Dan akhirnya tibalah hari H diadakannya Lomba Cosplay di kampus DP Jakarta Timur. Kampus tersebut adalah salah satu kampus swasta yang punya jurusan Sastra Jepang di Jakarta Timur tidak jauh dari rumahku. Aku jadi berpikir kalau nanti lulus SMA apa aku masuk kuliah sastra Jepang aja ya.
Acaranya itu sendiri sudah diadakan dari pukul 10:00 pagi, tapi lomba cosplaynya itu sendiri baru dimulai pukul 16:00 dengan target waktu hanya sampai 18:00 dan setelah itu pengumuman pemenang jam 19:00 sekaligus penyerahan hadiah, kemudian band penutupan dan sudah ciri khas acara gelar Jepang harus ditutup dengan tarian tradisional Jepang yang namanya “Bon Odori”.
Aku dan Rino memutuskan untuk berangkat jam 13:00 siang saja, karena kalau pagi rundown acaranya masih seputar kebudayaan saja.
* * *
Sampai di kampus DP, awalnya kami mau langsung menuju tempat acara tapi kami malah berkeliling kampus melihat kehidupan kakak kakak mahasiswa dan mahasiswi.
Sebenarnya aku sih yang tiba-tiba malah keluyuran berkeliling, eh si Rino ikutan aja ngekorin aku.
Sedikit banyak aku tergugah juga melihat kehidupan mahasiswa, sepertinya jauh lebih menarik daripada anak sekolahan, bisa pakai baju bebas setiap hari, bebas gondrong, kata saudara-saudara sepupuku yang sudah pada kuliah jadi mahasiswa enak, soalnya masuk kelasnya nggak ada yang atur, kalau nggak masuk ya ketinggalan pelajaran rugi sendiri.
Yang kupikirkan malahan kehidupan bebasnya, aku ingin sekali pokoknya punya rambut gondrong, malahan kalau bisa kuliah di kampus Sastra Jepang aku mau masuk kelas sambil cosplay (emang boleh? Ga tau deh, mungkin aku bakal jadi orang pertama yang melakukannya).
* * *
Kemudian aku baru sadar kalau kami bengong di dalam gedung fakultas, ditegur sama seorang kakak mahasiswa.
“Dek, nyari apaan?”
“Oh, nggak kak, numpang lewat aja, hehehe, mau nonton acara gelar Jepangnya.” kataku sambil melihat si kakak yang lagi bawa buku-buku kuliahnya yang tulisannya aksara Jepang.
“Wow, sastra Jepang ya kak?”
“Iya.”
“Asik ya, bisa baca tulisan Jepang, bisa ngomong sama orang Jepang.” kataku.
“Ah, saya masih semester satu dek.” balas si Kakak itu.
“Oh iya saya Fiki, ini teman saya Rino.” kataku, tapi saat aku menengok kulihat Rino koq nggak ada.
“Eh tadi ada temenku di sini, ke mana dia nggak tau…” kataku yang celingak-celinguk menoleh mencari Rino yang mendadak hilang.
Si Kakak yang nampak bingung melihatku celingak-celinguk.
“Oh iya, saya Ari.” kata si kakak.
“ya udah kakak mo masuk kuliah dulu, tuh acara gelar Jepangnya di sana di auditorium.” kata si Kakak.
Akhirnya setelah perkenalan yang hanya singkat sambil lalu itu aku pun keluar gedung fakultas dan mendapati ternyata si Rino ada di semak-semak samping pintu keluar fakultas.
“Ah, elu kirain ilang, ngapain lu di sini, kencing jangan di semak-semak, ada WC tuh.”
“Bukan cuk, gue ngumpet takut lu berbuat yang aneh-aneh lagi, tau kan lu rajanya hal-hal memalukan.” kata Rino.
Ya Rino memang selalu gitu, teman yang kalau teman lagi susah dia malah kabur.
* * *
Di dalam ruang auditorium ternyata sudah berubah menjadi panggung acara indoor dengan musik yang sangat keras dari band-band yang membawakan lagu-lagu cover dari band favorit para penggemar lagu Jepang pada kala itu.
Sampai di dalam aku langsung ke meja pendaftaran untuk mendaftar ulang dan begitu aku menyebutkan namaku Vika Vernanda tiba-tiba aku langsung disambut sama beberapa orang yang ternyata adalah teman-teman onlineku.
Ada yang paling kukenal namanya Zeal yang biasa meng-cosplaykan character game RPG.
Aku memperkenalkan Rino juga kepada mereka dan kami pun masuk ruang ganti.
Sampai di dalam ruang ganti aku diperkenalkan lagi ke banyak teman-teman cosplayer, ada cewek-ceweknya juga. Dan tak kusangka-sangka ternyata pergaulan di komunitas cosplay malah lebih ramah, kekeluargaan dan terbuka satu sama lain. Tidak ada rasa malu-malu untuk berkenalan, dan tidak satupun dari mereka yang melihat kekuranganku atau menganggapku jelek, malah aku begitu disambut, welcoming banget suasananya. Apalagi setelah tahu diriku adalah cosplayer crossdresser, makin banyak cewek-cewek yang mendekatiku, aku ditanya-tanya beli peralatan cosplaynya di mana, belajar dandannya sama siapa.
Aku juga sudah memperkenalkan Rino kepada teman-teman baruku itu, tapi mereka tidak begitu menghiraukan Rino.
Semua perhatian terpusat padaku, aku jadi sampai dandan sambil ditontonin sama mereka.
Malah sesama cosplayer jadi saling foto-fotoan, padahal aku baru mau dandan.
“Eh, aku mo dandan dulu donk.” kataku.
“Ya udah dandan aja, kita nggak gangguin kan cuma lihatin doank.”
“Duh aku suka malu kalau dandan dilihatin.” kataku.
“Ah masa malu sih, malu mah kalau telanjang kali.” kata Nela seorang cosplayer cewek, dan dia cewek asli ya bukan crossdresser.
Akhirnya dengan canggung aku pun make up depan kaum hawa yang terkagum-kagum melihat anak Adam memoles wajahnya sedemikian apik.
Mengoles foundation dengan sangat rapih merata sampai wajahnya mulus bagai porselen, ditimpa lagi dengan bedak padat untuk merapatkan teksturnya sehingga terlihat cerah alami kalau ditimpa cahaya tidak mengkilap. Bedak yang kupakai juga bukan mereka sembarang, tapi merk bagus yang kupakai merk yang sama dengan punya mamaku. Mamaku dulu sangat apik dan pandai dengan makeup.
Kemudian barulah aku membentuk mata dengan base eyeshadow, dipoles lagi dengan eyeshadow degradasi biru laut, kemudian barulah kugambar eyeliner di sepanjang garis mataku yang lebih kutebalkan yang bagian atas sedangkan bagian bawahnya cukup melancipkan sudut mata saja. Biar mataku lebih terlihat memanjang runcing feminim.
“Yaa ampuuun koq bisa sih gambar eyelinernya rapih gitu?” kata Ita seorang cosplayer cewek juga. “Ih, kakak mah tau gitu aku minta didandanin kakak aja.”
Aku hanya tertawa kecil saja, kalau aku yang sibuk dandanin cosplayer lain aku nggak ikut cosplay donk, aku buka usaha cosu-makeup artist aja ya.
Setelah itu sedikit blush on, dan akhirnya pulasan lipbalm, baru ditimpa lipstick pink nude, dan di bagian dalam bibir baru pakai lip matte merah. Jadi punya efek bibir yang degradasi merah gelap di pink terang. Bibirku terlihat lebih tipis tapi terang dan tegas membuat lekuk sensual kalau tersenyum.
Terakhir ya pakai wig alias rambut palsunya deh.
Setelah itu aku semua yang menyaksikan terdiam.
Aku berkaca, sekarang sosok di pantulan cermin itu sudah bukan tampang bocah culun lagi tapi anak cewek imut-imut karakter e-girl ‘Hatsune Miku’ ala Vika Vernanda.
“Waaah… koq bisa cantik siiihh??” seru Nela, cewek yang juga cosplayer.
“Curang ah, cantikan dia daripada kita.” kata Ita lagi.
Ternyata sore itu tidak banyak yang Crossdress cosplay sore itu, dan entah kenapa banyak yang tertuju perhatiannya kepadaku. Bahkan cross-player lain juga memuji hasil cosplayku yang benar-benar seperti anak cewek.
“Gila, nggak percuma lu cosplay-in Hatsune Miku, bener-bener kawaii (bhs Jepang = imut), si Ita aja kalau cosplay Hatsune Miku belum tentu bisa kawaii kayak lu.” kata Zeal meledek.
Padahal sih menurutku si Iwin juga cantik dan seksi, dia crossdress juga pakai rok mini sepertiku, dia juga putih dan menarik. Tapi kata orang-orang secara tampang aku lebih ‘menggairahkan’, aura kawaii nya benar-benar mistis. Nggak cowok nggak cewek semua tergugah.
“Lu pasti menang deh Vik.” kata Iwin yang memanggilku dengan nama cosplay ku.
Kami semua sudah selesai dengan makeup dan kostum, kulihat Zeal memerankan karakter cowok dari salah satu game RPG terkenal Final Fantasy, kebetulan bodynya juga cocok.
Panitia menyuruh kami bersiap-siap di sebuah area belakang panggung menunggu giliran untuk dipanggil.
* * *
Dan barulah sekarang terasa jantungku deg-degan, padahal aku sudah biasa tampil di Live streaming online sesi Gabut bersama Vika. Tapi tampil betulan di atas panggung sepertinya benar-benar sensasi yang berbeda.
Saking asiknya dengan teman-teman cosplayku aku sampai nyaris melupakan Rino yang ternyata terdiam bengong saja di pojokan.
Aku pun menghampirinya.
“Rin… ayo donk gabung, cuek aja asik-asikan.” kataku.
Rino sebenarnya sudah tidak heran melihatku bercosplay, tapi mungkin baru kali ini dia melihatku benar-benar nyata di hadapannya dengan pakaian aneh ini.
“Kenapa Rin? Aku aneh ya?” kataku.
Rino hanya diam saja sambil memperhatikanku dari atas ke bawah.
“Nggak sih… tapi yaa… gue baru lihat aja lu bener-bener beda banget. Kaya berubah jadi orang baru.” kata Rino.
“Biarin Rin, selama ini kan gue selalu dikatain orang aneh lah, banci lah, cowok culun, sekarang gue totalitas aja ya jadi orang aneh sekalian.” kataku.
Setelah itu aku pun kembali ke kerumunan teman-teman cosplayku, kami berderet di belakang panggung sementara MC sedang mengumumkan pembukaan acara cosplay.
Di kostum kami sudah ditempel nomor-nomor peserta. Aku tampil nomor 7 setelah Zeal, total hari itu hanya ada 15 peserta.
“Gugup ya?” kata Zeal.
“Hm… ehehehe… ya…” saat itu aku benar-benar gugup sih, pikiranku sampai blank, bisa nggak nanti aku jalan di atas panggung itu, cukup tersenyum aja kan ke penonton. Sama kayak jalan di cat-walk ala-ala fashion model.
Hawa AC malah semakin membuatku keringat dingin.
Tapi teman-teman cosplayku semua memberiku dorongan semangat dan membangkitkan rasa percaya diriku. Di sini entah kenapa aku merasa begitu diterima, mereka semua menganggapku ada sebagai teman dan bagian dari mereka.
Aku pun menjadi percaya diri dan semangat. Aku ingin tampil semaksimal mungkin, memukau penonton dengan karya seni cosplay yang kutampilkan dengan tubuh dan wajahku ini.
Belum pernah aku merasa seperti ini, beda sekali dengan pergaulanku di sekolah di mana aku dicuekin, tidak terlihat, kalau pun dilihat aku hanyalah sosok anak cowok culun yang dimasukin ke kardus dan ditutup rapat-rapat, diletakkan dipojok paling pojok, dibalik tumpukan kardus yang lebih besar, dan ditutupin lagi pakai terpal, kemudian ditumpuk lagi dengan kardus-kardus lain.
* * *
Ketika tiba giliranku, aku pun maju dengan percaya diri ke tengah panggung, berjalan dengan gaya cewek, dan tak kusangka semua orang menjerit menyoraki bahkan ada yang bersiul “suit… suiit…”
Kemudian tiba-tiba kudengar musik dibackground menyala, intro lagu “Uta ni Katachi wa nai” salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Hatsune Miku.
Si Zeal lari ke tengah panggung memberikan mic kosong alias mic mati, kemudian ia mengedipkan mata padaku.
Sial nih si Zeal mau ngerjain aku.
Ya karena aku kan nggak kepikiran mau perform kabaret apa, jadi aku disuruh nyanyi lipsync lagunya Miku. Aku pun malu setengah mati, tapi tetap kulakukan.
Selesai aku menyanyi, tiba-tiba seluruh hadirin semakin berteriak riuh, aku pun difoto-foto dari bawah panggung, banyak cowok-cowok wibu yang berkerumun, bahkan cewek-ceweknya pun tidak kalah. Ya apalagi kan aku cosplayer baru, jadi mereka kayak masih penasaran gitu deh.
* * *
Setelah penampilanku selesai dan aku balik ke backstage, semua teman-temanku datang menghampiri dan memelukku bergantian.
Aku mendapat pelukan dari cowok maupun cewek, dan jujur aja aku belum pernah dipeluk cewek lain seumur hidupku. Tapi semua pelukan itu tidak ada yang berlebihan atau menimbulkan hasrat yang tidak-tidak, semua murni friendly-hug. Kulihat Rino yang melihatku dari kejauhan, aku melambaikan tangan ke arahnya dan mengajaknya ke arahku, tapi dia diam saja. Sementara perhatianku kembali ditarik oleh teman-teman cosplayku.
“Eh, Vik.. foto-foto dulu.” tarik Nela.
Kami pun foto-foto group, setelah itu kami keluar back-stage dan begitu keluar langsung kami dikerubungi fans-fans dan para kameko.
Kameko adalah istilah untuk fotografernya para Cosplayer, para hunter-hunter foto cosplayer, istilah Kameko berasal dari singkatan Kamera Kosu (ditulis menggunakan aksara Katakana Jepang).
Sampai lelah aku diseret sana, diseret sini, para fans-fans itu bergantian rebutan foto. Dan tiba-tiba ada seseorang yang mendekat ke arahku dari samping dan berteriak padaku.
“Eh… elu… lu!! Fiki??” sapa orang tersebut.
Aku pun menoleh dan betapa terkejutnya aku melihat siapa yang menyapaku. Seketika aku langsung gugup dan bingung.