Aku masih terdiam saat ponselku berpedar, sebuah pesan dari Mas Byan masuk.
"Apa Prilly, anak Dipta?"
Tanpa membuka Aplikasi, pesan itu terbaca di notif. Aku bahkan belum memikirkan untuk jawaban pertanyaan tentang Prilly. Setau mereka Ayah Prilly meninggal, karena itu yang aku ceritakan sebelumnya.
Kepalaku semakin sakit, bagaimana perasaan Friska, saat tau Mas Dipta telah memiliki anak dariku. Dan bagaimana juga dengan Mas Dipta saat tau hal yang sama, pasti keingginan dia untuk untuk kembali padaku akan semakin besar.
Ya Tuhan, kenapa aku dihadapkan pada situasi seperti ini. Tak mau diri ini kehilangan Friska sebagai sahabat dekatku, tapi dengan mengutarakan kenyataan ini padanya, pasti sangat berpengaruh pada hubungan kami.
Prilly juga berhak tau siapa ayahnya, dia juga membutuhkan sosok ayahnya suatu saat nanti. Tapi mengingat saat pria itu mengembalikan aku kepada mama dan papa, rasanya aku tak ingin memberi tau yang sebenarnya. Apa harus kujelaskan juga, kalau dia hadir bukan buah dari cinta, tapi dari perbuatan seorang pria mabuk, yang masih saja tetap menyalahkan aku karena kejadian itu.
Luka ini kembali basah saat mengingatnya. Rasanya kembali perih, mau tidak mau memoryku kembali ke masa itu, masa bertahun-tahun yang lalu. Hamil tanpa di temani suami, dan membesarkan anak sendiri tanpa sosok ayah. Rasanya sakit sekali.
Dan sekarang saat aku mencoba kehidupan baru, mulai nyaman dan mengubur masa lalu, dia kembali membawa masalah baru bagiku dan orang-orang di sekitarku.
Menjelaskan semua tentangku, tidaklah mudah. Membuka satu cerita, akan menguak banyak kisah lainnya. Dan semua kisah itu teramat sangatlah menyakitkan. Aku seperti sedang mencabik luka sendiri, mengoyak hati dan juga rasaku. Mengali kembali kenangan buruk masa lalu yang kelam dan menyakitkan.
Jujur aku tidak siap dengan kondisi seperti ini. Segala langkah yang aku ambil, semua tak ada yang memihak padaku. Semua berakibat tidak baik untukku, baik itu hubunganku dengan Friska, ataupun Mas Ditta, mama dan papa serta gadis mungilku Prilly.
Suara telepon membuyarkan lamuananku, kuseka air mataku yang hadir tanpa kusadari. Aku mengatur nafas dan juga hatiku.
"Selamat siang, dengan Kayana di sini, ada yang bisa saya bantu?"
"Iya, ke ruanganku," jawab si penelepon singkat, kemudian menutupnya.
Ada apa lagi, dengan orang ini. Dia kira tidak capek naik turun tangga dengan sepatu berhak tinggi. Aku mengambil kaca kecil dari laciku. Terlihat mataku memerah dan sedikit bengkak di bawahnya. Kusapukan sedikit bedak untuk menutupi, serta mengoles tipis lipstik berwarna pink soft ke bibirku.
Segera kubergegas melangkah ke lantai atas, pintu tidak tertutup namun aku tetap mengetuknya. Tampat sudah ada Radit, Pak Seno, dan juga Mas Reza di dalam. Tak berapa lama Friska sudah ada di belakangku. Pak Ryan menyuruh aku dan Friska duduk.
"Mulai sekarang, lembur di mulai tiga hari menjelang akhir bulan, dan section head setiap devisi harus tetap berada di kantor, sampai proses selesai," ucap Pak Ryan.
"Untuk tim marketing, tolong di optimalkan kinerjanya, target masih belum dilampaui. Harus ada progres dibanding bulan sebelumnya, paham?"
"Siap, Pak," jawab para supervisor itu.
"Tim operation dan finance, di mohon support nya, dan section head wajib mengawal dan bertanggung jawab penuh pada timnya."
"Baik, Pak," jawabku dan Friska serempak.
"Itu saja, jadi tolong dimaksimalkan waktu yang tersisa."
"Berarti untuk kosumsi karyawan lembur, apa juga bisa dikeluarkan mulai hari ini pak?" tanya Friska.
"Iya," jawab Pak Ryan singkat. "Kamu buat proposalnya! pengajuan hanya sampai kepala cabang saja," perintahnya padaku.
"Baik, pak," jawabku mengerti.
Kami keluar bersamaan selepas meeting dadakan ini selesai.
"Yah, nggak jadi nongki-nongki kita," ucap Friska sambil mengapit tanganku.
"Iyah," ucapku kecewa.
"Semangat bu ibu, tim marketing tambah semangat kalau di tungguin dua section head cantik-cantik gini," goda Mas Reza.
"Bapak-bapak emangnya gak seneng juga?"
Para supervisor itu hanya tertawa mendengar Friska.
Huff, aku harus mencari waktu yang tepat lagi. Tak mungkin awal bulan, kami akan sibuk dengan laporan. Dan aku, minggu depan harus ke Bali. Kugaruk kepalaku yang tak gatal. Perlu waktu dan suasana yang bagus untuk membicarakan hal ini pada Friska.
Baru aku mendudukan pantatku di kursi kerja, teleponku berdering. Pak Ryan menunggu proposal pengajuan dana lembur sekarang, karena dia mau keluar. Baru duduk juga. Untung aku punya file nya, tinggal copy paste dan mengganti tanggal saja. Kulepas sepatu tinggiku, berganti sepatu model flat, yang kusimpan di bawah mejaku.
Kembali menaiki anak tangga, entah untuk yang keberapa hari ini.
"Langsung kamu berikan, ke Friska!" perintahnya setelah menanda tangani proposal itu.
"Baik, Pak," jawabku.
"Aku mau keluar, nggak lama. Jam setengah limaan aku sudah balik kantor. Kalau ada yang penting, hubungi saja," jelasnya. Aku hanya menganggukkan kepala dan pamit kemudian.
~
Rencanaku untuk mengaku pada Friska sudah gagal, dan aku belum menemukan waktu yang tepat. Awal bulan seperti sekarang, kami harus berjibaku dengan banyak laporan. Jangankan nongki, makan siang saja kami di meja masing-masing.
Seperti sekarang, ini hari minggu dan aku harus rela berada di kantor mulai pagi. Sore nanti aku dan Pak Ryan harus sudah berangkat ke Bali. Laporan yang paling urgent aku dahulukan, dan beberapa laporan sementara aku delegasikan.
Tengah asyik bergulat dengan pekerjaanku, suara ketukan pintu mengalihkan fokusku.
"Masuk!" ucapku setengah berteriak.
Sosok Pak Ryan muncul dari balik pintu, dengan gaya yang berbeda. Rambutnya yang biasa klimis berpomade terlihat di terurai, kaos sedikit press body berwarna hitam berpadu denga riped jeans berwarna hitam juga.
"Lembur?" tanyanya.
"I ... iya," jawabku sedikit gugup, entah kenapa.
Dia berjalan ke mejaku, dan menarik kursi kemudian duduk depanku. Tanpa sadar aku masih fokus ke arah Pak Ryan
"Ada apa?" pertanyaannya, seketika menyadarkanku.
"Pangling saja," jawabku.
"Ya udah, lanjutin kerjanya. Kenapa malah bengong?"
"Bapak nggapain di sini?" tanyaku balik.
Mana mungkin aku bisa fokus coba, tak ingin mengakuinya, tapi dia terlihat tampan, dan aku suka gayanya. Huff, ada apalagi ini. Kenapa tiba-tiba ada rasa yang tak biasa, apa aku menyukainya? Ah mana mungkin rasa itu sudah lama hilang dari hatiku.
"Apa aku tak boleh di sini? aku hanya ingin mengawasimu saja," jawabnya.
Apa yang bisa aku katakan lagi, memilih diam lebih baik. Kembali fokus aku arahkan ke monitor didepanku. Mencoba tak menganggap hadirnya, tapi tetap saja tak bisa.
"Aku jemput nanti, kita berangkat bersama ke bandara," ucapnya kemudian. Sejenak kuhentikan aktifitasku.
"Tak perlu Pak, biar saya di antar ayah saya," jawabku, melihatnya sekilas lalu kembali ke layar monitor.
"Bukan tawaran, ini perintah," tegasnya lagi. Dia lalu berdiri, dan keluar tanpa berkata apapun.
Aku masih menatapi daun pintu selepas pria itu menghilang di baliknya. Orang yang aneh, tapi kenapa hatiku terasa bergetar tak biasa. Setelah Mas Dipta aku tak pernah merasakan getaran seperti ini lagi. Tapi pria aneh itu, ah ... entahlah.
Jam satuan, kubereskan mejaku. Aku harus mengecek kembali barang bawaan untuk nanti sore. Setelah berpamitan dengan security yang bertugas hari itu, aku melangkah menuju mobilku. Sengaja aku parkir di sisi gedung, karena memang kosong.
Itu kenapa mobil parkir di tengah, langkahku terhenti. Mobil Pak Ryan menghalangi mobilku untuk keluar. Kuhela nafasku, dan kembali balik arah masuk lobby. Di sekitar masih sangat luas kenapa harus di tengah seperti itu.
"Kuncinya nggak di titip, Bu," jawab Rahmad, security yang bertugas siang itu. Malas sekali rasanya aku ke atas. Akhirnya aku putuskan menelponnya melalui intercom. Tak ada jawaban sampai berulang lagi.
Sebuah pesan aku ketik, dan kukirim padanya. Dibaca, akan tetapi tidak di balasnya. Apa sih mau pria ini, malas sekali rasanya. Bodo ah, aku memesan taksi online dari aplikasi hijau, dan meninggalkan mobilku di kantor.
"Perumahan Griya Dewata ya, Pak," ucapku ke driver, setelah masuk kedalam mobil dan duduk di jok belakang. Mas Driver menjawab iya dengan ramah.
"Dasar keras kepala."
Chat masuk ke ponselku, dari Pak Ryan, apa maksudnya coba. Tadi aku sempat tergoda pesonanya, sekarang malah sebal sekali rasanya. Dasar pria aneh. Aku hanya membaca tanpa berniat membalasnya.
Jam setengah dua aku tiba di rumah, kembali aku mengecek barang bawaanku. Semua sudah aku siapkan. Emh, ada yang lupa, aku takut datang bulan di sana. Walau biasa telat lebih baik aku berjaga-jaga.
"Mam, beli es krim ya," pinta Prilly, aku mengajaknya ke A**amart dekat rumah. Kami pergi mengunakan sekuter matic.
"Sayang, kamu di sini dulu pilih es krimnya, mama mau ambil uang dulu ya," ucapku ke Prilly, dia berdiri di depan freser melihat es krim yang berjajar di dalamnya.
Ada dua orang di depanku, jadi harus mengantri menunggu giliran. Setelah menarik uang dari ATM yang terletak di bagian dalam, aku kembali ke Prilly. Langkahku terhenti, saat kulihat ada sosok tak asing bersama Prilly.
"Om mirip papaku," ucap gadis kecilku dengan mimik wajah ingin menangis. Dadaku bergetar hebat, aku bergeming bersembunyi dibalik rak aneka jajanan.
"Oh ya, memangnya papanya adek dimana?"
"Papa di surga," jawab Prilly, tampak wajahnya memerah.
"Hai, anak cantik jangan menangis. Om belikan eskrim, mau yang mana?"
Prilly mengelengkan kepalanya.
"Kata mama, nggak boleh,"
"Mamanya mana?"
Aku mundur dan bersembunyi dibalik rak. Ku harap Mas Dipta tak melihatku, detak jantungku semakin kencang.
"Ya sudah maaf, Om buru-buru ya, jangan nanggis lagi, anggap saja Om papa kamu,"
Kembali kuintip, Mas Dipta mengusap kepala Prilly pelan, kemudian berlalu. Prilly bergeming memandangi pria yang dia sebut mirip papanya itu. Seketika hatiku bagai diiris sembilu, bahkan dia tak melepas pandangannya sampai mas Dipta masuk ke mobilnya.
Air mataku luruh seketika, apa yang ada dalam benak gadis kecilku itu sekarang. Segera aku mengusap air mataku dan menghampiri Prillyku yang masih terdiam.
"Mama ada papa, ada om mirip sekali dengan papa, Ly rindu papa," ucap Prilly, butiran bening turun ke pipi lembut itu, seketika ku memeluk gadis kecilku itu. Tak perduli beberapa pasang mata melihatku.
"Papa sudah bahagia di surga kan ma?" Bibir mungil itu bertanya di tengah isaknya, aku hanya mampu mengangguk, tak ada sepatah katapun keluar dari bibirku. Rasanya sakit sekali Ya Tuhan, melihat air mata malaikat kecilku itu.
"Sudah, jangan nangis lagi," ucapku, mengusap pipinya yang basah, tangan kecil itu menangkup wajahku, mengusap pelan pipiku yang basah. Kuraih tubuh mungil itu dan mendekapnya erat.
"Mama juga jangan sedih, nanti papa ikut sedih," ucapan prilly semakin membuat sesak dadaku. Aku kehilangan kendali untuk sesaat. Segera kuatur rasaku, menenangkan hatiku.
"Hai, gadis kecil mama mau es krim yang rasa apa?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
Senyum manis terkembang, tangan mungilnya menunjuk beberapa varian rasa. Walau dadaku masih terasa sesak, aku tetap mecoba terlihat ceria. Beberapa jajanan aku tambahkan ke dalam keranjang belanjaan. Setelah membayar kami bergegas pulang.
"Mama, ada tamu," ucap Prilly menunjuk sebuah mobil yang terparkir di depan pagar.