"Mama, ada tamu," ucap Prilly menunjuk sebuah mobil yang terparkir di depan pagar.
Motor matic kuparkir di belakang mobil, karena tak bisa masuk. Tidak di kantor, tidak di rumahku sendiri kelakuannya sama, menganggu jalan.
"Assalamualaikum, " teriak Prilly saat masuk rumah, di sambut jawaban dari ayahku dan pria itu. Prilly yang semula setengah berlari, melambatkan langkahnya.
"Salim dulu, sama temannya mama," pinta ayah ke Prilly, gadis kecilku itu langsung mendekat dan mencium punggung tangan pria itu. Pria itu mengusap lembut kepala Prilly. Pandangannya beralih ke arahku yang masih mematung di ambang pintu. Dia terlihat tak kaget saat Prilly disebur sebagai anakku.
"Kamu, tidak bersiap?" tanyanya padaku sopan.
"Iya," jawabku singkat.
Aku tak ingin mempertanyakan maksud kedatangannya, atau mengutarakan kekesalanku padanya. Tak lucu juga kan? Kalau kami ribut dihadapan keluargaku. Aku beranjak ke kamar, bersiap dan mengecek bawaan sekali lagi.
"Itu ... kepala cabang yang baru?" tanya mama yang datang dengan botol minumanku.
"Iya ma, Pak Ryan," jawabku.
"Masih muda ya? Belum berkeluarga kan?"
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan mama.
"Kalian ada hu--"
"Kami hanya sebatas atasan dan bawahan mah, tak lebih," potongku, aku sudah tau arah pembicaraan mama.
"Siapa tau, kan?" imbuh mama lagi "Ya nggak harus dengan Dion kok, kalau ada yang lain dan itu pria baik-baik mama setuju saja," lanjutnya. Aku pura-pura sibuk dengan membenarkan riasanku, padahal aku mendengar ucapan mama bahkan bisa kutangkap pengharapan di nada suaranya.
"Kalau nanti Kay sudah bertemu pria yang tepat, yang bisa menerima Kay, apa adanya, pasti akan Kay bawa kerumah," ucapku ke mama.
"Jangan mengunci hatimu, apalagi masih mengaharap Dipta kembali, buang jauh-jauh pikiran itu. Mama belum bisa memaafkan apa yang dia perbuat padamu." Mama menatapku, seolah bisa membaca isi hatiku.
Ah, Mas Dipta, mama begitu membenci mantan suamiku itu. Butuh waktu untuk membicarakan tentang kehadiran Mas Dipta kembali. Namun , tetap harus aku beritahukan karena ada Prilly yang suatu saat membutuhkan peran Mas Dipta sebagai ayah kandungnya.
"Kay, ngerti ma," jawabku, mengangguk pelan. Memberikan senyum termanis yang aku miliki. Mama memelukku, memcium pipiku.
"Mamah, Ly dapat ini dari Om." Prilly datang dengan dua batang coklat di tangannya.
"Oh, ya wah. Sudah bilang terimakasih belum?" Aku setengah berjongkok, agar sama tinggi dengan gadis kecilku itu.
"Sudah mama," jawabnya dengan tersenyum, memperlihatkan lesung pipi yang menambah manis bidadari kecilku itu. Senyum dan lesung pipi yang sama persis dengan yang Mas Dipta miliki.
"Pintar, anak mama. Dengar, mama mau pergi kerja, keluar kota. Mama nggak bisa pulang selama satu minggu. Ly nggak boleh rewel, nurut sama oma opa, ok?"
Prilly mengangguk, mengerti. Kupeluk erat tubuh kecil itu dan menciumnya berulang. Prilly, gadis kecilku yang pintar, penyemangat hidupku, dan salah satu alasanku untuk bangkit dari keterpurukanku.
Aku menarik koperku dengan menggandeng Prilly. Melihatku keluar, Pak Ryan berdiri. Setelah pamitan kami berangkat, lambaian tangan kecil itu kubulas dengan kecupan jauh. Pak Ryan melajukan pelan mobil keluar perumahanku. Kami masih saling diam.
"Terima kasih coklatnya," ucapku, membuka pembicaraan. Aku tak tau dan belum ingin bertanya tau dari mana dia tentang Prilly anakku. Karena hal itu juga bukan rahasia, tapi memang tidak semua orang kantor mengetahuinya.
"Gadis yang cantik dan manis, sangat berbeda dengan mamanya," jawabnya. Aku menoleh kearahnya. Dia nyaris tanpa ekspresi mengungkapkan kaliamat yang baru saja dia ucapkan.
"Memangnya aku kenapa?" tanyaku sewot, tanpa basa basi menyebut diri sendiri, saya, seperti biasannya.
Tak ada jawaban darinya. Ih, kenapa dia sekarang begitu menyebalkan, aku seperti kembali berbicara dengan tembok, tanpa respon. Kami kembali diam, aku melempar pandanganku keluar mobil.
Hampir tak ada pembicaraan, mulai dari masuk bandara, sampai sekarang saat kami sudah duduk di dalam pesawat, aku juga tak mau ambil pusing, hanya menjawab apabila dia bertanya. Empat puluh menit kedepan kami akan sampai di Bali. Hari cukup cerah, tak banyak awan membuat perjalan bisa dinikmati sepertinya.
Masih sama, kami seperti dua orang yang tidak saling kenal. Aku memilih tidur, karena dengan begitu aku merasa perjalan lebih cepat sampai. Walau dalam kenyataannya waktu yang di tempuh tetaplah sama saja.
Tak tau berapa lama tepatnya aku tertidur, aku terbangun saat terdengar suara yang menginformasikan bahwa sebentar lagi pesawat alan landing. Perhatianku berpindah pada sosok pria di sampingku yang terlihat tengah asyik membaca sebuah majalah.
Pukul lima sore waktu setempat, kami sudah keluar bandara. Hotel sudah menyediakan fasilitas mobil penjemput, yang membawa kami langsung ke sana. Sebuah hotel di jalan Sartika Plaza menjadi tempat meeting kami kali ini. Hotel berbatasan langsung dengan pantai Tuban.
"Apa anda sakit gigi?" tanyaku padanya, akhirnya aku kembali mengalah membuka kembali pembicaraan saat kami berjalan memasuki lobby hotel.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Lalu, kenapa anda tak bicara padaku sama sekali."
Langkahnya terhenti, kemudian menoleh kearahku, hanya sebentar saja.
"Malas," jawabnya sambil berlalu.
Aku yang ikut berhenti, masih terdiam. Menikmati jawaban yang sungguh memuakkan yang baru saja ku dengar. Semoga Tuhan memberiku kesabaran, menghadapi pria aneh ini.
Pak Ryan berhenti saat sadar aku belum beranjak juga dari tempat kami berhenti tadi.
"Ngapain masih di situ?" tanyanya menoleh ke arahku. Aku melengos, kembali melangkah dan menarik koperku berjalan mendahuluinya menuju customer service. Sebuah kartu diberikan oleh petugas hotel padaku, dan juga penjasan lokasi kamarku. Baru aku akan beranjak pria itu sudah sampai di depan meja CS juga.
"Tunggu aku," ucapnya padaku. Aku berhenti tanpa berkata apapun.
"Ayo!" ucapnya setelah menerima kartu puntu kamarnya. Aku berjalan mengekorinya. Kamar kami bersebelahan sama-sama di lantai dasar, menghadap ke kolam renang. Ini lebih seperti resort, dengan taman yang sangat luas.
"Kamu tidak lapar?" tanyanya padaku, saat aku akan masuk ke kamarku. "Kita cari makan selepas ini," lanjutnya.
"Iya," jawabku singkat.
Kamar yang nyaman, melihat tempat tidur bersprei putih itu ingin rasanya segera menghempaskan badanku. Aku meletakan semua bawaanku dan menuju kamar mandi. Kamar mandinya juga tak kalah keren, ah kampungan sekali diriku. Tapi ini benar-benar nyaman sekali.
Selepas membersihkan diri dan sholat aku mengecek ponselku yang bergetar dari tadi. Pak Ryan terlihat menelponku beberapa kali. Ih, tak sabaran sekali orang ini. Pesan masuk darinya, dia menunggu di dekat kolam renang.
"Apa selalu begitu perempuan, ribet," ucapnya saat melihatku datang. Aku menarik kursi dan duduk di depannya.
"Saya harus mandi, terus sholat, lumayan cepet dari biasanya," balasku. Karena biasanya aku betah berlama-lama dikamar mandi.
"Sholat?" tanyanya padaku.
"Iyah," jawabku. Pak Ryan terlihat memanggutkan kepalanya.
Seorang petugas menghampiri dan memberikan sebuah daftar menu, kami memilih beberapa makanan untuk disantap sore ini. Pegawai di sini sangat ramah, tempatnya juga bersih dan asri, dan satu lagi tenang.
Aku mengeluarkan ponselku, memberi kabar kembali pada Prilly, suara renyahnya menyambutku. Dia menanyakan apakah tempatku menginap bagus, dan apakah aku akan mengajaknya liburan kesini suatu saat nanti.
"Tentu saja, nanti kita pergi sama oma sama opa juga ya," jawabku.
"Asyik ... Ly suka. Ly sayang mamah," ucapnya.
"Mama juga sayang, Prilly."
"Mah, om nya yang tadi ada nggak?" Spontan aku melihat ke arah Pak Ryan yang duduk di depanku. Pria itu juga tengah asyik dengan ponselnya.
"Ada, memangnya kenapa?"
"Ly, mau omong sama, Om."
"Hah, ngapain?" tanyaku heran.
Ah, ada-ada saja. Kenapa aku jadi curiga ini ide mama. Karena merengek akhirnya kuturuti juga permintaan gadis kecilku itu.
"Maaf, Prilly mau bicara dengan anda," ucapku ragu, sambil menyodorkan ponselku. Pria itu mengangkat alisnya, kemudian mengambil ponsel dari tanganku. Senyumnya terbit saat menyapa gadis kecilku itu. Sejenak terdiam mendengarkan masih dengan senyum di bibirnya.
"Apakah om akan dapat bayaran untuk ini?" tanyanya. Aku mengernyitkan dahiku, apa yang mereka bicarakan sebenarnya. Ah, mereka baru saja bertemu, kenapa bisa seakrab itu. Kata 'siap, tuan putri' mengakhiri pembicaraan mereka. Pak Ryan memberikan ponselku kembali, pangilan sudah putus.
"Maaf," ucapku. Entah untuk apa, asal saja aku bicara.
"Untuk apa?" tanyanya bingung.
"Untuk Prilly, saya takut menggangu anda," jawabku.
"Apa aku terlihat seperti terganggu?"
Aku menggeleng, yang ada dia terlihat begitu senang. Dia lebih mesra bicara dengan Prilly dari pada denganku. Tapi, untuk apa pula dia harus bicara mesra padamu.
Makanan datang, tanpa bicara lagi kami yang sudah cukup lapar langsung memindahkannya ke dalam mulut yang diteruskan ke perut. Makanannya enak, sangat cocok di lidahku.
Matahari semakin mengelincir kearah barat, lampu-lampu taman sudah mulai di nyalakan. Sepertinya sebentar lagi magrib, namun di sini sepertinya tak terdengar adzan. Makanan yang kami pesan sudah tandas tak bersisa.
"Pak, dah mau malam. Boleh kekamar dulu," pintaku. Pak Ryan mengangguk, aku pun langsung berdiri. Pak Ryan ikut berdiri juga. Kami berjalan bersisian, tak perlu waktu lama berjalan ke kamarku. Hanya beberapa langkah kami sudah sampai.
"Pak, kenapa baru kita berdua yang datang?" tanyaku sedikit heran. Karena biasanya sudah banyak peserta dari cabang lain yang datang.
"Iya, karena meetingnya masih lusa, besok juga sudah pada datang semua," jawabnya.
"Hah ... terus ngapain kita duluan berangkat?" tanyaku heran. Karena masalah mas Dipta aku sampai tak meyadarinya.
"Masalah?" tanyanya balik. Aku mengeleng.
"Ya sudah, biasa aja mukanya. Dah sana masuk. Jam tujuh aku tunggu."
"Ngapain?" tanyaku. Pria itu tak menjawab apapun. Berlalu menuju ke kamarnya, membiarkan aku yang masih berdiri dengan tanya tanpa sebuah jawaban, Ya Tuhan, beri hamba ektra kesabaran.
Setengah kesal aku kembali masuk kedalam kamar. Selepas sholat magrib aku benar-benar menghempaskan tubuhku di ranjang berlapis kasir super empuk itu. Kuraih ponselku dari atas nakas, mengecek pesan yang masuk.
Pesan dari Friska, dia menanyakan kapan aku sampai. Aku menjawabnya, kutunggu beberapa saat belum rerjawab juga. Beralih ke pesan lainnya. Sebuah nomor tidak di kenal.
[Kay]
Hanya itu isinya. Aku melewati tanpa membalasnya, sampai terlihat pangilan masuk. Ragu aku mengangkatnya. Suara yang cukup aku kenal dan hafal, mengucapkan salam. Aku mejawabnya pelan. Darimana dia tau nomor teleponku, apakah dari Friska?
"Kay, aku besok ke Bali juga, apa kita bisa bertemu?"
"Mas, darimana mas tau Kay di sini?"
"Friska yang kasih tau, kita perlu bicara tentang kita, dan Friska," jawab Mas Dipta.
"Kay, akan memberi tau Friska secepatnya, kalau Mas Dipta tak mau menyatakannya," ucapku.
"Mas akan bicara jujur pada Friska, secepatnya juga. Mas akan katakan kalau kita dulu suami istri, dan mas akan kembali merujukmu," ucap Mas Dipta.
"Mas, jangan gila. Siapa yang mau rujuk, mas jangan mengada-ada!" seruku, bangun dari tidurku. Ada yang memanas di sini, di dalam hati ini.
"Makanya kita bicara bagaimana baiknya, mas akan menjemputmu, besok malam. Kirimkan saja alamat hotelmu, mas kesana."
Pangilan terputus sebelum aku menjawab apapun.
Bersambung.