"Kamu dimana?" tanya Pak Ryan di sambungan telepon kemudian. "Di tempat kita kencan semalam," jawabku sambil melihat Mas Dipta, ekspresi wajahnya berubah. Tak ada jawaban dari Pak Ryan, pangilan pub sudah diakhirinya. Ya Tuhan, dadaku serasa sesak sekarang. Aku menjadi tegang, tak mungkin aku menghubunginya kembali untuk memastikan. "Siapa pria itu?" "Atasanku di kantor, Ryan," jawabku. Tanganku terasa dingin, rasanya tegang sekali, apa salahnya menjawab iya atau tidak, jadi aku juga tau apa yang akan kuperbuat selanjutnya. Ini main tutup saja. "Kay, beri aku kesempatan, satu kali saja. Aku akan buktikan, rasa ini tulus adanya, aku benar-benar mencintaimu, aku janji tak akan mengcewakanmu lagi." Aku hanya menggeleng pelan. "Kay, aku masih bisa merasakan, ada cinta dimatamu untukku,

