Mulutku sedikit ternganga saat mendengar Pak Ryan menanyakan hal itu. Apa aku tak salah dengar? "Maksudnya?" tanyaku padanya. "Mungkin ini terlalu cepat, tapi seperti yang kamu bilang, sudah tak pantaskan kalau kita hanya pacaran? Aku ingin kita menikah," jelasnya kemudian. "Kau melamarku?" "Entah, aku tak tau apa ini namanya, tapi aku yakin kamu perempuan yang aku cari selama ini. Semua yang ada padamu membuatku jatuh cinta. Tak mudah bagiku mengatakan hal ini, tapi rasa cinta ini membuatku menanggalkan segala ego," "Kita bahkan belum genap tiga bulan mengenal, dan baru dua hari dekat. Pikirkan kembali, pernikahan adalah hal sakral yang mengikat kita seumur hidup, bukan hanya antara kita, tapi semua keluarga kita," ucapku kemudian. "Aku tak ada keraguan atasmu, tapi kamu benar kita

