terutama para cewek-cewek penggemar crossdresser yang entah kenapa jumlahnya sangat banyak, mereka menjerit. Sementara beberapa cowok nampak bertanya-tanya. Crossdresser lain saja masih tetap ketahuan ada yang terlihat unsur cowoknya, sedangkan aku, suara dan penampilanku sama sekali tidak menonjolkan adanya tanda-tanda identitas cowok.
“Oke biar nggak menunggu lama sekarang kita berikan waktu dan kesempatan Vika untuk menyanyikan lagu yang ingin dibawakannya.”
Intro lagu mulai dinyalakan dari perangkat audio, musik instrumen dengan diriku yang menjadi pengisi vokalnya.
Jantungku dag dig dug, tapi kulihat Zeal menyemangatiku.
Aku menarik nafas dan menutup mataku, kemudian getaran dari pita suaraku itu terhantar ke seluruh ruangan melalui pengeras audio.
Dan tak kusangka aku benar-benar membawakan lagu tersebut dengan suaraku yang apa adanya ini. Suara cowok yang nggak pernah pecah dari jaman SD, suara yang pitchnya masih tinggi seperti suara anak cewek. Keanehan dari pita suaraku yang belum kunjung menebal dan jakun yang belum juga tumbuh.
* * *
Ketika aku selesai menyanyi, kurasakan hal yang sangat luar biasa. Seperti ada yang bergelora dalam diriku, sepertinya hormon dofaminku pecah membanjiri aliran darahku, perasaanku begitu puas dan bahagia melepaskan suaraku dalam bentuk lagu yang selalu kusukai itu.
Begitu aku membuka mata betapa terkejutnya aku, semua orang berteriak, bersorak menjerit. Belum pernah aku mendengar suara teriakan sekencang itu menyebut namaku. Suara tepuk tangan begitu meriah bergema di ruangan auditorium itu.
Berpuluh-puluh kamera HP mengabadikan momenku barusan.
Aku antara malu tapi terharu dan bangga, aku gemetar dan bingung harus bagaimana, tapi aku bahagia yang teramat sangat, belum pernah aku merasa seperti ini.
Semua teman-teman cosplayer berkumpul di belakangku, MC bertepuk tangan di sampingku.
Tiba-tiba Zeal menggendongku gaya bridal, aku terkejut setengah mati.
Semua orang memfoto-foto kami, aku malu.
“Gue udah ngebayangin dari dulu lu bawain lagu itu pakai suara lu.” bisik Zeal.
“Sial lu Zeal, lu ngerjain gue.” kataku.
Tau-tau Zeal melemparku ke bawah panggung, aku menjerit.
Tapi ternyata aku ditangkap oleh sekerumunan cowok-cowok yang ada di bawah.
Aku dikerbubutin sama fans-fansku, dipeluk-peluk bergantian entah siapa saja yang memelukku aku tidak tahu.
Aku begitu euforia hari itu.
Sampai terakhir yang mendekatiku adalah si Icha waktu kerumunan orang-orang sudah pada bubar.
“Selamat ya Vika… keren banget lho, aku nggak nyangka di sekolah kamu anaknya pendiam, tapi di sini kamu seorang artis.” kata Icha.
“Icha… ah biasa aja sih, ini kan cuma hobi, aku malah pengennya kayak kamu jadi bintang sekolah.” kataku.
“Ah, semua orang kan bisa keren dengan caranya masing-masing.” kata Icha.
“Eh, iya Cha, koq kamu sendiri, pacarmu mana?” kataku.
“Dia nggak suka acara macam begini, nanti dia jemput aku kalau udah selesai.” kata Icha.
“eh. Kita ikut ‘bon-odori’ ya.” kataku.
“Oh iya donk harus. Nggak afdol kalau ikut acara Jepang nggak ikut bon-odori.” kata Icha.
“Oke, tunggu aku ganti baju dulu.” kataku.
“Eh, jangan! Icha menahan tanganku.”
“Lho?”
“Boleh nggak aku… dansa bareng Vika?”
Aku pun tersenyum malu.
“Ya boleh sih…” kataku.
Sambil menunggu bon-odori dimulai kami jajan es krim dan duduk di sekitar stand bazaar yang ada di samping gedung auditorium.
Kami mengobrol tentang banyak hal.
Akhirnya malam itu entah kenapa aku jadi dekat dan akrab dengan Icha, aku tidak malu-malu mengobrol dengannya. Aku sampai lupa Rino ada di mana, ah tapi Rino kan udah besar, aku nggak mungkin ngurusin dia donk.
* * *
Tiba-tiba HP Icha berdering.
“Yah si Johan.” kata Icha. “aku angkat dulu ya.”
Kemudian Icha menjauh dan mencari pojokan yang lebih tenang untuk mengangkat teleponnya.
Tidak lama kemudian ia kembali dengan wajah cemberut.
“Yaah, aku udah dijemput, padahal aku mau ikut bon-odori…” kata Icha.
“Lho, kenapa nggak ijin aja sama pacarmu.” kataku.
Ijin? Johan kan bukan bapaknya Icha, bapaknya aja nggak melarang. Ya nggak adil juga sih, kalau nggak dikasih, masih pacaran lho udah diatur-atur.
“Johan mau ngajak aku ke tempat lain, padahal aku udah bilang kalau aku mau bon-odori dulu.” kata Icha.
Aku pun hanya bisa diam saja.
“Ya udah deh Vika, besok kita ketemu lagi sebagai Fiki donk.” kata Icha.
Aku membalas dengan tersenyum, “emang kamu mau bergaul sama orang culun macam Fiki?” kataku.
“Ah, kata siapa kamu culun, buktinya kamu seniman hebat luar biasa gini, kamu sih pendiem di sekolah.” kata Icha.
“ya udah yaa Vika alias Fiki… sampai ketemu besok di sekolah.” kata Icha.
Kemudian ia pun berjalan ke arah sebuah mobil yang berhenti tidak jauh dari gedung auditorium. Sementara aku kembali ke ruang ganti dan melepas kostumku. Barulah kemudian aku mencari Rino yang keluyuran sendiri di tengah-tengah penonton.
Setelah aku melepas kostum dan menghapus makeupku sepertinya sudah tidak ada yang mengenaliku sebagai Fiki.
Zeal dan Nela juga sudah lepas kostum.
“Fik, mana cewek lu tadi?” ledek Zeal.
“Cewek? Itu temen gue.” kataku.
“Ah boong, itu gebetan lu kaan?” kata Nela lagi.
“Nggak, itu temen gue.” kataku.
“Halaah temen apa temen, koq melihatnya berbinar-binar gitu?” ledek Nela.
“Cieee, Vika punya gebetan.” ledek Zeal.
“Ah, ngaco lu pada…” kataku.
Sementara aku melongo ke sekelilingku karena Rino sudah hilang lagi.
* * *
Selesai hari yang melelahkan itu akhirnya aku bertemu Rino di pintu keluar. Aku berpisah dengan teman-teman cosplayerku dan aku pulang berdua Rino.
Besok aku sudah harus kembali ke real-worldku, kehidupan sekolahku yang keruh dan membosankan. Kembali menjadi si cowok culun bernama Fiki Fernando.
Tapi aku senang sekali hari ini aku bisa berkenalan dengan Icha, mengobrol dengan begitu dekat. Kalau besok pas di sekolah entahlah.