LUKA 14

718 Words

"Kau menerimaku?" Aku mengangguk pelan. Senyum terulas di bibir pria tampan yang berdiri di hadapanku itu. Tapi, senyum itu meredup kembali. "Atau hanya karena kasihan, dan rasa bersalah padaku?" tanyanya krmudian. Matanya menatapku tajam, apakah tak boleh berawal dari rasa itu? memang karena hal itulah aku mengucapkan kalimat itu, tapi bukankah aku sempat memikirkannya juga sebelum dia menunjukkan karakter aslinya yang ternyata menyebalkan. "Tak bisakah kau sedikit romantis saat menembakku?" tanyaku balik. Bagaimana bisa aku menganggapnya serius nembak saja seperti itu. "Aku bukanlah pria romantis, dengan ribuan tangkai bunga, aku hanya pria menyebalkan yang ingin menjaga hatimu agar tak ada duka dan air mata kembali, agar hanya senyum yang menghias bibir ini," ucapnya. Tangannya m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD