Panggilan terputus sebelum aku menjawab apapun. Dia masih sama saja seperti dulu, egois. Memaksakan kehendak, sesuai kemauannya sendiri. Aku mencoba menghubunginya, tidak tersambung.
Bertemu dengannya kembali, bukanlah hal yang aku inginkan, apalagi dalam situasi seperti ini. Kenapa pria itu selalu membawa masalah untukku, dan fakta terburuknya adalah, aku masih mencintainya. Tapi bukan berarti aku ingin kembali bersamanya. Luka ini terlalu dalam, dan sulit bagiku melupakan semua yang pernah terjadi.
Pesan masuk di ponselku, baru aku akan membalasnya, panggilan Video Call masuk, senyum sahabatku nampak begitu manis. Aku membalasnya dengan senyum yang sama.
Friska memberitahu, kalau Mas Dipta juga akan ke Bali, karena itu dia memberi nomor ponselku padanya.
"Aku ada pesan beberapa barang, mau nggak temenin Mas Dipta belanja? Dia bilangnya malas, baru mau pas aku mau minta tolong kamu buat temenenin dia," ucap Friska dengan gaya manjanya.
"Kenapa kamu nggak pesen ke aku aja langsung, kan aku bisa pergi sendiri. Malas tau jalan sama cowok, pa lagi cowok orang," jawabku, Friska tertawa.
"Dah, kamu tulis aja kamu pesen apa. Biar aku sendiri yang nyariin nanti," lanjutku. Paling tas dan teman-temannya, aku cukup tau kegemaran sahabatku ini pada produk fashion.
"Tapi kan kalau Mas Dipta yang belanjain, gratisan sayang, hahahha."
"Haduhhh, hmmm liat nanti aja diijinkan nggak sama Pak Bos, aku belum tau agendanya," jawabku.
"Iyah, sayang. Ya udah sana, salam sama Pak Bos, ntar cerita ya, kalian ngapain aja hahaha," goda Friska. Aku hanya nyengir menanggapinya . Panggilan aku tutup setelah menjawab salam Friska
Kepalaku sakit, tak mungkin aku cerita lewat pangilan telepon, kalau salah paham aku akan sulit menjelaskan. Selepas aku kembali dari sini, harus segera aku katakan. Hal ini tak boleh menjadi bola salju yang menggelinding liar.
Banyak hal yang akan terjadi, firasatku mengatakan bukan sesuatu yang baik. Andai saja Mas Dipta tak memilki pikiran gila, untuk kembali padaku, pasti semua akan sedikit lebih mudah. Sekarang pria itu sedang memanfaatkan Friska untuk dapat mendekatiku, itu dugaanku.
Akan lebih rumit lagi, saat Mas Dipta mengetahui ada Prilly di antara kami. Hal itu pasti akan membuat Mas Dipta semakin memaksa untuk kembali. Apa aku benar-benar tak menginginkannya? kembali menjadi sebuah keluarga yang lengkap? Aku tersenyum getir, aku tak tau, banyak hal yang harus di pertimbangkan. Dan pilihan itu akan banyak menyakiti hati orang-orang terdekatku, untuk hal itu diri ini tak akan mampu melakukannya.
Aku teringat pria aneh sebelahku menungguku jam tujuh, aku merapikan pakaianku, memoleskan sedikit bedak dan lipstik. Memilih menunggunya di depan kamar akan lebih baik, daripada mendengarkan ucapan ketus darinya.
Kami keluar bersamaan, sebuah kebutulan. Aku berdiam menunggunya sampai di depanku.
"Memangnya mau kemana?" tanyaku saat dia berhenti di depanku.
"Ke pantai," jawabnya singkat.
"Kuta?"
"Ramai, pantai belakang hotel saja."
Aku mengangguk pelan, berjalan mengekor di belakangnya saat dia mulai melangkah. Pak Ryan sedikit memperlambat langkahnya, hingga kami berjalan bersisian. Kami melewati beberapa bungalow di tengah taman. Sepertinya cocok untuk tempat menginap bagi keluarga. Tak butuh waktu lama, kakiku sudah mulai menginjak butiran pasir.
Di bibir pantai tampak meja berjajar, terlihat beberapa orang, ada yang seperti keluarga, ada yang hanya berdua saja. Di sisi lain nampak juga beberapa orang yang sedang berjalan di tepi pantai. Suara deburan ombak yang tenang dan juga angin yang tidak terlalu kencang membuat suasana malam terasa menenangkan.
Kami berhenti dan berdiri, menikmati sapaan angin laut yang diiringi suara deburan ombak. Aroma laut yang khas sedikit meringankan sakit kepalaku. Sesuatu yang membuat hati merasa lebih tenang dan damai.
"Kamu suka pantai?" tanya Pak Ryan tiba-tiba.
"Iya," jawabku singkat.
"Kenapa?" tanyanya lagi. Sebuah pertanyaan yang kadang tidak bisa dijawab dengan uraian kata. Karena tidak semua rasa bisa digambarkan.
"Tak semua memerlukan alasan, seperti kenapa saya suka pantai. Saya juga tidak tahu, tapi yang jelas suasana pantai bisa membuat hati saya lebih tenang." Aku menjawab sembari melepas pandangan dan menikmati aroma pantai melalui indra penciuman.
"Tak usah bicara terlalu formal, kita tidak sedang di kantor," ucapnya, mungkin karena aku menggunakan kata ganti saya.
"Iya." Seperti biasa aku menjawab dengan singkat.
"Hanya iya?" tanyanya kemudian.
"Iya," jawabku lagi.
Aku menoleh ke arahnya, dia bicara tanpa melihat ke arahku. Belum pernah aku berduaan saja dengan seorang pria seperti ini. Ini kali pertamanya, cinta pertamaku berlabuh pada Mas Dipta, dan setelahnya aku tak pernah ada hasrat lagi untuk mencinta.
Cukup lama kami berdiam. Kuat sekali dia tak berbicara, meski ada orang lain di sampingnya. Sangat berbeda denganku. Sekuat tenaga aku menahan, menyerah juga akhirnya.
"Apa, kita hanya akan berdiam saja seperti ini, sampai malam larut?" tanyaku padanya.
Seulas senyum terbit di bibir itu, saat mendengar aku bicara, apa maksudnya? Jelas tak ada yang lucu dari kalimatku. Pria itu menoleh ke arahku, masih dengan senyumnya. Aku sedikit mengernyit, dia masih terus melihat kearahku, Ya Tuhan kenapa aku jadi salah tingkah.
Aku mengalihkan pandanganku, menatap lepas kembali ke arah pantai. Dari ekor mata, aku masih bisa tau dia belum melepas tatapannya, masih dengan senyum yang sama. Ih, kenapa lagi ini orang, kadang sengak, kadang perhatian, kadang cuek, kadang diam, kadang bawel, dan sekarang lihat apa yang sedang Ia lakukan.
"Kemana?" tanyanya, tangan itu menahanku saat aku akan beranjak.
"Capek berdiri, dan capek dicuekin." Aku bicara sesuai dengan yang aku rasakan, kaki terasa cukup pegal terasa capek. Tapi, ada lagi yang lebih capek … hati.
Tadi tersenyum, sekarang dia tertawa, aneh. Untung stok sabarku berlebih, hingga tak menambah sakit kepalaku. Aku hanya memanyunkan bibir tak paham dengan sikap pria yang berada di dekatku ini.
"Apanya yang lucu?" Aku merasa tidak ada sesuatu yang lucu yang bisa dia tertawakan.
"Kamu," jawabnya.
Aku menarik nafas dan menghembuskan kasar, kenapa ini orang menyebalkan sekali. Disaat aku bicara dia terdiam, dan disaat aku kesal justru dia tertawa. Entahlah ...
"Kalau tau cuma di diemin gini, mending tidur," celetukku kesal.
"Aku lapar lagi kita makan, pesan di sana," ucapnya, menunjuk ke arah meja yang berjajar, seolah tak mendengar ucapanku.
Tangan itu tak melepasku, menarikku begitu saja. Aku berjalan mengikutinya, kuturuti saja apa mau manusia aneh ini. Sebuah meja paling ujung menjadi tujuannya. Dia menarikkan kursi untukku, tak berselang lama seorang pelayan menghampiri mejaku. Disodorkannya sebuah daftar menu, lampu portable berbentuk seperti lampion yang diletakkan di atas meja cukup menerangi area sekitar tempat kami duduk.
"Suka seafood?" tanyanya padaku. Aku mengangguk pelan. "Kamu yang pilih," ucapnya lagi, aku menggeleng. Pak Ryan mengangkat alisnya, kemudian memilih sendiri pesanan. Setelah membaca ulang, pelayan itu pun beranjak pergi.
"Kamu marah?" tanyanya. Aku hanya menggelengkan kepalaku. "Terus, kenapa tak mau bicara."
"Malas," jawabku.
Pria itu malah tertawa mendengar jawabanku, yang sama sekali tidak ada lucu-lucunya. Tawanya terhenti saat terdengar sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Dia menarik ponsel dari saku celananya. Masih dengan sisa tawanya dia menjawab salam dari si penelpon.
"Iya, ma, ini Ryan lagi mau makan. Pesen ikan bakar sama udang tadi."
"Cerah ma, cerah banget malah." Pria itu melihatku.
"Iya, iya pasti. Doain ya ma."
"Sesuai keinginan mama, mama pasti suka juga, ... pastilah ma."
Pandangannya tak lepas dariku selama dia menelpon. Sebenarnya risih juga, dilihat seperti itu. Aku mengambil ponsel di saku, mencari kesibukan sendiri, mengatasi grogiku lebih tepatnya. Namun, perhatianku masih fokus pada pria itu. Sepertinya telepon dari ibunya, dan mereka sedang membicarakan seseorang.
Malam semakin larut, angin yang tadinya menyapa lembut, sekarang mulai terasa lebih kencang. Deburan ombak semakin kentara suaranya, dan dia masih asyik berbicara dengan ponselnya.
"Mama," ucapnya. Menyodorkan ponselnya padaku. Aku menyipitkan mata kenapa juga pria itu memintaku bicara dengan Mamanya?