"Ha ... halo," sapaku terbata
"Iya, Kayana?"
"I ... iya Tante," jawabku.
"Oh, ya sudah, tante kira Ryan bohongin tante lagi. Ryan memang gitu anaknya, kelihatannya cuek, tapi dia perhatian kok."
Aku masih bingung, dengan arah obrolan ini. Hanya iya dan tidak, serta tawa kecil yang kupaksakan untuk membalasnya.
"Maksudnya apa?" tanyaku saat panggilan telah berakhir.
"Mamaku bilang apa?"
"Aku tak paham, beliau minta aku sabar ngadepin kamu," jawabku.
"Oh, ya udah."
"Maksudnya?"
"Tak ada maksud apa-apa," jawabnya.
"Terus?"
"Iya, iya, tempo hari mamaku tanya, apa aku sudah dekat dengan seorang wanita, daripada ditanyain terus, aku jawab sudah. Aku juga nggak tau, kenapa kamu yang terlitas dalam benakku," jawabnya
"Hah ...." aku melongo mendengar jawabannya.
"Ya, nggak tau, spontan saja aku nyebut nama kamu," ucapnya lagi.
"Terus, darimana tau soal Prilly?" tanyaku, aku cukup penasaran dengan hal ini.
"Pak Ashar, aku sengaja bertanya padanya. Darinya aku tau tentangmu."
Pembicaraan kami terhenti saat pelayan datang membawa pesanan kami. Setelah memyajikan di meja dan mengucapkan selamat menikmati, mereka kembali pergi.
"Bukan hanya kamu, semua supervisor aku tau semua, bukankah aku harus mengenal siapa saja yang menjadi kolegaku di kantor? Jadi jangan ge er," lanjutnya.
"Hah, lalu soal mama kamu? Kenapa harus aku?"
"Karena cuma kamu yang jomblo di kantor," jawabnya enteng, dengan senyum mengejek. Telingaku gantal mendengarnya.
"Lalu, situ apa?"
"Sama kayak kamu, sudah jangan berisik, aku sudah lapar," ucapnya lagi.
Seleraku hilang entah kemana, aku hanya memandangi makanan di depanku, tanpa menyentuhnya.
"Kamu nggak makan?"
"Nggak selera," jawabku.
"Oh ...."
Hiks ... hiks, hanya Oh, responya. Dia kembali asyik menyantap makanannya. Padahal kalau dia memintaku berulang walau terpaksa pasti kumakan juga. Pelan aku mengelus dadaku, menasehati diri sendiri untuk bersabar menghadapi manusia aneh ini.
Sampai dia selesai pun, dia tak menawariku kembali, apalagi memaksa seperti yang di film-film. Aku menarik nafasku pelan dan menghembuskannya berlahan. Mengatur perasaan kesal yang mulai menjalar. Entah makhluk dari planet mana pria ini, tak peka sama sekali.
"Dah malam," ucapnya lalu berdiri.
Pria itu menggeser kursi dengan kakinya, aku ikut bangkit dari duduk tanpa berkata apapun. Dia berjalan ke arah resto, aku memilih terus berjalan masuk ke taman, untuk kembali ke kamar tanpa menunggunya. Sesampainya di depan kamar pun, belum terlihat juga batang hidung pria itu. Aku segera masuk dan mengunci kamarku. Kuhentakkan kakiku kesal, pria itu sungguh menyebalkan.
Aku langsung ke kamar mandi membersihkan diriku, baru berganti baju dan sholat isya. Ingin menelpon Prilly tapi sudah larut, gadis kecilku itu pasti sudah tidur. Saatnya melepas penatku dengan merebahkan tubuhku di atas ranjang.
Belum lama aku merebahkan badan, merilekskan tubuh dan pikiranku. Aku masih menatap langit-langit kamar saat terdengar ketukan di pintu. Suara itu membuatku beranjak malas dari tempat tidur. Siapa malam-malam begini dan ada keperluan apa?
•••
Seorang pelayan resto datang dengan nampan berisi makanan. Terlihat seperti udang dan cumi bakar. Sesaat aku terdiam karena merasa aku tidak memesan makanan tersebut. Mungkin saja pelayan ini salah kamar.
"Maaf, saya tidak memesannya," jelasku, pada pelayan itu.
"Dari tunangan Anda, atas nama Pak Ryan," jawab si pelayan, dengan senyum ramah. Apa-apaan lagi orang ini. Aku menerima nampan dan membawanya masuk, meletakkannya di atas meja.
Sebuah pesan masuk saat aku akan menelponnya.
[Sudah, makan saja. Aku sudah janji pada Prilly untuk menjaga mamanya, mana mungkin kubiarkan kelaparan.]
Aku urungkan niat menelponnya, pasti ide mama, minta Prilly bicara seperti itu. Pria yang aneh, aku tak memahaminya sama sekali. Pantas saja tak memiliki teman wanita, siapa yang akan betah coba di dekat pria seperti dia.
•
•
•
Perasaan baru saja aku terlelap, alarm di ponselku sudah, berdering dengan berisiknya, memaksaku membuka mata. Tak terdengar suara adzan di sini, aku mengandalkan alarm ponsel saja. Mungkin karena terlalu lelah, aku kembali terlelap selepas sholat subuh.
Aku kembali terbangun saat, ponselku bergetar dan berbunyi nyaring tanda pangilan masuk, sebuah panggilan Video dari gadis kecilku. Senyum manisnya langsung terpampang di layar ponselku, saat kugeser tombol hijau.
Celoteh khas dan pertanyaan ingin taunya membuatku tersenyum , tawa itu menjadi mood booster bagiku. Untuknya dan kedua orang tuaku lah, aku bertahan dan melangkah ke depan, bangkit dari keterpurukanku.
Aku baru meletakkan ponselku di atas nakas, giliran pangilan dari Friska uang yang masuk. Seperti biasa menayakan keadaanku dan ada cerita apa.
"Yang, berarti kamu nginep di dekat Discovery Shopping Mall ya?"
"Iya, jalan bentar nyampe, sama-sama di jalan kartika, ke Beachwalk juga nggak jauh," jawabku.
"Eh, si bos gimana?" goda Friska padaku.
"Apaan," jawabku.
Friska tak hentinya tertawa mendengar ceritaku tentang bosnya yang aneh bin menyebalkan itu.
"Kamu juga nggak peka, masak nggak sadar juga sih, dia punya cara yang berbeda buat nunjukin perasaannya," ucap Friska kemudian.
Entahlah, aku tak mau mengambil pusing tentang pria aneh itu. Aku beranjak ke kamar mandi selepas Friska menutup pangilannya. Guyuran air hangat membuat tubuhku lebih rileks.
Kembali kulihat jadwal kegiatan seminggu ini selepas mandi. Baru kusadari, kegiatan baru dimualai esok hari. Berarti hari ini tak ada agenda apapaun. Aku harus bertahan menghadapi pria aneh itu. Terdengar ketukan di pintu, aku beranjak dan membukanya.
Pria aneh itu sudah berdiri di depan pintu kamarku.
"Temani aku sarapan," ucapnya, melihatku. "Setelah itu kita jalan-jalan," lanjutnya.
Aku mengangguk pelan dan memintanya menunggu sebentar, memberi waktu padaku untuk bersiap. Setelah berganti baju dan sedikit memoles bedak aku keluar kamar. Sarapan di sini bagian dari paket kamar, ada resto di sisi kanan lobby. Ada tiga menu pilihan, dari masakan Indonesia, Cina dan Internasional.
"Terima kasih," ucapku, saat kami sudah duduk di sebuah meja, siap menyantap makanan yang baru saja kami pilih.
"Untuk apa?"
"Makan malamnya," jawabku, sambil meraih cangkir berisi kopi di depanku.
Pria aneh itu tersenyum melihatku. Aku sedang menyesap hangatnya kopi di cangkirku.
"Oh, itu. Tak perlu berfikir terlalu jauh. Itu semua karena aku sudah berjanji pada Prilly, tak lebih."
"Iya, saya mengerti," ucapku.
"Kita hanya berdua, tak perlu anda, saya," ucapnya.
"Iya," jawanku singkat.
"Untuk masalah dengam mama, aku harap kamu juga jangan berfikir terlalu jauh, itu hanya ucapan spontanku saja mengunakan sosokmu, jangan berfikir aneh-aneh tentangku," jelasnya lagi.
"Iya," jawabku lagi.
Tak ada pembicaraan lagi, kami sibuk dengan piring di hadapan kami. Semua sudah dia jelaskan, aku juga tak berfikir apa-apa tentangnya, karena pikiranku sedang tidak fokus kesana. Tapi ke masalah Mas Dipta dan nasib hubunganku dengan Friska.
"Area meminta beberapa report, aku sudah meminta Friska menarikkan data, bisakah aku kembali kekamar saja, aku harus menyelesaikannya," ucapku
"Aku bantu."
"Tak perlu."
"Kau membiarkan aku sendiri saja begitu," ucapnya
"Lalu?" tanyaku.
"Kamu pikir, untuk apa aku memajukan jadwal kedatangan kita di sini?" tanyanya. Aku hanya mengangkat bahuku, "Sudahlah, kerjakan di dekat kolam renang, aku menemanimu," lanjutnya.
Selesai sarapan, aku langsung ke kamar, mengambil peralatan tempur dan membawanya ke dekat kolam renang seperti permintaan pria aneh itu. Dia juga nampak keluar dengan membawa laptop dari dalam kamarnya.
Aku sudah mulai asyik dengan pekerjaanku. Tanpa memperhatikannya lagi. Fokusku kembali padanya saat ku selesai mengerjakan sebuah laporan dan mengirimnya ke admin area. Pria aneh itu sedang terlelap dalam duduknya, dia tidur.
Entah kenapa mata ini fokus ke wajahnya, tampan sih, tapi, aneh dan menyebalkan.
Masih ada beberapa laporan lagi, aku kembali fokus pada layar laptopku. Untuk jaringan di sini sangat mendukung, hingga aku tak kesulitan mengunduh data ataupun mengirimnya.
"Aku ketiduran lama ya?,"
tanya pria itu, mengalihkan fokusku dari layar laptop. Aku hanya sekilas menolehnya, dan mengangguk pelan.
"Sepertinya aku mengenal pria yang berdiri di sana, bukankah dia pacar Friska," ucap Pak Ryan, dagunya menunjuk ke arah sisi kananku. Spontan aku menoleh, dan benar itu Mas Dipta.